Indonesia
Jawa - Bali
Musem Bank Mandiri, Dulu Kantor Sistem Tanam Paksa | Musem Bank Mandiri, Dulu Kantor Sistem Tanam Paksa |
|
|
|
Sisa-sisa kejayaan bisnis zaman kolonial Belanda, terutama pada era 1930-an, masih tergurat jelas di Museum Bank Mandiri di Jalan Lapangan Stasiun Nomor I Jakarta Barat. Sisa kejayaan itu langsung terasa begitu memperhatikan kemegahan gedung museum yang dulunya merupakan kantor Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) atau disebut juga Gedung Dagang Belanda itu.Hanya sayang, kesempatan untuk menikmati keindahan dan kemegahan gedung itu sekarang ini terganggu oleh tumpukan tanah dari hasil galian underpass di depan Stasiun Kota. Gunungan tanah itu persis berada di depan museum meskin tidak sampai menghalangi pintu masuk. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seperti biasa, berkilah bahwa itu merupakan ongkos dari sebuah pembanguan. Itu, katanya, sama seperti kemacetan yang disebabkan oleh proyek pembangunan busway. Ah sudahlah! Orang Pemprov tidak akan hirau apapun argumen Anda.
Rekaman kejayaan bisnis masa kolonial itu lebih terasa lagi saat memasuki lobi. Papan petunjuk dalam bahasa Belanda terpampang jelas di lobi ruangan utama yang merupakan tempat transaksi keuangan. Beragam alat operasional, alat transaksi, produk perbankan, contoh uang serta dokumen pembukuan terpajang di situ. Pengunjung misalnya dapat melihat Groot Boek (Buku Besar) NHM untuk laporan tahun 1933-1937 yang ditulis tangan dengan sangat rapi. Buku itu ukurannya 67x54x13 cm, tebalnya 334 halaman dan bobotnya 28 kilogram. Buku Besar itu digunakan NHM untuk mencatat laporan keuangan yaitu rincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan di setiap akhir bulan, serta laporan keuangan dari agen-agen NHM di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer.
Bangunan tersebut dirancang tiga arsitek Belanda yaitu J de Bryun, AP Smiths, dan C Van de Linde dengan gaya art deco yang masih dipengaruhi gaya klasik. Pola tata ruangnya mengikuti pola street and square pada kota-kota lama di Eropa, di mana gedung-gedung dibangun berkelompok menyerupai pulau yang dikelilingi oleh jalan. Lantai dasarnya dinaikkan setengah lantai sehingga koridor di sepanjang muka bangunan tetap memiliki privasi walaupun bangunan langsung berhubungan dengan ruang publik. Selain itu, ornamen pada dinding terluar mengingatkan orang pada relief bangunan candi walaupun ragam hiasnya adalah pola geometris. Penyelesaian akhir pada bagian atas merupakan penyederhanaan bentuk mahkota. Bangunan empat lantai itu menempati lahan seluas 10.039 meter per segi dengan total luas bangunan mencapai 21.509 meter per segi.
Sekarang bekas kantor pusat operasi sistem tanam paksa di zaman Belanda itu menjadi museum. Museum ini buka pada hari Selasa sampai Minggu dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00 dan tutup pada hari Senin dan libur nasional. Penulis: Egidius Patnistik Add as favourites (27) | Quote this article on your site | Views: 1080 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
|||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|







| Pantai Ujung Genteng |
| waah mantap sekali ini tempat. keb... |
| 21/11/08 09:54 More... |
| By miaz |
| Dreamland Pantai Imp... |
| Hampir tenggelam gue di pantai ini,... |
| 20/11/08 09:07 More... |
| By Abi |
| Candi Songgoriti |
| Sayang ya, candi secantik ini tidak... |
| 20/11/08 08:25 More... |
| By robin |
| Dari Serayu ke Owabo... |
| bbrp kali rafting di serayu..ga aka... |
| 19/11/08 19:25 More... |
| By Evi |
| Pantai Iboih, Surga ... |
| emang benar kalo pantai iboih tu pa... |
| 19/11/08 17:17 More... |
| By Nazaruddin |