Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Indonesia arrow Kalimantan arrow Eksotisme Senja Kota Tepian
Eksotisme Senja Kota Tepian PDF Cetak E-mail
(3 votes)
Berkelok-kelok laju bus antarkota yang saya tumpangi. Di bawah rerimbun tajuk pohon rimba, bus itu pun meluncur menyusuri jalan antara Kota Balikpapan dan Samarinda. Kota Tepian yang unik dan menawan. Memang, kini jalur darat penghubung Balikpapan-Samarinda via Bukit Suharto tidak seseram dan serimbun tahun 1980-1990-an. Jalannya tersebut sudah bertambah lebar dan sudah mulai muncul bangunan atau shelter peristirahatan di pinggir jalan. Meski demikian, jalan berliku menyusuri hutan itu tentu sangat menjemukan bagi sebagian orang. Dalam jarak sekitar 110 km, perjalanan itu terasa begitu lama. Namun bagi sebagian lagi, jalur ini justru mengasyikkan, karena medannya sangat ''menantang''.

Paling tidak, itulah yang saya rasakan ketika ingin menyambangi Samarinda atau Kota Tepian. Mata pun tak dapat terpejam karena tak ingin melewatkan keanekaragaman hayati yang masih tersisa dan terbentang di depan mata.

Memasuki kilometer 50, bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Meski tak mengenakan pakaian adat, mereka adalah orang Dayak yang akan pergi ke kota untuk menjual hasil hutan berupa rotan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mereka memang telah terjamah modernisasi. Celana jins, kemeja, dan kaki yang terbalut sepatu tetap tidak menghilangkan ciri mereka sebagai orang Dayak. Ya paling tidak itu bisa dilihat dari bentuk wajah dan keranjang khas yang mereka gendong.

Setelah 2-2,5 jam perjalanan, mulailah saya memasuki Kota Tepian. Ya, Kota Samarinda yang unik ini memang terdiri atas dua bagian, yakni Samarinda Seberang dan Kota Samarinda. Sungai Mahakam yang begitu panjang dan lebar pun menjadi pembatasnya. Pertama mencapai Samarinda dari arah Balikpapan, tentu bus memasuki wilayah Samarinda Seberang. Kondisi jalan masuk Samarinda Seberang itu sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Kini banyak bangunan baru yang bermunculan di sepanjang jalur itu. Beberapa saat kemudian, terbentang jembatan yang sangat panjang dan megah. Warga setempat menyebutnya Jembatan Sungai Mahakam. Jembatan dengan panjang 400 m, lebar 8 meter serta membentang di atas sungai terbesar di Kalimantan itulah salah satu sarana penghubung antara Samarinda Seberang dan Kota Samarinda.

Sekitar 10 menit kemudian, tepatnya pukul 15.00 WITA, bus antarkota itu pun merayap pelan memasuki Terminal Sungai Kunjang (Sei Kunjang). Di tempat itulah, saya bertemu dengan anak dan istri yang telah menanti beberapa saat. Ditemani buah hati tentu membuat suasana perjalanan menyusuri Kota Tepian menjadi sangat menyenangkan. Terlebih, kami tak perlu repot mencari kendaraan khusus untuk melakukannya. Di sana telah tersedia banyak angkutan kota ke berbagai arah dan tempat tujuan. Cukup dengan Rp 3.500/orang.

***

SAAT itu, kami putuskan kembali ke Jembatan Sungai Mahakam untuk melihat dari dekat dan menikmati suasana senja Kota Tepian. Angkot yang mengantar kami pun berhenti begitu dekat dengan mulut jembatan. Arus lalu lintas keluar masuk jembatan yang begitu padat membuat kami harus lebih bersabar untuk bisa mencapai jembatan tersebut.

Ya, jembatan penyeberangan yang begitu besar itu terlihat gagah. Di samping kiri jembatan tersedia sarana penyeberangan untuk pejalan kaki. Namun kelihatannya sarana itu kurang dimanfaatkan. Kami pun penasaran ingin mencobanya.

Kengerian mulai menyergap saat kami mulai melangkah menggunakan sarana penyeberangan bagi para pejalan kaki. Betapa tidak, jalur selebar satu meter itu berbetuk melengkung sehingga jalur yang kami lalui pun semakin menanjak. Kengerian bertambah hebat ketika banyak kendaraan berat melintasi jalur utama jembatan itu. Ya, jalur bagi pejalan kaki itu bergetar hebat, bak gempa yang terus mengguncang dan tiada henti. Meski kami tahu konstruksi jembatan itu bakal mampu menahan beban yang melaluinya, tetapi ketika merasakan langsung getaran yang begitu hebat itu, nyali kami menjadi ciut juga.

Namun kengerian itu sirna ketika kami sampai di tengah-tengah jembatan dan melempar pandang. Bermandikan sinar mentari sore, kilau cahaya yang memantul dari riak-riak Sungai Mahakam begitu indah. Hilir mudik moda air, baik perahu, kapal, kecil, maupun kapal-kapal barang yang besar, juga menambah anggun mutiara Kota Tepian itu. Bangunan-bangunan yang ada, termasuk dua buah masjid yang berdiri megah, menjadi hiasan khas Kota Samarinda. Ya, kota itu memang tumbuh mengikuti aktivitas transportasi air di sepanjang Sungai Mahakam.

Saat itulah kami melihat area publik area yang begitu luas di tepi Sungai Mahakam. Area tersebut tepat berada di Jalan Slamet Riyadi dan membentang di sepanjang sungai. Kami pun tak berlama-lama berada di tengah Jembatan Sungai Mahakam. Waswas kembali memenuhi hati saat jembatan kembali bergetar.

Di wilayah publik itu, kami menemukan hal yang jauh berbeda dari Kota Semarang. Pemerintah setempat menyediakan berbagai sarana yang bisa diakses warga seperti lapangan sepak bola, shelter tepian untuk bisa menikmati keindahan Sungai, termasuk wahana permainan anak yang beraneka ragam dan dikelola oleh warga (usaha kecil) secara mandiri. Bahkan untuk masuk ke area publik itu, warga tak perlu merogoh kocek untuk membayar tiket. Tentu ini berbeda dari kota-kota di Jawa, termasuk Semarang yang akses publik atas ruang terbuka selalu kalah dengan kepentingan ekonomis. Tempat-tempat strategis dan menarik pun selalu dikuasai oleh swasta.

Tentu saja, suasana ruang publik di sepanjang Sungai Mahakam itu membuat piknik keluarga kami makin mengasyikkan. Si kecil pun riang karena dia bisa bebas meilih berbagai permainan yang tersedia dengan biaya tak mahal. Sebut saja komedi putar, mandi bola, jungkat-jungkit, dan bom-bom car.

Tak terasa Magrib pun tiba. Saatnya berbuka puasa. Kami pun langsung mencari warung makan. Di beberapa sudut area publik, terdapat berbagai penjual penganan. Ada penjual bika Ambon, aneka es, jajanan, dan beberapa masakan khas beberapa daerah. Kami memilih menyantap soto Banjar, makanan khas masakan suku Banjar. Enak sekali, apalagi bila dipadu dengan sate ayam...

Berperahu di Atas Mahakam

Sungai Mahakam yang menjulur sepanjang 920 kilometer dengan hulu di daerah Kutai Barat dan Hilir di Kota Samarinda itu selalu setia dan selalu terbuka kepada kapal apa saja yang ingin menggunakan jasanya untuk mencapai tempat tujuan. Sungai itu menjadi jalur transportasi utama yang bisa menghidupkan nadi perekonomian Kalimantan Timur.

Sebagai penghasil tambang, terutama minyak dan batu bara, Kalimantan Timur tentu berutang banyak pada Mahakam, terutama atas jasanya yang besar dalam memperlancar distribusi sarana produksi hingga hasil pertambangan. Tak, ketinggalan, puluhan ribu kubik kayu juga melaluinya. Ongkos kayu yang dikirim lewat sungai itu tentu lebih sedikit jika dibandingkan pengiriman lewat jalur darat. Tak heran jika, daerah yang berkembang di Kota Tepian justru daerah pinggir sungai. Tentu ini sangat berbeda dari Jawa yang daerah pinggir sungainya justru dianggap daerah yang kumuh karena sungai menjadi tempat pembuangan limbah.

Jadi, kurang afdol jika kita sudah sampai di Sungai Mahakam tetapi tidak menjelajahinya dengan perahu. Hal itulah yang menarik hati saya dan ingin berperahu walau sebentar, untuk melihat dari dekat perkembangan daerah pinggiran Sungai Mahakam.

Dengan mengeluarkan uang yang tak begitu banyak, saya pun mendapatkan perahu yang siap mengantar menyusuri Sungai Mahakam.

Tujuan pertama tentu melihat dari dekat aktivitas warga di sepanjang sungai, termasuk aktivitas para pekerja pelabuhan sandar kapal. Banyak warga, terutama mereka yang tinggal di rumah-rumah panggung di atas sungai, memanfaatkan Mahakam untuk menopang aktivitas dan kebutuhan akan air.

Anak-anak yang tinggal di sana, sangat akrab dengan sungai tersebut. Mereka terlihat senang bermain dan bercanda di atas aliran sungai tersebut. Tak jarang salah satu dari mereka melompat dari rumah dan berenang di arus sungai, yang mungkin bagi kita sangat berbahaya.

Selain permukiman warga yang menjadi atraksi menarik, kini di sepanjang pinggir Sungai Mahakam, terutama yang masuk wilayah Kota Samarinda, mulai bermunculan tempat-tempat wisata eksklusif, baik resto, rumah pemancingan, penginapan, maupun tempat-tempat usaha baru.

Saat ini pun, pembangunan tempat-tempat tersebut masih terus berlangsung. Karena itu, tak heran, jika dalam 3-4 tahun ke depan wajah Sungai Mahakam bakal berubah drastis. Mungkin juga, Mahakam akan menjadi salah satu tempat kunjungan wisata yang tak kalah menarik dari magnet-magnet industri wisata yang telah ada. (M Annas/73)

Sumber: SuaraMerdeka

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...

Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:

Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 23 tamu dan 13 anggota online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
Indonesia Best Web Hosting
Mukena Amaly
The Green Village

Alexa Traffic Stats