Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Indonesia arrow Sumatera arrow Ini Medan, Bung!
Ini Medan, Bung! PDF Cetak E-mail
(3 votes)
Jumat siang. Bandara Polonia. Disambut oleh hujan.Tanah Deli, saya datang! Jakarta-Medan, dua jam di angkasa. Terbang bersama si burung bersayap baja. Tertidur di antara lembutnya awan pagi. Meski si burung terlambat satu jam dari jadwal terbang, akhirnya saya sampai juga ke Tanah Deli ini. “Ini Medan, bung!”, begitu ingat saya.

Bandara Polonia.

Dingin dan gerimis belum berhenti. Sayangnya, kali ini saya salah perhitungan. Tidak akan menyangka akan surprise disambut oleh hujan. Saya lupa membawa jaket berponco. Ugh! Dan sayangnya lagi, entah mengapa, kali ini hujan tidak begitu bersahabat. Dia membuat kepala berdenyut, nyut-nyut-nyut.

Hap-hap-hap.

Secepatnya menarik barang-barang dari bagasi row lalu bergegas ke luar bandara mencari kendaraan. Dan, hap-hap-hap, terduduklah saya di sebuah rumah makan yang sangat sederhana. Rumah makan sop “Sipirok”, namanya. Tapi sangat ramai dikunjungi. Apa sih yang di sajikan oleh rumah makan itu?

Makan apa?

Rumah makan Sipirok menyediakan menu special sop daging. Sop daging di sini adalah daging kerbau, bukan sapi. Dan yang paling istimewa adalah sop tulang sumsum-nya. Awalnya, saya terheran. Waduh, kerbau yah? Secara saya belum pernah menyantap daging kerbau, saya agak khawatir juga. Takut-takut bila daging kerbau tsb tidak sama rasanya dengan daging sapi yang lebih sering saya santap di Jakarta.

Hmm, nyummmi.

Ternyata daging kerbau yang saya santap tsb sama enaknya dengan daging sapi yang biasa saya makan. Dagingnya empuk, dipadukan dengan kuah sop yang kuat bumbu rempahnya, alhasil menjadikan padanan yang sangat sedap sekali. Gerimis dan sop panas? Apalagi namanya kalau bukan :mantap!

Hari pertama sesampai saya di kota Medan ini yang menarik perhatian saya adalah alat tranportasi becak. Becak di sana ada dua macam. Becak biasa dan becak motor atau lebih sering di sebut bentor. Becak biasa dikayuh dengan sepeda dan bentor dijalankan dengan motor. Tapi uniknya, kedua becak tsb tidak sama seperti becak pada umumnya di Jakarta. Becak di sana menyamping. Dengan artian, gerobak becaknya berada di samping sepeda atau di samping motor.

Dan, lagi-lagi, huphuphup!

Terduduklah saya di atas bentor. Berputar-putar mengelilingi sebagian pusat kota Medan. Aah, asik sekali. Tapi bbrrrr, dingin. Karena saya memang sudah kehujanan ketika turun dari si burung bersayap baja. Brrrr, hembusan anginnya kencang sekali. Saya tidak tahan. Tidak dua kali rasanya.

Asik berkeliling dengan becak motor, ada lagi yang membuat saya heran. Ah, kenapa traffic light di sini besar-besar sekali yah bentuknya?

Lalu tiba-tiba si supir bentor menyelutuk, “Jangan heran, di sini semuanya rata-rata buta warna kak”.

Buta warna?

Yah, setelah saya perhatikan. Percuma juga diberikan traffic light yang lebih besar ukurannya dari traffic light di Jakarta, semua pengendara motor tidak ada yang tertib satu pun. Lampu merah, bukannya berhenti malah jalan terus. Bahaya sekali. Maaf yah bang, pantas saja supir metromini di Jakarta semuanya kacau balau. Ternyata memang sudah begitu dari asalnya.

“Lalu, ke mana pak polisi?”

“Nah itulah kak, di sini jarang sekali terlihat polisi di jalan raya karena mereka sudah capek menertibkan lalu lintas”, sambung si supir bentor.
Dan saya tersenyum-senyum saja mendengarkan jawabannya.

Rumah makan Sipirok
Becak motor
Traffic light yang besar
White House –rumah si preman Olo Pangabean
Sun Plasa –mall terbesar di Medan
Pusat jajanan malam Taman Lili Suheri –pusat jajanan dengan makanan khas kota Medan, dimsum, sop langsa, sate, dll.

Itulah Medan untuk di hari pertama saya. Menyenangkan

"Berapa ini satu?"

Pagi hari, hujan masih juga menyambut.

Pagi itu kota Medan jadi terasa lambat dan malas. Tapi saya harus bergerak cepat. Hap-hap-hap, taksi mengantar saya ke Selecta Hall. Di mana saya harus berkutat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan.

Di sini saya mulai membiasakan diri untuk memanggil kaum laki-laki penduduk lokal dengan sebutan abang dan memanggil kaum perempuannya dengan sebutan kakak. Sayapun diberlakukan sama, saya dipanggil dengan sebutan kakak oleh mereka. Dan berusaha mencoba dikit-dikit berlogat batak.

Salah satu supir taksi yang baik hati mengajarkan kepada saya untuk tidak berucap “ini berapa’an bang?” tapi dengan perkataan “berapa ini satu?”

Ha-ha-ha, terlihat mudah memang. Tapi setengah mati saya mencari lafal yang pas di lidah saya untuk logat batak yang lebih terkesan bernada berat itu.

Sembari belajar logat-logat bahasa setempat dengan si supir taksi, saya bertanya-tanya juga di mana saya bisa hunting durian medan yang murah. Bertanya di mana saya bisa membeli kue bika ambon yang katanya khas Medan tsb. Sirop Markisa dan [maaf] beberapa makanan tidak halal.

Malamnya, seusai merampungkan tanggung jawab. Untuk melepas lelah, saya berjalan-jalan menikmati malam minggu di kota Medan, Kesawan Square tujuan saya.

Kesawan Square

Terletak di inti kota yang yang dulu dikenal dengan nama "Kesawan" atau Jalan.Ahmad Yani merupakan daerah pertokoan dan pusat bisnis pada siang hari, dan pada malam hari disepanjang jalan Ahmad Yani ini merupakan tempat berjualan berbagai jenis makanan khas kota medan


Menginjakan kaki di Kesawan square saya merasa seperti berada di kawasan pecinan. Kesawan square lebih banyak menyediakan masakan Chinese khas medan. Dalam artian, banyak pilihan yang tidak halal. Tapi jangan berkecil hati bagi kaum pemakan makanan 100% halal, karena malam itu saya banyak juga menjumpai kaum muslim yang menikmati hidangan di Kesawan square. Karena selain menyajikan makanan Chinese khas Medan, ada juga sate padang, nasi lemak, masakan India, berbagai soto dan masih banyak pilihan lagi di dalam berbagai gerobak makanan sebagai wadah jualan mereka bagi para pengunjung.

Nasi lemak, menjadi hidangan malam saya kala itu.

Selain itu, kita juga dihibur oleh nyanyian karaoke lagu-lagu mandarin yang dinyanyikan oleh kaum etnis tua. Eits! Jangan dulu merasa bosan dengan si penyanyinya yang terlihat sudah tua. Dengar suaranya dan nikmati suasananya.

Dengan ditambah lagi ada sebuah bangunan rumah etnis tua. Dengan pintu gerbang yang besar dan berpintu kayu tua dan dua lampu lampion tergantung menyala indah di depannya. Membuat suasana pecinan semakin kental saja.

Rumah siapa sih?

Ternyata rumah itu adalah rumah bangunan peninggalan Tjong A Fie.

Siapa Tjong A Fie?

Dia adalah Mayor China di Medan, seorang Milioner pertama di Sumatera. Hingga kini namanya terus dikenang di Kota Medan , meski ia sudah meninggal pada tahun 1921.

Pada Tahun 1870 Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian meniggalkan desa Moy Hian, Kanton di daratan China untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di perkebunan Tembakau.

Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis. Pada suatu kesempatan mereka tinggal menetap di ibu kota Labuhan Deli dan membuka kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan kuli-kuli China dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli, sehingga dalam waktu singkat saja ia sudah jadi kaya raya. Keberhasilan usahanya semakin bertambah. Sampai saat ini bangunan tua bersejarah yang berada di areal Kesawan adalah merupakan tempat tinggal keluarga Tjong A Fie dan keturunannya yang pertama kali dibangun di kawasan tersebut.

"Ini baru Medan!"

Istana Maimun
Mesjid Raya
Bangunan peninggalan Tjong A Fie
Gunung Timur temple

Itulah beberapa pilihan untuk saya kunjungi di hari ketiga di kota medan. Danau Toba dan Berastagi terpaksa saya coret dari list perjalanan karena terlalu jauh dari pusat kota.

Lagi-lagi, hujan menghambat langkah saya.

Tidak mau berputus asa, sebagai pilihan pertama, saya mencoba untuk mengunjungi bangunan peninggalan Tjong A Fie. Yang katanya biasa diberlakukan open house.

Aah, sayang sekali, bintang keberuntungan sedang tidak berada di saya. Hari minggu tidak ada open house bagi para pengunjung wisata. Bangunan peninggalan Tjong A Fie hanya dibuka untuk hari Senin sampai Sabtu saja.

Hujan tidak juga reda.

Saya berdiri meneduh di emperan toko masih persis di seberang pintu gerbang rumah Tjong A Fie. Tidak bisa melihat-lihat dalam rumahnya, akhirnya saya hanya menikmati pemandangan luarnya saja. Bangunannya indah. Saya suka pada bentuk pintu gerbangnya. Etnik sekali. Masih terlihat dengan jelas ukir-ukiran khas cina di atas pintu gerbangnya. Dan juga lampu lampionnya. Tergantung anggun, sama seperti di film-film silat jaman dulu. Bahkan, terlihat lebih indah lagi kala malam kemaren ketika saya menemuinya pertama kali, terang menyala di antara lampu-lampu kecil yang menghiasi Kesawan square.

Akhirnya, tidak berhasil melihat-lihat rumah peninggalan Tjong A Fie, saya juga tidak ke Istana Maimun, tidak ke Mesjid Raya dan tidak juga ke Gunung Timur temple. Hujan benar-benar membuat saya malas bergerak. Ah, payah kali kau hari ini!

Akhirnya saya memutuskan untuk hunting oleh-oleh khas medan. Kue bika Julaikha, sirop markisa, teng-teng kacang dan kue tamiang, menjadi buah tangan hasil dari hunting saya siang itu.

Seusainya, saya berpindah tempat lagi dan kini menuju Jalan Pelajar.

Ada apa di Jalan Pelajar?

Ada Bandar durian.

Musim durian telah tiba!

Untuk harga satu buah durian, kita bisa dapatkan dengan harga empat ribu sampai sepuluh ribu saja. Rasanya? Jangan ditanya!

Jangan ragu-ragu menjadikan durian sebagai oleh-oleh keluarga di Jakarta. Mereka menyediakan box-box dalam berbagai ukuran. Ada yang kecil, sedang dan besar. Harga tentu bervariasi sesuai dengan bentuk box. Untuk box kecil mereka mematok harga seratus ribu, box sedang seratus lima puluh dan box besar dua ratus ribuan. Tergantung bagaimana kalian pandai menawar saja.

Selain box, merekapun memberikan jasa gratis mengepak box tsb menjadi rapi, rapat dan sangat kedap udara, agar bau durian tidak keluar membaui lingkungan sekitar. Box digulung rapat-rapat dengan lakban. Setelahnya box dimasukan ke dalam plastic yang telah di isi irisan daun pandan. Setelah itu box tsb dimasukan ke dalam kardus yang juga ditabur oleh bubuk kopi. Hebat!

Pulang tanpa durian medan?

Tidak mungkin rasanya, karena “Ini baru Medan!”

"Mauliate yah mak!", begitu ucap saya sembari melambaikan tangan pada seorang ibu penjual durian di Jalan Pelajar.

[Note: Mauliate berarti terima kasih]

Medan dalam kenangan : 20-23 Juli 2007
Penulis : Vera Ernawati - Jakarta
Sumber : Kompas Community

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...


Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di


sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan


dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung


melalui email:


Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
deddy karokaro  - apalahhh   |2009-03-19 16:04:34
jadi ingat kampung halaman, pengen mau pulang rasanya bahhhh,

saya senyum-senyam sendiri dengan artikel nya, apalagi tentang seputar traffic lights di medan.

betul itu.... saya sendiri jg sering melanggarnya, tetapi itu krn terikut sama lingkungan jg, ntar klu kita terlalu patuh pasti akan dicaci-maki ma sopir angkot,...

jalan kau lae, begitu katanya hahahahah

horas medan
ali   |2009-03-28 21:55:21
emang betul traffic kota medan hancur karena pejabat terkait selalu korupsi .bagai mana tidak contoh kadis hub medan tau apa dia taunya korupsi aja.lampu traffic seperti itu tidak berkualitas saya tau itu karena saya pernah lihat org yg memper baiki , eh besok nya udah rusak
adhit   |2009-03-29 20:05:18
ati_2 ma polisi d mdan...
emank si lalulintas key ga tertib...
pie polisi d mdan ska ngepung n malakin pengendara kndaraan klau terjadi planggaran dngan alasan sdah praturan pdahal mreka mw nyari kuntungan sndiri......
samuel hp   |2009-05-08 12:37:34
sebuah sarana yaang baik guna memajukan sumut saya dukung kamu
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

liburan ke turki murah

liburan pulau macan pulau seribu

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village

Alexa Traffic Stats