Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Internasional arrow Asia arrow New York van China
New York van China PDF Cetak E-mail
(1 vote)
Kebetulan hari Jumat yang lalu, adalah hari ujian terakhir. Setelah bergelut dengan ujian-ujian yang memenuhi kepala dengan segala hafalan dan tetek-bengek logika, saya dan Ella memutuskan untuk jalan-jalan. Kebetulan juga hari Senin, teman kami Nikolas akan pulang ke Indonesia for good, jadi kami sepakat rame-rame mengantarkan dia naik pesawat dari Shanghai, sekalian jalan-jalan ke New York van China.
Lho, kenapa kok New York? Kok nggak Paris, atau Milan, atau California sekalian?

Soalnya begini, Shanghai yang gedenya sak mbahnya Gaban itu kalau boleh saya bilang memang mirip dengan New York (walaupun yang terakhir ini belum pernah saya kunjungi, agak-agak sotoy dikit nggak apa-apa kan..?) dari beberapa sisi. Misalnya, sebagai kota terbesar di China, Shanghai (selain juga Guangzhou) pada awal abad ke-20 menjadi gerbang masuknya orang-orang asing yang hendak menikmati keindahan dan keuntungan yang bisa dikeruk di Negeri Sejuta Panda ini. Daerah pemukiman warga asing yang disebut The Bund (??, Pinyin: Wài T?n) adalah bukti dari kejayaan Shanghai yang dimulai sejak masa lalu itu. Selain itu, Anda bisa menemukan bursa saham Shanghai Stock Exchange (???????, Pinyin: Shàngh?i Zhèngquàn Ji?oyìsu?) yang kata dik Wiki (dedek Wikipedia maksudnya, soalnya masih kecil udah pinter banget) adalah bursa saham terbesar di China dan ke-5 terbesar di dunia. Bandingkan dengan bursa saham Wall Street di New York. Hampir mirip bukan.

Ya sudah, nggak ngomongin masalah perbandingan lagi, yang penting kita jalan-jalan dulu ke Shanghai. Dari kota tempat saya tinggal (Hangzhou), perjalanan ke Shanghai bisa ditempuh dengan kereta cepat yang hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai ke Shanghai Southern Railway Station (????, Pinyin: Shàngh?i Nánzhàn). Harga tiketnya pun cukup terjangkau, hanya RMB 58 sekali jalan (± Rp 78 ribu, itu kalau Rupiah nggak melemah lagi). Hanya saja, mengingat bahwa negeri yang satu ini penduduknya alamaak banyaknya, kami harus rela berdesak-desakan di stasiun kereta. Untungnya kereta yang kami tumpangi memiliki tempat duduk bernomor, jadi tak perlu khawatir tidak kebagian tempat.

Hari Sabtu (5 Juli 2008), kami berangkat meninggalkan Hangzhou. Berangkat jam 6 sore dengan langit musim panas yang masih cerah, kami hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di Shanghai. Kereta yang lapang, bersih, nyaman, benar-benar membuat kami yang suntuk sehabis ujian jadi seperti dininabobokan. Hanya saja, kebiasaan buruk orang Tiongkok memang susah dihilangkan. Ada yang menjawab ponselnya dengan teriak-teriak, dan ada yang bercakap-cakap tak kalah nyaringnya. Untunglah, kebiasaan buruk yang cukup saya benci – yaitu buang ludah sembarangan – tidak saya temui di situ.

Sebenarnya ada kami berenam yang pergi ke Shanghai: saya dan Ella (pasangan pacaran nih.. hehe..), Paul dan Widya (pacaran juga), Nikolas dan Silvia (yang terakhir ini nggak pacaran kok). Nikolas sudah mem-booking hotel untuk kami di Nanjing Road (???, Pinyin: Nánj?nglù), sebuah jalan pusat wisata belanja di Shanghai yang sengaja ditutup untuk semua jenis kendaraan. Hanya trem motor yang diizinkan melintas di tengah jalan, mungkin untuk mengenang masa lalu jalan ini yang juga dilintasi oleh trem seperti di New York sana (katanya sih...)

Dan perjalanan hari pertama pun kami akhiri dengan tidur bersama. Eits.. Jangan buru-buru piktor. Yang tidur bersama itu cowok-cowok tidur sekamar, sedangkan cewek-cewek tidur di kamar lain. Gitu lho..

Mencari Sesumpit Nasi

Hari berikutnya kami para pria bangun kesiangan. Jam 10 lewat kami baru bangun, dan buru-buru mandi. Kalau tidak, bisa-bisa kami disemprot “para istri”. Setelah berdandan rapi dan wangi, kami pun segera ke tujuan pertama, yaitu sarapan (sekaligus makan siang).

Kami memutuskan untuk jalan kaki saja sambil melewati The Bund. Panasnya udara musim panas cukup membuat kami kelelahan dan kehausan. Berbekal air minum kemasan botol besar, kami pun layaknya musafir di padang pasir yang panas, berjalan menyusuri jalan yang ramai penuh dengan hiruk-pikuk manusia. Nah, sesampainya di The Bund, kami pun “mampir” sebentar di sebuah bank (sambil me-refill dompet, tentunya) yang menempati sebuah bangunan tua (entah tua beneran atau tidak, tetapi dari arsitekturnya mengatakan demikian). “Sekalian numpang ngadem,” pikir kami.

Sayangnya kami tidak boleh mengambil gambar di dalam ruangan bank. Maklumlah, namanya usaha yang mengurusi duit orang-orang se-China, yang namanya keamanan pasti nomor satu. Tetapi mungkin saya bisa bercerita sedikit. Gedung tua itu lebih mirip hotel sebenarnya. Walaupun gedung tua, tetapi sangat bersih dan interiornya indah nian. Dihiasi fresco mirip dengan basilika-basilika di Eropa sono (yang hanya bisa saya lihat gambarnya di artikelnya dik Wiki), semakin membuat saya kesengsem. Apalagi di dalam, AC menyala dengan sejuknya. Membuat kami berenam enggan beranjak dari empuknya kursi sofa di muka kasir. Tetapi the journey must go on, dan kami pun segera melanjutkan perjalanan mencari sesumpit nasi.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan sarapan kami. Hanya makan dim sum (??, Pinyin: di?nx?n) dan lauk dingin (??, Pinyin: l?ngcài) itupun sudah menghabiskan hampir RMB 200. Maklum, restorannya cukup berkelas dan terletak dekat The Bund. Rasa masakannya, ya.. bolehlah! Lumayan.

Ke Taman Yuyuan

Jalan-jalan pun kami lanjutkan, kali ini menuju Yuyuan (??), sebuah kompleks taman yang dikelilingi tempat belanja produk-produk lokal dan suvenir khas China. Tanpa taksi, jalan kaki pun jadi. Hanya saja sekali lagi, panas terik musim panas cukup membuat kami kelelahan.

Sebelum masuk ke Yuyuan, kami mampir dulu di kompleks belanja itu, dan melihat-lihat. Barang-barang yang dijajakan kebanyakan hampir mirip dengan pasar malam di Hangzhou, namun ada beberapa yang berbeda. Ada yang menjual kaligrafi, namun terbuat dari kawat besi yang dirangkai menjadi karakter huruf Mandarin. Anda bisa pesan supaya nama Anda dibentuk menjadi kaligrafi semacam itu, tidak peduli apakah Anda punya nama Tionghoa atau tidak, sang penjual bisa “memilihkan nama” buat Anda, yang bunyinya mirip-mirip dengan nama Anda. Ada lagi yang menjual patung lucu, dengan wajah sesuai dengan si pemesan. Masih banyak pula yang lainnya, namun tidak saya sebutkan satu-satu di sini (soalnya saya pun nggak beli, maklum kocek terbatas).

Akhirnya sampailah kami di Yuyuan. Tiket masuk dihargai RMB 30 per kepala. Ketika masuk ke dalam, secara tidak sengaja kami berpapasan dengan rombongan tur dari tanah air. Wah, senangnya bisa kembali mendengar cuap-cuap dalam bahasa yang familiar di telinga.

Setelah itu, kesempatan tidak kami sia-siakan. Segera ambil kamera, dan jeprat-jepret layaknya fotomodel dan fotografer terkenal. Maklum karena kami “banci kamera”, kesempatan bergaya di depan kamera pun kami manfaatkan dengan baik.

Yuyuan adalah sebuah kompleks taman yang tidak terlalu luas sebenarnya. Ada banyak bangunan rumah bergaya arsitektur khas China, dengan ruangan-ruangan yang masih ditata sebagaimana layaknya rumah-rumah jaman kekaisaran dulu. Ada ruang belajar, ruang tamu, kuil, dsb. Yang membuatnya menarik adalah taman yang ditata sangat indah, dengan kolam ikan dan sungai-sungai kecil yang dihiasi pepohonan rindang dan hutan bambu di kiri-kanannya. Saya dan Ella pun berpose ala pre-wedding, hanya saja jadinya malah agak aneh. Hehe..

Ke Gereja

Jam di tangan Silvia pun menunjuk ke angka 4, saatnya saya berempat (bersama Nikolas, Paul dan Widya) memenuhi kewajiban mingguan, yaitu ke gereja. Widya dan Paul yang sering ke Shanghai bilang kalau kami wajib ke Katedral St. Fransiskus Xaverius di Shanghai, yang juga jadi tahta Keuskupan Agung Shanghai. Selain bisa mengikuti misa, kami juga bisa menikmati keindahan dan keagungan gereja katedral yang dibangun dengan gaya Gothik, dan mendengarkan alunan merdu choir gereja yang juga menyanyikan lagu-lagu Gregorian.

Kami pun naik taksi menuju ke katedral. Hanya menghabiskan RMB 25, kami sampai tepat di depan gereja. Tangan pun sudah gatal, tak sabar menghunus kamera di saku celana. Jepret sana, jepret sini, untuk mengabadikan kenangan indah itu. Hanya saja, kami tidak boleh memotret di dalam lingkungan gereja. Jadilah kami harus puas dengan hanya mengambil gambar di luar pagar gereja.

Masuk ke dalam gereja, sejenak kami lupakan hiruk-pikuk dunia. Setelah mengambil tempat, kami pun segera menghanyutkan diri dalam khusyuknya peribadatan, dan larut dalam doa. Saat komuni (pembagian roti) berlangsung, koor gereja melantunkan lagu “Ave Maria” dengan musik yang sangat syahdu dalam tangga nada minor, sampai membuat bulu kuduk saya merinding, dan mata berkaca-kaca. Saya pun mengambil ponsel, dan merekam lagu yang indah itu. Sayangnya, saat saya mencoba memutar kembali rekaman itu, hasilnya tidak seberapa bagus. Tidak seindah musik aslinya.

Misa kudus berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu kami segera pulang ke hotel. Tiba-tiba, saat sedang bercengkerama di depan gereja, kami disapa dua orang gadis menggunakan bahasa Indonesia. Ternyata rekan setanah air. Yani dan Fani namanya, mereka sedang berwisata di Shanghai, dan sudah ada di kota itu sejak tanggal 3 Juli. Kami pun berkenalan dan segera akrab. Maklumlah, rindu tanah air. Topik pembicaraan kami pun segera mengarah ke kebiasaan buruk orang Tiongkok yang kami temukan. Mereka mengeluhkan rendahnya disiplin orang Tiongkok dalam mengantri. Setiap kali mengantri, pasti ada saja orang yang dengan cueknya menyela antrian, dan ketika ditegur, mereka malah balik memaki. Akhirnya, yang menegur pun memilih diam daripada bertengkar. “Beda budaya,” kata saya pada mereka.

Menikmati Indahnya Malam Shanghai

Bersama dengan Yani dan Fani, kami berenam menumpang subway untuk sampai ke stasiun People’s Square (????, Pinyin: Rénmín Gu?ngch?ng) yang terletak dekat Nanjing Road untuk menjemput Ella dan Silvia yang tadi tidak ikut ke gereja, dan lantas bersama-sama ke The Bund untuk makan malam dan berkeliling naik kapal di atas sungai Huangpu (???, Pinyin: Huángp?ji?ng). Sayangnya, Fani dan Yani yang sudah kelelahan lantas minta pamit, dan memilih menghabiskan malam untuk berjalan di sekitaran Nanjing Road. Setelah mengucapkan “sampai jumpa”, kami pun berpisah.

Jadilah kami berenam (saya, Ella, Paul, Widya, Nick dan Silvia) menumpang taksi untuk sampai ke dermaga kapal di tepi sungai Huangpu. Saya, Ella dan Silvia naik taksi terpisah dengan tiga teman lainnya. Sesampainya kami bertiga di dermaga, jam sudah menunjukkan pukul 8.30 malam. Hanya tinggal satu trip terakhir untuk malam itu. Setelah membayar tiket kapal RMB 80 per kepala, kami pun duduk-duduk menunggu di tepi dermaga, sambil potret sana potret sini, dan tak lupa potret diri sendiri. Setelah menunggu lama (satu jam lebih), kami pun diantar naik ke kapal. Sampai di atas kapal pun kami masih menunggu hampir setengah jam sebelum kapar membongkar sauh. Namun, penantian kami worthy kok, setelah itu kami dimanjakan dengan pemandangan malam yang indah dari The Bund yang terkenal itu, sambil menyaksikan tingginya menara Oriental Pearl Tower (?????, Pinyin: D?ngf?ng Míngzh?t?) yang tersohor itu, sampai dijadikan maskot dari Shanghai sendiri. Kami pun berkesempatan menyaksikan dipadamkannya lampu-lampu menara pukul 10.30 malam. Secara garis besar, naik kapal malam itu menurut saya adalah yang terindah yang saya rasakan selama di Shanghai.

Orang Udik Naik Maglev

Paginya, kami pun bersiap mengantarkan Nikolas yang hendak naik Garuda Indonesia untuk pulang ke Jakarta. “Nggak afdol kalau ke Shanghai nggak naik Maglev,” kata saya. Sudah jauh-jauh ke Shanghai, kenapa tidak sekalian naik “kereta peluru” ini? Apalagi di Indonesia belum tentu dalam 10 tahun ke depan bisa kita jumpai. Kebetulan juga, rute Maglev ini menuju ke bandara Pudong Int’l Airport, sekalian mengantarkan Nikolas lah.

Sebelum sampai ke stasiun Maglev yang ada di Longyang Street (???, Pinyin: Lóngyánglù), kami harus menumpang kereta subway jalur 2 dari People’s Square. Setelah itu, kami harus merogoh kocek RMB 80 untuk tiket Maglev bolak-balik (kalau hanya satu kali perjalanan cukup membayar RMB 50). Hanya untuk duduk selama 7 menit 38 detik sih, sebenarnya.

Namun perjalanan itu sungguh berkesan. Dengan kecepatan maksimal 431 km/jam dan stabil di angka 430 km/jam, kereta Maglev memang cepatnya bak naik peluru. Selain itu, kabinnya ditata seperti kabin pesawat, dan AC di dalam sungguh sejuknya. Maklum, namanya orang udik, kesempatan seperti itu sungguh jarang bisa kami rasakan. Untuk itulah, kamera pun harus selalu siap.

Ketika turun dari kereta pun “keudikan” kami masih tidak bisa hilang. Kami pun bergantian berpose di depan moncong lokomotif Maglev, sampai-sampai petugas penjaga platform hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah kami. “Untung wajahnya mirip Jay Chou,” kata Silvia.

Naik Maglev mengantarkan Nikolas ke bandara menjadi hal istimewa terakhir yang kami lakukan di Shanghai. Kami pun meninggalkan Shanghai pukul 4.45 sore, menumpang kereta cepat ke Hangzhou. Sambil membawa setumpuk kenangan, terlintas di benak saya, kapankah ada kota di Indonesia yang bisa semaju dan seindah Shanghai? Ah, yang penting sekarang menyiasati harga BBM yang terus naik, dan menjaga supaya negeri kita tercinta selalu aman, damai dan tenteram untuk kita tinggali bersama, ya toh?

Michael, Hangzhou, 9 Juli 2008

Penulis : Michael - Hangzhou, Zhejiang
Sumber : Kompas Community

Peta Lokasi :

Add as favourites (28) | Quote this article on your site | Views: 405 | Cetak | E-mail

  Be first to comment this article
RSS comments

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Pesan Hotel Real Time di Seluruh Dunia

Pesan Disini !!!

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 3 tamu online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Komentar Terahir

Pantai Ujung Genteng
waah mantap sekali ini tempat. keb...
21/11/08 09:54 More...
By miaz

Dreamland Pantai Imp...
Hampir tenggelam gue di pantai ini,...
20/11/08 09:07 More...
By Abi

Candi Songgoriti
Sayang ya, candi secantik ini tidak...
20/11/08 08:25 More...
By robin

Dari Serayu ke Owabo...
bbrp kali rafting di serayu..ga aka...
19/11/08 19:25 More...
By Evi

Pantai Iboih, Surga ...
emang benar kalo pantai iboih tu pa...
19/11/08 17:17 More...
By Nazaruddin

Rekan Liburan.Info

Tukar Link dan Promosi Website, Webkios Direktori gratis untuk promosi dan tukar link website indonesia dengan berbagai macam kategori. Tambahkan website anda sekarang.

Alexa Traffic Stats