Kuliner
Wisata Kuliner
Mie Asun Theresia, Jangan Sampai Tak Kebagian | Mie Asun Theresia, Jangan Sampai Tak Kebagian |
|
|
|
|
There are no translations available "Aarrrggghh... habiss... besok!" Begitu gerutuan seorang gadis cilik, siswi SD Theresia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat saat mengetahui persediaan Mie Ayam Asun yang terletak di trotoar pertigaan Jalan Agus Salim dan Jalan Lombok habis. Ia keluar dari gerbang sekolahnya, berjalan di trotoar sambil menarik koper buku, seraya berharap persediaan Mie Asun masih ada. Ternyata 175 porsi stok Mie Asun hari itu sudah ludes pada pukul 12.30.Herman, sang pedagang mie, hanya tersenyum ketika melihat anak itu terus berjalan sambil bersungut-sungut. "Huh! Habis melulu!" katanya sembari lewat. Ia rupanya sudah beberapa kali dikecewakan. Mie selalu habis saat dia bubaran sekolah. Herman setiap kali menjanjikan, "Besok aja, mampir lagi, pasti masih ada." Hari itu, awal November lalu, bukan hanya gadis kecil itu yang tidak kebagian. Puluhan orang lain, umumnya orang-orang kantoran dari sekitar Jalan MH Thamrin dan kawasan Menteng yang datang dengan mobil pribadi juga tidak kebagian mie ayam. "Yah habis ya?" kata seorang perempuan muda yang baru saja turun dari sebuah sedan. Beruntung kami datang lebih awal sehingga masih kebagian. Mie Asun rasa mienya lembut, pangsit serta kuahnya gurih. Selebihnya, hemmm uuenak. Pantas saja orang mengerebutinya. Herman menuturkan, setiap hari dia membawa stok 150 porsi mie dari dapur Mie Asun di daerah Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Kita dagang dari pagi, biasanya sampai jam empat sore sampai persediaan habis. Tapi kadang-kadang habisnya lebih cepat seperti hari ini," katanya. Kenapa tidak tambah porsi? "Kami bisa ambil dari cabang terdekat kalau kehabisan. Di kantin Belarminus biasanya tidak habis. Tetapi memang kadang-kadang seperti hari ini, di Nama Asun, katanya, singkatan dari Anak Sunda. Sang pemilik, yaitu Nisan berasal dari Sunda. Mie Asun berdagang di lokasi itu sejak tahun 1970. Herman merupakan orang ke tiga yang menjalani usaha itu di lokasi tersebut. Berkat kesuksesan di pertigaan itu, Mie Asun kini sudah melebarkan sayap ke tempat lain yaitu di food court mal Ambasador dan kaki Di pertigaan Jalan Lombok dan Agus Salim itu terdapat sekitar 10 pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan makanan, sebut saja tukang es jeruk, tukang gorengan, tahu gejrot, es podeng, kue ape, teh botol, otak-otak, siomay dan tentu saja Mie Asun. Dari pertigaan ke arah utara (Sabang) masih ada sejumlah gerobak lagi. Salah satu yang favorit yaitu es goyang. Satu balok es goyang harganya Rp 1.000. Menurut Ade, sang pedagang es, sehari ia bisa menjual 450 batang. Pilihan rasa esnya terdiri dari berbagai rasa buah seperti kelapa, coklat, dan kacang ijo. Di sebut es goyang karena gerobaknya selalu harus digoyang. "Ini agar uap es (dari es batu) naik sehingga nanti adonan es rasa buahnya jadi beku dan tetap segar," kata Ade ketika menjelaskan mengapa gerobaknya harus selalu digoyang. Setiap hari, kecuali hari Minggu dan libur nasional, dari pagi sampai siang trotoar di pertigaan itu selalu ramai. Kebetulan pula di situ ada pohon yang cukup rindang sehingga orang tidak terpapar langsung sinar matahari. Keramaian memuncak siang hari pas jam makan siang dan bubaran sekolah. Anak sekolah, orang tua murid dan orang kantoran tumpah ke jalan itu. Jalanan pun jadi macet. Maka, tidak heran kalau perputaran uang di situ pun mencapai jutaan rupiah per hari. Mie Asun saja misalnya, setiap hari laku 150 porsi terjual. Dengan harga Rp 8.000 per porsi maka omset Herman sehari mencapai Rp 1.2 juta. Muji, pedagan es jeruk mengatakan, omsetnya sehari mencapai Rp 500.000 sampai Rp 600.000. Sehari ia menghabiskan 40 kilogram jeruk Sementara Ade menuturkan, sehari dia bisa menjual 450 batang es. Satu batang harganya Rp 1000. "Yang 50 batang jangan dihitung karena kalau ada orang beli banyak saya kasih bonus," kata Ade. Meski ada berbagai pilihan jenis jajanan, rasanya primadona daerah itu tetap saja Mie Asun. Makanan lain bisa dibilang hanya sebagai pelengkap atau menu pencuci mulut. Penulis : Egidius Patnistik Sumber : Kompas Peta Lokasi : Salam hangat dari Liburan.Info...Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it atau This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view itSalam Liburan Indonesia...
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|








Pesona Laut Raja Amp...
Paket Raja Ampat - Snorkeling & Light...
Sisa Megalitik Cibed...
cibedug merupakan peninggalan abad 13...
Bangkok itu...
halo - kaks kalo ke mo ke bangkok sel...
Wisata Hutan Lindung...
Tanya kesana, info akomodasi dan lain...
Cendawan Putih Maham...
suka - kalau ingin kesana.. bagi pemu...
Bedugul ...
Bedugul memang keren abis buat libura...