Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here:
Tamasya ke Puncak Eropa PDF Cetak E-mail
(4 votes)
Saya tertegun di hadapan hamparan salju. Saya melepas kaus tangan dan berjongkok. Perlahan ujung-ujung jari terulur menyentuh lapisan es lembut tersebut. Brrr...sentuhan pertama meluruhkan rasa penasaran yang menggumpal.

Kencan pertama. Saya menyebutnya demikian. Itulah pertemuan perdana saya dengan kristal-kristal es yang putih tersebut. Tempatnya di sebuah dataran serbaputih di hulu Gletser Aletsch, di bawah Jungfraujoch. Letaknya di punggung pegunungan Alpen, sekitar 3.500 meter di atas permukaan laut.

Sudah lama saya tertarik pada dataran tersebut. Tepatnya ketika saya melihat sampul depan Magazin Jungfrau edisi 2008/2009, majalah dwibahasa, Jerman dan Inggris yang saya peroleh dari kantor informasi pariwisata Zurich di Stasiun Utama Zurich.

Sampul itu memajang foto puncak gunung berselimutkan es. Dan di bawah dataran itu terhampar padang rumput hijau. Kuntum-kuntum bunga berwarna kuning menyembul menambah kontras panorama. Aduhai, begitu melihatnya saya memaku tekad untuk mengunjungi tempat yang menghiasi sampul majalah itu.

”O, Jungfraujoch? Anda bisa mencapainya dengan mudah dari semua tempat di Swiss. Letaknya di kawasan wisata Interlaken. Lebih mudah dan dekat dari Bern, sekitar satu jam saja,” kata petugas di kantor informasi pariwisata Zurich.

Jungfraujoch memang berada di wilayah Bernese-Oberland, bagian dari Canton Bern di Swiss selatan. Dari Zurich bisa dicapai sekitar dua jam perjalanan. Menurut sang petugas, ada sejumlah biro travel di Zurich yang menawarkan paket wisata ke tempat yang dijuluki ”Top of Europe” atau ”Puncak Eropa” itu.

Dia kemudian memberi sejumlah brosur mengenai Jungfraujoch yang menyajikan foto-foto menarik. Setengah berkelakar, saya bilang akan datang sendiri ke tempat yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO itu.

Kesempatan itu akhirnya da­tang setelah tugas meliput Piala Ero­pa 2008 berakhir. Sehari setelah Spa­nyol memastikan diri menjadi Euro­meister, saya telah berada di Bern.

Selepas sarapan di hotel, pagi itu saya langsung meluncur ke Stasiun Bern. Sejenak saya sempatkan menge­cek jadwal perjalanan kereta dan memastikan waktu keberang­katan terdekat menuju Interlaken.

Sejurus kemudian, saya telah ber­ada dalam perjalanan. Keluar dari Bern, pemandangan kanan-kiri rel ke­reta adalah pedesaan khas Swiss. Rumah-rumah kayu, jalan raya yang lengang, dan kawanan sapi yang me­rum­put di padang hijau musim panas.

Selepas Thun, pemandangan itu bersalin rupa 180 derajat. Kereta yang berjalan kencang tanpa gun­cang­an menyusuri rute di pinggir Danau Thun. Danau yang disebut warga setempat Thunersee itu terlihat indah dari balik jendela kereta.

Airnya tenang dan kebiruan. Dua kapal uap terlihat berlayar di tengahnya. Mungkin karena hari masih pagi, perahu-perahu dengan layar tinggi masih bersandar di sejumlah dermaga di tepi danau.

Pemandangan semakin indah kala kuda besi yang saya naiki merambat naik ke atas dataran yang lebih tinggi. Thunersee yang teduh seolah-olah karpet biru terbentang di bawah jendela kereta.

Para penumpang di gerbong asyik berbicara dengan sesamanya mengomentari panorama tersebut. Keka­gum­an kami memang sukar disem­bu­nyikan. Namun, saya hanya bisa mengacungkan jempol kanan kepada bapak tua yang duduk persis di depan.

Sedari awal saya berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa isyarat ala Tarzan. Dia tak paham bahasa Inggris, sedangkan saya sama sekali tak mengerti bahasa Jerman. Dari isyarat balasannya, saya tahu dia sepakat tentang Thunersee yang mengagumkan.

Interlaken, secara harfiah berarti ”di antara dua danau”, terletak di antara Danau Thun dan Danau Brienz. Kota wisata itu memiliki dua stasiun kereta, Interlaken West di sebelah barat dan Interlaken Ost di sebelah timur.

Kereta yang saya naiki dengan tujuan akhir Luzern itu berhenti di Interlaken Ost. Hampir seluruh penumpang di gerbong saya turun di stasiun terbesar di Interlaken tersebut. Beberapa di antaranya memanggul papan selancar dengan ransel di punggung.

Interlaken (567 mdpl) memang beken di kalangan anak muda Eropa sebagai ”ibu kota olahraga ekstrem di dunia”. Sejumlah aktivitas olahraga ekstrem seperti skydiving, surfing, bungee jumping, dan paralayang bisa dilakukan di sana. Dari lapangan luas di depan stasiun, saya menyaksikan seorang penerjun melayang-layang dengan parasut lebar di atas pebukitan.

Setelah membeli tiket kereta ke Jungfraujoch, saya sengaja ke luar dari stasiun. Masa keberangkatan kereta masih 15 menit lagi. Masih tersedia waktu untuk melihat sejenak situasi kota. Di luar stasiun terdapat swalayan besar. Beberapa jenis makanan dan minuman pun menambah isi ransel saya.

Pada karcis berharga CHF 600 (sekitar Rp 5.700.000) di tangan saya tak tertera jadwal kedatangan di Jung­fraujoch. Namun, petugas peron te­lah memberitahu bahwa butuh wak­tu sekitar dua jam hingga tiba di pun­cak. Persediaan makanan dan minuman pun penting selama perjalanan.

Rupanya niat saya berbelanja itu tak berbeda dengan turis lain. Swalayan tersebut penuh oleh pengunjung yang bukan penduduk lokal. Terlihat dari tas dan ransel serta perlengkapan ala wisatawan yang mereka kenakan.

Ketika tiba saatnya berangkat, saya kembali memilih tempat duduk di pinggir jendela. Mata tak lepas menatap gunung-gunung bersalju abadi yang tampak menjulang tinggi. ''Alpen, aku datang,'' desis saya diam-diam.

Setelah mendaki melewati Wilderswil, Gsteigwiler, dan Isenfluh, kami berganti kereta di Stasiun Lauterbrunnen (798 mdpl). Dari situ, kereta api yang digunakan khusus beroda gigi (cogwheel). Gerbongnya kuno dengan bangku kayu, persis kereta api dalam film-film tempo dulu.

Meski berdaun jendela lebar, kacanya bisa diturunkan sepenuhnya. Mereka yang membawa kamera tak melewatkan kesempatan itu untuk mengabadikan panorama. Pemandangannya membuat saya kembali memuji kebesaran Tuhan.

Dari atas tebing ratusan meter tingginya, di belakang rumah-rumah kayu berwarna coklat tua, air terjun keperakan jatuh menuju ke dasar lembah. Tak lama berselang, panorama berganti dengan barisan puncak-puncak pegunungan Alpen berselimutkan salju abadi. Turis-turis yang berjalan kaki melakukan hiking menyusuri rute Jungfraujoch melambaikan tangan mereka.

Kereta kemudian berhenti di Sta­siun Wengernalp (1.873 mdpl). Se­jumlah penumpang baru naik, rata-rata turis asal Jepang. Udara semakin terasa dingin bagi saya. Kaus tangan yang semula terlipat rapi di ransel pun membungkus jemari.

Akhirnya: Kleine-Scheidegg. Di stasiun yang terletak 2.061 meter di atas permukaan laut itu, kami ber­gan­ti kereta yang lebih khusus. De­sain interiornya supermodern dilengkapi beberapa monitor televisi. Dari sini, pendakian menuju Stasiun Jung­frau­joch sebagian besar melalui terowongan.

Terowongan yang dibangun 1896-1912 tersebut digali menembus batuan granit Gunung Eiger sepanjang 7,3 kilometer. Waktu tempuh kereta dari Kleine-Scheidegg hingga ujung rel terakhir sekitar satu jam. Terdapat dua pemberhentian di dalam terowongan.

Pada dua stopplace itu, Eigernordwand (2.865 mdpl) dan Eismeer (3.160 mdpl), saya turun. Seperti penumpang lain, tak saya lewatkan kesempatan menyaksikan dinding Eiger berselimut salju dari jendela besar. Jendela memang senga­ja dibikin. Bukan cuma untuk menyaksikan pemandangan, melainkan juga berfungsi sebagai sarana evakuasi bagi pendaki tebing yang mengalami kecelakaan.

Selama di dalam terowongan, film panduan mengenai kompleks wisata Jungfraujoch diputar. Film tersebut disajikan dalam tiga bahasa, Jerman, Jepang, dan Australia. Menyimak penjelasan detailnya membantu menyusun rencana yang akan dilakukan nanti.

Ketika akhirnya kereta berhenti di Stasiun Jungfraujoch (3.454 mdpl), saya benar-benar lega. Niat bersua salju akhirnya tercapai juga.

Menunaikan Misi Bermain Ski

Ada misi khusus yang harus saya tunaikan di Jung­frau­joch. Bermain ski es. Mem­ba­ca Magazin Jungfrau, saya tahu ”Puncak Eropa” itu memiliki arena bermain ski. Keinginan saya meng­unjungi tempat wisata dan stasiun ri­set atmosfer itu pun semakin meng­gumpal.

Keluar dari peron Stasiun Jung­fraujoch, saya langsung mengantre di depan lift. Lift setinggi 108 meter itu membawa pengunjung ke Teras dan Observatorium Sphinx. Obser­va­torium tersebut merupakan titik paling tinggi pada bangunan utama kompleks wisata Jungfraujoch.

Separo kompleks berada di dalam gunung, separonya lagi di atas permukaan. Bangunan utama yang disebut Berghaus memiliki lima lantai, mulai restoran, toko cenderamata, dan observatorium.

Di bawah Berghaus-lah stasiun kereta api berada. Jauh ke dasar gunung lagi adalah Istana Es. Ukiran es dalam berbagai bentuk dan ukuran dipamerkan di sepanjang lorong musium es itu.

Beberapa di antaranya adalah patung sekawanan burung, pinguin, serta beruang es dan anaknya. Kar­ya art carving yang cukup menyita perhatian adalah orang eskimo yang tengah memancing di samping igloo-nya. Di depan igloo, seekor anjing laut sedang berjemur.

Saya tahu bermain ski, tepatnya belajar, akan menghabiskan banyak waktu. Lebih baik menjejakkan kaki terlebih dulu di observatorium, ”sebenar-benarnya Puncak Eropa”. Sphinx, tempat pengamatan atmosfer bumi itu berada di ketinggian 3.571 m di atas permukaan laut.

Beberapa wisatawan tengah ber­fo­to di depan papan termometer saat saya keluar dari lift. Penanda digital menunjukkan suhu udara luar hanya 2,4 derajat Celcius. Tanpa sadar saya merapatkan jaket ke tubuh.

Di luar observatorium, dua tingkat teras pemandangan menawarkan panorama luar biasa. Menatap ke arah timur laut, tampak puncak Gunung Monch. Membe­lakanginya terlihat puncak Jungfrau. Papan gambar yang dipasang di teras menyajikan nama-nama puncak pegunungan Alpen yang menjulang tepat di hadapan papan.

Semua puncak tersebut berselimutkan salju abadi. Hati seketika bergetar diliputi ketakjuban dan ke­kaguman kepada sang Pencipta. Di samping pintu teras terpampang besar-besar, kutipan Injil dalam bahasa Prancis, ”Venez et voyez les ouevres de Dieu (Pergilah dan saksikan karya Allah)”.

Di selatan, bentuk aliran Gletser Aletsch, jelas terlihat berkelok-kelok. Memang tak tampak kristal-kristal es yang bergerak, namun itulah sungai es terpanjang di Eropa, sekitar 23 kilometer panjangnya.

Melongok ke bawah, ratusan turis terlihat seperti titik-titik besar hitam yang bergerombol di dataran putih. Aha, saya seolah diingatkan oleh misi yang harus dituntaskan.

Turun dari Sphinx, saya bergerak pasti menjelajahi terowongan meng­ikuti arah papan petunjuk ”Aletsch Glacier”. Cahaya putih di ujung tero­wongan seolah memanggil-manggil.

Dan di sanalah saya berdiri, di depan hamparan salju putih berpagar gunung-gunung. Setelah menggenggam sejumput kristal es sebagai tanda perjumpaan pertama, kaus tangan kembali dikenakan. Menahan dinginnya udara yang menusuk tulang, merasakan hembusan angin beku yang merajam kulit, kaki terayun mengikuti jalur hiking berbatas tali.Tak seberapa jauh, pengumuman itu jelas terpancang di tonggak. ”Top of Europe Adventure. Ski+Snowboard CHF 33. Including Equipment Rental.” Beberapa orang asyik meluncur dengan ski mereka di bawah sinar matahari yang terik.

Ringan kaki melangkah. Siang itu, sebuah misi akan diselesaikan.

Sumber: SuaraMerdeka

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...


Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:


Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


atau login di liburan.info dan klik menu submit news.


Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
dimax  - Bukit Bintang..   |2009-05-11 09:53:08
ada kah yg pernah tau bukit bintang? teryata di bali juga ada tepatnya ada di bukit jimbara, tempat yg tenang n damai pas buat orang yg sedang patah hati.. hehehehe/...
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 1 tamu dan 2 anggota online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village