Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home
Objek Wisata Baru Pascabencana PDF Cetak E-mail
(2 votes)
Bencana alam yang melanda negeri ini seperti gempa, tsunami, dan gunung meletus semula dituding pembawa petaka saja. Puluhan ribu nyawa manusia melayang berikut harta yang tak terhitung besarnya. Bahkan sejumlah objek wisata ikut hancur karenanya. Padahal pascabencana, muncul objek-objek wisata baru. Fenomena itu akhirnya menyadarkan kita, bahwa sesungguhnya bencana alam itu pun membawa anugerah.
Kalau kita berpikir selalu dari sudut negatif, beberapa bencana alam yang pernah terjadi di sini, pastinya hanya membawa derita yang tak berkesudahan. Padahal kalau kita berpikir dari sisi positif, bencana alam bukan hanya sebatas "teguran" dari Sang Pencipta akibat prilaku manusia yang semakin jauh dari Tuhan dan kerap memperlakukan alam semena-mena agar sadar dan tergerak hatinya untuk kembali ke jalanNya serta bersahabat dengan alam.

Pun ternyata bencana-bencana alam tersebut membawa anugerah berupa munculnya obyek-obyek wisata baru yang menyuntikan semangat hidup baru, memberikan lapangan pekerjaan baru dan pendapatan, serta sebagai simbol peringatan agar tidak mengulangi prilaku keliru yang sama.

Obyek-obyek wisata baru pascabencana itu antara lain Monumen Krakatau di Teluk Betung-Lampung, Masjid Baiturahim di Ulee Lheue-Aceh, Lava Tour di Gunung Merapi-Yogyakarta, Ketep Vulcano Center di Kabupaten Selo, Rumah Dome, dan Museum Gempa di Yogyakarta.

Khusus Jelajah Utama edisi ini, Travel Club (TC) mengupas obyek-obyek wisata baru pascabencana tersebut dari hasil liputan langsung di sejumlah tempat mulai dari Aceh, Gunung Krakatau-Lampung sampai Gunung Merapi-Yogyakarta.

Obyek wisata pascabencana pertama yang TC kunjungi adalah Monumen Krakatau yang terletak di Taman Dipangga (Dipangga's Park) kawasan Kupang Kota, Teluk Betung, Lampung. Monumen berupa pelampung (buoy) ini berada di sebuah taman, tepat di depan kantor Polda Lampung. Buoy ini semula berada di Pelabuhan Teluk, akibat terbawa tsunami yang dipicu oleh ledakan Krakatau yang sangat dasyat, Senin pagi 27 Agustus 1883 silam. Buoy ini terdampar di Teluk Betung beberapa kilometer dari lepas pantai. Tingginya sekitar 1,5 meter dengan diameter berkisar 2 meter.

Di Taman Dipangga, pelampung besi itu ditempatkan di atas monumen segi delapan. Beberapa sisi monumennya terdapat relief bergambar letusan Gunung Krakatau dan para nelayan yang mengungsi dengan menggunakan rakit sederhana. Suasana tamannya cukup asri, ada beberapa pohon dengan batang berukuran besar, rantingnya bercabang-cabang, dan daunnya rindang. Sebelum disemayamkan di tempatnya sekarang, rambu laut berwarna perak dengan lampu merah di atasnya ini pernah berpindah tempat. Pelampung besi serupa juga ditemukan di Kelurahan Sukaraja, Bandar Lampung.

Monumen Krakatau ini kerap didatangai wisatawan yang sedang berwisata di Lampung, khususnya di Teluk Betung. Biasanya kunjungan wisatwan ke monumen ini bertambah saat digelar acara Festival Krakatau setiap 27 Agustus, bertepatan dengan lutusan dasyat gunung tersebut.

Karena belum puas, TC kemudian bergerak menuju Gunung Anak Krakatau melihat langsung kondisi terakhirnya pascaerupsi Oktober 2007 lalu. Ternyata tubuh gunung ini semakin tinggi dibanding 3 tahun lalu sewaktu TC mendakinya untuk kali pertama. Gunung yang muncul akibat letusan dasyat Karatau 1883 itu justru kian ramai dikunjungi wisatawan minat khusus dan peneliti.

Para penyelam pun rajin menyelami perairan di sekitar Karakatau untuk menikmati sekaligus meneliti terumbu karang dan formasi laharnya yang mengeras di dasar laut pascaletusan besar itu. Bahkan pada Festival Krakatau Agustus tahun lalu, para atlit olahraga dirgantara asing maupun mancanegara melakukan atraksi terbang di atas puncak gunung Anak Krakatau dengan berparalayang.

Melihat sejarah dan nama Krakatau yang mendunia, ditambah anaknya yang "bandel" karena kerap meletus dan tubuhnya semaking jangkung, wajar kalau kehadirannya bukan semata obyek wisata baru pascaerupsi maha dasyat, melainkan menjadi maskot sekaligus andalan pariwisata bagi Lampung.

Masjid & Kapal di Ulee Lheue

Puas menyaksikan tingkah si-anak bandel di perairan Selat Sunda, TC kemudian bergerak ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). TC mendatangi Pantai Ulee Lheue yang menjadi salah satu lokasi terparah akibat tsunami 26 Desember 2004 lalu. Daerah itu berjarak sekitar 5 Km dari Blang Padang. Dulu merupakan kawasan elite di pusat Kota Banda Aceh. Di pantai ini, TC melihat monumen peringatan tsunami yang menjadi pertanda bencana, kini malah menjadi obyek wisata.

Di pantai itu, TC juga mengunjungi Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Masjid Baiturrahim ini merupakan satu-satunya bangunan di pinggir Pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh kendati dihantam gempa dan tsunami. Padahal bangunan-bangunan lainnya rata dengan tanah.

Selanjutnya TC ke Mesjid Rahmatullah Lampuuk di Desa Lampuuk Aceh Besar. Desa Lampuuk terletak sekitar 14 Km dari pusat Kota Banda Aceh, lokasi Lokasi mesjid ini agak ke dalam dari jalur kendaraan umum Banda Aceh - Lamno (Aceh Jaya). Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari Kota Banda Aceh. Anda dapat menjangkaunya dengan kendaraan pribadi ataupun taksi. Kondisi jalannya relatif cukup baik beraspal hot mixed. Kendati beberapa bagian dari dinding mesjid ini rusak, namun secara keseluruhan mesjid yang dibangun pada awal 1990 ini masih berdiri tegak hingga sekarang.

Di kawasan pantai itu pula, tepatnya di Kampung Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh, TC melihat sebuah PTLD Apung berbobot 200 ton yang terseret tsunami sejauh 4 kilometer, 4 tahun silam. Gelombang dasyat itupun menghempas Kapal Besar tersebut sejauh lebih kurang 3 Km dari pesisir pantai. Kapal besar di tengah kampung tersebut pun menjadi obyek baru bagi wisatawan yang bertandang ke Tanah Rencong. Letaknya hanya sekitar 2 Km dari pusat kota, dan untuk menjangkaunya kendaraan umum seperti taksi atau becak mesin dapat menuju ke sana. TC pun mendatangi monument peringatan 'Kapal di Atas Rumah' di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kapal tersebut terbawa tsunami lalu terdampar di atap perumahan penduduk

Lalu dengan taksi, TC mengunjungi Kuburan Massal korban gempa dan tsunami di daerah Lam Baro. Lokasinya di tepi jalan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, kira-kira 12 Km dari pusat Kota Banda Aceh. Tercatat 46.718 korban tsunami dikubur di sini.

Untuk mengenang bencana dasyat yang melanda NAD, Pemerintah Kota Banda Aceh khususnya mempertahankan saksi-saksi bisu tsunami tersebut sebagai obyek wisata tsunami yang kemudian banyak dikunjungi wisatawan.

Rumah "Teletubis" Domes

Setelah menyaksikan dan mendata obyek-obyek baru pascabencana di Pulau Sumatera, terutama Lampung dan NAD, TC bergerak ke tanah Jawa, tepatnya ke Yogyakarta dan Jawa Tengah bersama rombongan Fam Tour yang diadakan oleh Direktorat Usaha Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerja sama dengan Java Promo, pertengahan Mel lalu.

Setelah diguncang gempa yang mengejutkan warganya, di daerah istimewa ini muncul obyek wisata baru, antara lain rumah domes dan museum gampa. Domes merupakan salah satu bentuk rumah baru di Indonesia yang unik. Desainnya terilhami rumah Suku Eskimo yang berbentuk domes/kubah/ bulat. Konon katanya desain tersebut anti gempa bumi dan tahan badai topan. Bentuknya yang bulat membuat rumah ini dijuluki rumah teletubis. Karena bentuknya yang unik itulah warga sekitar bahkan wisatawan yang bertandang untuk melihatnya. Rumah teletubis ini berada di Dusun Sengir, Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman.

Rumah ini dibangun untuk pengungsi korban Tanah Ambles di Nglepen akibat gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006 lalu. Oleh karena itu komplek rumah domes itu disebut Domes New Nglepen yang dibangun dari bantuan luar negeri yakni WANGO (World Association Non Goverment Organization), lembaga non pemerintah di Amerika Serikat.

Rumah-rumah domes dibangun di atas tanah seluas 2,8 hektar. Jumlah bangunannya ada 80, terdiri atas 71 rumah hunian, 6 MCK, 1 mushola, I TK, dan 1 bangunan Polindes.

Di seberang komplek rumah teletubis ini rencananya akan dibangun Museum Gempa Prof. Dr. Sarwidi yang akan menempati bekas lahan perkebunan tebu. Museum gempa ini rencananya bakal diisi dengan bermacam koleksi antara lain foto-foto bencana gempa dan peralatan pemantau gempa. Kehadiran museum ini, bakal menjadikan kawasan komplek rumah teletubis ini semakin menarik dan lengkap sebagai obyek wisata baru pascagempa Yogyakarta.

Lava Tour Merapi

Masih dalam rangkaian kegiatan Fam Trip, TC dan rombongan bergerak menuju Kaliadem untuk berwisata lahar (lava tour) bekas erupsi Gunung Merapi beberapa waktu silam. Dari penginapan Rumah Jawi di Kaliurang, TC dan rombongan menggunakan kendaraan kereta mobil menuju Kali Adem. Di perjalanan, Christian Awuy (64) yang memandu rombongan mengajak kami menyaksikan penambangan pasir di Kali Kresek yang dilakukan oleh penduduk sekitar. Dari bibir tebing, dengan mats telanjang terlihat jelas puluhan truk yang hilir mudik mengakut pasir dan batu bekas muntahan Merapi di sungai tersebut. Bahkan puluhan orang terlihat jelas sedang menggerus tebing dan bukit pasir hingga semakin menganga. "Kondisi ini sudah berlangsang cukup lama. Banyak penduduk sekitar yang semula petani, dan peladang berganti haluan menjadi penambang pasir dan batu karena dirasa lebih cepat mendatangkan uang," jelas Christian.

Matahari pagi belum begitu terik ketika kami tiba di kawasan Lava Tour, Kali Adem. Ini merupakan kunjungan TC ketiga kali ke lokasi ini. Setibanya di sana masih terlihat bangkai beberapa rumah yang terkubur lahar Merapi, termasuk bunker yang menewaskan dua orang saat tragedi itu berlangsung, dan plank putih bertuliskan "Dilarang Menambang Tanpa Izin". Di kawasan ini ada beberapa warung sederhana yang menjual aneka makanan dan minuman sederhana dan pedagang souvenir berupa kaos bertuliskan erupsi Merapi, foto-foto Merapi sebelum dan sesudah meletus serta rangkaian bunga kering antara lain bunga edelweiss yang diambil dari lereng-lereng Merapi oleh warga setempat sambil mencari kayu dan rumput.

Menurut Christian, akibat letusan Merapi tersebut, jalur pendakian ke Puncak Garuda, Gunung Merapi lewat jalur Kali Adem tak bisa digunakan lagi. Namun berkah lain justru datang, beberapa pihak menjual paket wisata lava tour. Kalau kits berkujung sendiri tanpa membeli paket lava tour, pengunjung hanya membayar tiket

Sumber: Majalah Travel Club
Add as favourites (33) | Quote this article on your site | Views: 894 | Cetak | E-mail

  Komentar (1)
RSS comments
1. Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 15-09-2008 16:00
menarik juga, ternyata dibalik bencana terdapat banyak hikmah y, bisa ni bwat bahan tugas kuliah he..he.. :)

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Artikel Liburan Terbaru
  • Pause
  • Previous
  • Next
1/5
Gunung Sibayak, Tanah Karo Sampai saat ini sepertinya Gunung Sibayak tidak akan habis-habisnya didaki oleh pencinta alam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Pada hari-hari tertentu lokasi wisata penuh petualangan ini seperti layaknya pasar malam. Lautan manusia tumpah bersama lampu, lilin yang memancarkan keindahan ketika malam hari. Deru angin yang dingin menambah pesona Gunung Sibayak bertambah menarik untuk dikunjungi.
Selengkapnya...
               

Guide Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Pesan Hotel Real Time di Seluruh Dunia

Pesan Disini !!!

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Komentar Terahir

Pantai Ujung Genteng
waah mantap sekali ini tempat. keb...
21/11/08 09:54 More...
By miaz

Dreamland Pantai Imp...
Hampir tenggelam gue di pantai ini,...
20/11/08 09:07 More...
By Abi

Candi Songgoriti
Sayang ya, candi secantik ini tidak...
20/11/08 08:25 More...
By robin

Dari Serayu ke Owabo...
bbrp kali rafting di serayu..ga aka...
19/11/08 19:25 More...
By Evi

Pantai Iboih, Surga ...
emang benar kalo pantai iboih tu pa...
19/11/08 17:17 More...
By Nazaruddin

Rekan Liburan.Info

Tukar Link dan Promosi Website, Webkios Direktori gratis untuk promosi dan tukar link website indonesia dengan berbagai macam kategori. Tambahkan website anda sekarang.

Alexa Traffic Stats