Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Internasional arrow Asia arrow Malaka
Malaka PDF Cetak E-mail
(16 votes)
Perjalanan ke Malaka, bagiku rasanya seperti perjalanan ke kampung halaman. Pertama kali aku kesini karena keingintahuan akan kota ini, yang banyak sejarahnya. Dimana juga dari kota ini masuknya berbagai kebudaan ke Asia tenggara. Terutama Christianity. Sehingga aku putuskan untuk kesana, melalui internet aku booking hotelnya. 

Yah hotel pertama yang aku hubungi adalah Hotel Puri, tetapi sayang full booked dan kemudian aku tanya kan apakah ada hotel sekitar, surprise juga ternyata Hotel Puri ini memberikan nomor telp hotel lain, yakni Baba House.  Per kamar per malam itu 55 Ringgit saat itu, sekitar 150 ribu. Aku sengaja mencari hotel di tempat yang mudah untuk kemana-mana dan juga dengan biaya yang cukup murah.

Perjalanan saat itu(Agustus 2004) aku lakukan dari Kuala Lumpur menggunakan bus Transanational, harga per tiket 8 RM sekitar 20 ribu rupiah. Pada perjalanan kedua tahun 2006, tiket seharga 9,5 RM.  Waktu tempuh 1,5 Jam, dan busnya bersih dan nyaman. Sehingga enjoy sekali perjalanan di bus itu. Untuk bus ini, aku pergi ke Pudu Raya, dan disitu banyak sekali bus agent, coba saja cari Transnational, dan juga disini ramai sekali, dan lumayan sumpek saat itu. Terminal ini dari kondisinya sudah cukup tua keliatannya.Dengan membekali dengan sebotol minuman dan roti, menuju bus dan lanjut perjalanan.

Setelah sampai di Bus station di Malaka, itu bisa lanjut dengan taksi atau pun dengan bus umum lagi untuk ke pusat Malaka, tepatnya jalan Tun Tan Cheng Lok, dimana hotel Babahouse ini berada, akhirnya sampai lah aku kesana. Hotel yang sudah tua dan sedang direnovasi. Aku ditempatkan di lantai tiga hotel ini, bersih dan nyaman dengan harga terjangkau. Kemudian bertanya kepada receptionist mengenai kota Malaka ini, dari situ aku dapatkan info untuk mendapatkan map kota ini di tourist center. Ini tepatnya di depan Christ Chruch, gereja berwarna merah, yang juga sebagai symbol kota Malaka ini. Dengan map ini sangat mudah untuk mengenal Malaka.

Pusat Malaka tidak begitu besar, banyak sekali trishaw (becak) yang menawarkan jasa, aku pun mencobanya untuk berkeliling, banyak bangunan aku lewati, dan akhirnya aku putuskan untuk jalan kaki mengelilingi kota ini. Ternyata tidak terlalu besar, dengan mendaki bukit St. Paul, aku sudah berada di puncak dan bisa menyeberang ke bagian lainnya. Sehingga sebagian besar daerah ini sudah aku kenali.

Pagi-pagi sekali kembali aku jalan jalan mengelilingi tempat ini, di depan Christ Church akan kita jumpai sebuah pohon yang menjadi ‘sarang burung’ dimana kalau malam hari semua burung seperti berhenti disitu, dan bernyanyi riang, suaranya sangat nyaring terdengar. Dan memang unik, hanya di pohon satu ini, sehingga suasana pagi hari, kotoran burung penuh membasahi disekitar pohon ini.

Disini ada clock tower, yang mana jamnya itu merupakan pemberian seorang Jepang, dan dibuat tahun 1886 in honour of a successful Chinese merchant named Tan Beng Swee.

Gereja Christ Chruch ini juga sejak tahun 1753. Dengan arsitek khas Belanda dan juga ciri khas adanya glassed tiles berlukiskan ‘Last Supper’. Glassed tiles ini banyak terdapat di Jakarta, saat peninggalan dahulu di beberapa bangunan tua.

Di seberangnya terdapat Standuys seperti Balai Pertemuan, ini dibangun pada tahun 1560.

Dengan menanjak tanggak di Standuys ini menuju ke atas, ku jumpai Bukit St. Pauls, dinamakan demikian karena disini ada Gereja St. Paul. Reruntuhan Gereja Katolik yang tertua ini hanyalah sebuah Chappel saja yang dibina pada tahun 1521 oleh seorang kapten Portugis, Duarto Coelho.Chappel ini ditahbiskan kepada Mary diberi nama 'Nosa Senhora - Our Lady on the hill'. Fr.Francis Xavier melawat gereja ini pada tahun 1545-1553, Jasad beliau dimakamkan disini dan kemudian dipindahkan ke Goa, India. Pada tahun 1548 Chappel ini diserahkan kepada Society of Jesus.

Pada tahun 1556 dibuat tingkat dan dikenal dengan gereja 'Annunciation'. Pada 1590 Dibangun sebuah menara dibagian belakangnya untuk meninjau musuh. Saat Belanda menakluki Malaka 1641, mereka telah menukar ibadat katolik ke protestan. Namanya pun menjadi St.Paul. Pada tahun 1753, Belanda membangun Gereja St.Christ, semenjak ini gereja ini tidak digunakan lagi. Pada pemerintahan Inggris 1810-1811, gereja ini digunakan sebagai penyimpan peluru untuk menyerang Jawa. Namanya diganti menjadi Bukit Bendera karena didirikan tiang bendera disini.

Dari bukit ini aku teruskan ke bawah dan aku berada di A’Famosa. Ini adalah Hallmark kota Malaka. A’famos ini adalahbenteng portugis yang dibangun pada 1511, dan tempat ini mengalami perusakan pada saat Belanda datang, hampir musnah tetapi pada saat Stamford Raffles datang pada tahun 1808, benteng ini dipertahankan sampai sekarang.

Dalam perjalanan pagi itu aku bertemu dengan seorang yg cukup tua, tapi aku salah menyangka umur beliau, aku masih menyimpan kertas bertuliskan namanya, saat dia menuliskan namaku dalam Chinese. Aku pikir dia berumur 65 tahun, ternyata berumur 80 lebih, dan masih sehat berlari, dia ajak aku duduk dan bercerita tentang kota ini.

Pagi itu aku diberinya roti dan sebotol minuman dan mendengarkan kisah hidupnya. Aku masih ingat dia sebut aku sebagai ‘petualang’ karena dahulu jika seseorang datang sendiri ke Malaka itu dianggap pemberani dan petualang. Sayang perjalanan kedua kali kesini, aku mencarinya dengan kertas bertuliskan namanya itu, aku tidak menemukannya, mungkin dia sudah berpulang.

Ku jumpai juga sebuah Mesjid yang dibangun pada tahun 1748, yang dikenal dengan “Kampung Kling's Mosque”.  Kata Kling ini berasal dari “Kalinga”, nama seorang raja di India selatan.  Arsitekturnya campuran dari Portugid dan British sehingga cukup unik.

Malam harinya aku jalan jalan ke Jonker Street, dekat sekali dengan hotel, itu hanya berada beberapa gang dari hotel, saat malam jalanan ini berubah menjadi pasar malam, sangat ramai sekali, beraneka dagangan dijajakan, dan disini kita bisa melihat berbagai kebudayaan juga.

Ku kunjungi juga Hotel Puri, tempat yang penuh dengan history, dan mereka sangat welcome kita datang dan boleh memotret interior dari hotel ini. Dan mereka juga menjelaskan sejarah dari hotel ini, cukup tua dengan penuh photo2 generasi pemilik hotel ini. Dan juga aku rasakan ini suatu hotel yang terbagus di Malaka dan bisa jadi peninggalan sejarah karena kepedulian pemiliknya merawatnya.

Kejadian cukup unik saat aku mencoba makanan disini, ada satu makanan khasnya yang memang terkenal yakni “Chinese rice ball” aku tidak perhatikan namanya, tapi aku hanya pesan karena kebiasaan pesan yakni Chinese rice, maka aku pikir itu hanya kayak nasi hainam biasa di Jakarta. Kemudian makanan itu sampai di mejaku, aku pesan minuman, kelapa. Terus aku berkata dalam hati, wah kok Chinese rice ball disini dikasih juga bakso ikan, padahal aku tidak pesan, sambil terus menunggu kapan nasiku datang, aku melihat-lihat si pemiliknya lagi motongin ayam2nya.

Kemudian si pelayan datang kepadaku, menanyakan apa aku perlu sesuatu, aku bilang mana nasinya yah, dia kemudian dengan senyumnya mengambil sendokku dan memotong si bola bola putih itu, ternyata itu adalah si nasi yang aku tunggu-tunggu. Hahahaa aku tertawa dan dia juga tertawa, itulah si “rice ball”, sesuap demi sesuap wow lezat sekali nasi ini. Tapi ternyata itu bukan yang terlezat dan terkenal di Malaka, dalam trip ke dua aku kesini, aku akhirnya tahu dimana yang paling lezat, itu terletak di akhir jembatan (bawah jembatan) tempatnya tidak begitu besar, dari arah Clock tower (Christ Chruch) ke arah jalan Jonker, dipojokan setelah jembatan itu ada rumah makan ini. Pagi jam 8-9 pun sudah ada antrian, dan ini memang lezat sekali, aku akui ini nasi yang nikmat sekali.

Dalam perjalanan ke dua, aku juga ke Kebun Binatangnya, dengan bus transport yang ada sekitar 1-2 ringgit. Zoonya lumayan bagus. Tapi kalau mau kunjungi Malaka, coba cari tempat di pusatnya.

Pada perjalanan kedua ini aku tinggal di Heeren Inn Hotel.  Karena Hotel Puri dan Babahouse full booked . 68 Ringgit per malam, bersih dan nyaman, ada TV, AC, shower. Bisa telp hotel ini +60 62883600 jika ingin berkunjung ke Malaka.

Jika suka sejarah, datanglah ke kota ini, dan juga banyak warga Indonesia datang kesini untuk berobat, itu dari informasi para pengendara trishaw, mereka cerita sebagian besar dari Medan datang kesini untuk berobat karena murah dan bagus.  Kota ini kecil tapi beragam budaya disini, dan suasananya damai. Dan jalan jalan di lorong2 di kota ini, akan serasa seperti jalan di kota tua Jakarta sekitar kawasan glodok (mungkin ada penulis yang bisa menuliskan sejarah di kota Tua di Jakarta ini).

Penulis : David Wirawan - Singapura
Sumber : Kompas Community

Peta Lokasi :
Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

liburan ke turki murah

liburan pulau macan pulau seribu

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 2 tamu online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village

Alexa Traffic Stats