Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Indonesia arrow Jawa - Bali arrow Berbagi Kisah Istana Bogor
Berbagi Kisah Istana Bogor PDF Cetak E-mail
(28 votes)
Mengunjungi museum atau bangunan tua mungkin sudah biasa. Tapi kalau ke Istana Presiden jelas beda. Apalagi kalau istana tersebut mash berfungsi sebagai tempat peristirahatan sekaligus kantor presiden, seperti halnya Istana Kepresidenan Bogor. Wah, jelas itu termasuk kunjungan langka.

Istana Bogor berada di kaki Gunung Salak, tepatnya di tengah Kota Bogor, Jawa Barat. Komplek istana ini terletak di atas tanah seluas 28,8 hektar. Halaman istana ditumbuhi aneka pohon besar merindangi rerumputan hijau yang membentang luas. Di halamannya hidup bebas ratusan ekor rusa yang jumlahnya kian membengkak dari waktu ke waktu.

Setibanya di istana indah ini, kami langsung memasuki dalam istana dengan dipandu Endang Sumitra, staff penyuluhan Istana Bogor. Kami berkumpul di serambi muka Gedung Induk yang ditopang beberapa pilar besar. Seluruh peserta tekun mendengarkan penjelasan Endang Sumitra.

Sebelum masuk, rombongan dipecah menjadi dua kelempok agar lebih mudah diatur dan dapat menangkap penjelasan dari pemandu. Setiap kelompok dipandu oleh unit penyuluhan atau petugas pemandu istana. Puas memotret ruang dalam, saya langsung menuju halaman istana untuk memotret taman berikut patung-patung yang ada di sekitarnya serta keseluruhan gedung istana dari kejauhan. Saat asyik mengabadikan gambar, petugas menghampiri kami dan melarang memotret patung-patung dari dekat. Beberapa rekan mendatangi kios cinderamata. Sayang tak ada pin istana, cuma ada t'shirt, jam dinding dan bingkai foto bertuliskan Istana Bogor serta beberapa stiker.

Sebelum pulang, kami sempat berbincang dengan Cecep Koswara, salah seorang unit penyuluhan yang sudah hampir 10 tahun bekerja di Istana Bogor. Menurut Koswara, anggapan ke Istana Kepresidenan sulit, itu tidak benar. "Cukup kirim proposal ke Istana Negara di Jakarta, pergi secara rombongan dan berpakaian sopan serta gratis lagi," terangnya.

Bekas Pesanggrahan

Wilayah Bogor, pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral G W Baron Van Imhoff saat mengadakan inspeksi ke daerah Cianjur, Jawa Barat pada 10 Agustus 1744. Van Imhoff menganggap daerah temuannya itu sangat cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan. Maklum ketika itu, Batavia (Jakarta pada masa pendudukan Belanda) sebagai pusat pemerintahan mulai dirasakan panas kendati penduduknya belum sepadat saat ini.

Akhirnya pada 1745, Van Imhoff memerintahkan untuk membangun sebuah gedung yang sekarang ini dikenal sebagai Istana Bogor. Ketika dibangun, hanya berupa pesanggrahan yang modelnya meniru gedung Blenhiem Palace, tempat kediaman Duke of Malborough (nenek moyang Diana, Putri Wales) yang terletak di dekat oxford, Inggris. Pesanggrahan itu diberi nama Buitenzorg yang berarti bebas masalah atau kesulitan. Nama tersebut mencakup perkampungan di sekitarnya.

Sejak berdiri sampai sekarang, bangunan Buitenzorg mengalami beberapa kali dipugar akibat perang, bencana dan penyesuaian terhadap perkembangan jaman. Pada 1750-1754 pesanggrahan ini mengalami kerusakan berat akibat serangan pasukan yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang.

Lalu oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel diperbaiki kembali dengan tetap mempertahankan bentuknya semula, sebab anggota Dewan Hindia menasehatkan agar bentuknya tidak boleh diubah mengingat bangunan Buitenzorg adalah replika dari Istana Blenhiem.

Pada masa Gubernur Jenderal Willem Daendels yang berjuluk Tuan Besar Guntur (1808-1811) memimpin, ia menambah gedung di sebelah kiri dan kanan gedung induk, sedangkan gedung induk dijadikan dua tingkat. Untuk mengisi kekosongan halaman bangunan yang luas, dipelihara enam pasang rusa yang didatangkan dari perbatasan India dan Nepal. Rusa-rusa itu terus bertambah banyak, jumlahnya kini ratusan ekor.

Ketika Inggris berkuasa, Wakil Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafless memugar bangunan ini, terutama bangunan besar di tengah yang oleh Daendels digunakan sebagai gudang penyimpanan bahan bangunan. Rafless juga menata ulang kebun halaman di sekitarnya menjadi taman model Inggris.

Saat Belanda berkuasa kembali, Istana Buitenzorg mengalami renovasi besar-besaran. Misalnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) membangun menara di tengah-tengah gedung induk. Halaman yang mengelilingi bangunan istana dijadikan sebagai kebun percobaan untuk penyelidikan tanaman tropis dari dalam dan luar negeri.

Lalu pada tanggal 18 Mei 1917 kebun percobaan tersebut diresmikan menjadi Kebun Raya, yang sekarang dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Pendirinya Prof. C.G.C Reinwardt yang ketika itu menjabat Direktur Urusan Pertanian, Kerajinan dan Ilmu Pengetahuan di Hindia Belanda. Gempa bumi, 10 Oktober 1834 menghancurkan sebagian besar kebun dan bangunan tersebut.

Tahun 1850 Gubernur Jenderal Duy Mayer van Twist merubuhkan bangunan lama dan membuat bangunan baru satu tingkat dengan gaya bangunan Eropa abad 19. Selain itu ditambah dua jembatan penghubung antara gedung induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri, namun akhirnya berubah fungsi menjadi koridor. Pemugaran bangunan ini baru sempurna pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud de Montanger (1856-1861).

Pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Gubernur Jenderal Tjarda van StarkenborghStachower merupakan orang terakhir yang menempatinya sampai tahun 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang atas Indonesia.

Sejak itu, istana ini diserahkan kepada Jenderal Imamura. Selama dikuasai Jepang, istana ini jarang digunakan sebagai tempat pesta atau upacara, bahkan harta peninggalan para Gubernur Jenderal Belanda berupa cenderamata dari beberapa raja Jawa, diantaranya keris emas bertabur intan habis disita tentara Jepang.

Usai Perang Dunia II, Jepang takluk dengan sekutu. Pada saat itulah sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) menduduki Istana Buitenzorg dan berhasil mengibarkan bendera merah putih. Tapi tidak berlangsung lama, mereka kemudian diserbu tentara Gurkha hingga terpaksa hengkang. Baru pada tanggal 31 Desember 1949 istana diserahkan Belanda kepada pemerintah RI dalam keadaan kosong, hanya tinggal enam buah cermin besar dan dua patung dada yang terletak di serambi belakang gedung induk.

Pemerintah Indonesia mulai menggunakan Istana Bogor pada Januari 1950. Pada 1952 ada sedikit penambahan di bagian depan induk berupa emperan yang ditopang oleh sepuluh pilar bergaya Ionic, menyatu dengan serambi muka yang juga disanggah enam pilar bergaya serupa. Anak tangga yang semula setengah lingkaran berubah bentuk menjadi horizontal.

Karena kerap digunakan untuk acara-acara kenegaraan yang kerap didatangi tamu-tamu penting, maka sejak 1954 dibangun paviliun I sampai V seluas 2.363 m persegi yang letaknya terpisah dengan istana. Paviliun II pernah ditempati Soekarno dan Ibu Hartini. Tahun 1964 dibangun lagi sebuah paviliun seluas 500 m persegi yang juga terpisah dari istana dan diberi nama Diah Bayurini yang digunakan Soeharto berserta keluarga saat berada di Bogor.

Bangunan utama Istana Bogor adalah Gedung Induk yang di dalamnya terdapat Ruang Garuda, Teratai, Film, Perak, Kerja, Makan, Pantri dan beherapa ruang tidur serta ruang induk yang terdapat di sayap kanan maupun kiri. Selain itu terdapat bengunan pendukung herupa perkantoran, poliklinik, pergudangan, pos jaga, ruang serba guna, museum dan heberapa paviliun. Istana induk sayap kiri memiliki luas bangunan 325 m persegi. Bangunan ini kerap dipakai sebagai tempat menginap para menteri. Di dalamnya terdapat enam buah kamar tidur, satu ruang pertemuan dan satu ruang konferensi.

Sampai sekarang, Istana Bogor berfungsi sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden. Beberapa peristiwa penting dan bersejarah pernah terjadi di istana ini antara lain Konferensi Panca (lima) Negara pada 28-29 Desember 1954 yang merupakan lanjutan di Colombo sebagai persiapan Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, lalu pembahasan masalah konflik Kamboja yang dikenal dengan JIM pada 25-30 Juli 1988 serta pertemuan APEC pada 15 November 1994.

Dulu Istana Bogor hanya diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan dan pesta para Gubernur Jenderal kemudian menjadi tempat acara kenegaraan dan penting lain bagi para petinggi negara termasuk presiden dan jajaran menteri, kini seiring masa keterbukaan, Istana pun terbuka untuk umum.

Masyarakat dapat berkunjung dan diperbolehkan melihat langsung beberapa ruangan di dalamnya. Namun untuk itu, masyarakat perlu mematuhi persayaratan yang berlaku. Meski pengunjung tidak bisa bermalam di Istana Bogor, rasanya cukup puas bisa mengambil gambar atau berpose bersama dengan latarbelakang istana sebagai tanda bukti kita sudah menginjakkan kaki di kantor sekaligus kediaman orang nomor satu di negeri ini.

Sumber: Majalah Travel Club


Peta Lokasi :
Comments
Search RSS
Ruslan Andy Chandra   |2008-09-07 15:06:56
Tulisannya bagus...

Namun ada pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Jenderal Imamura dkk, masih menyimpan barang-barang yang disita dari Indonesia?

Bagaimana reaksi Indonesia dengan benda-benda bersejarah milik Indonesia di luar negeri?

Salam hangat, RAC
novi   |2008-11-26 12:54:31
aq dari istana bogor truz hubungan pacaran kami putus . apa bener mitos istana bogor dg putus
novi   |2008-11-26 12:54:31
aq dari istana bogor truz hubungan pacaran kami putus . apa bener mitos istana bogor dg putus
AKL  - Mr   |2009-05-01 21:04:05
tulisan yang menarik...cuma rasanya kok agak mengganjal ya dengan isi kalimat yg menyatakan "Wilayah Bogor, pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral G W Baron Van Imhoff saat mengadakan inspeksi ke daerah Cianjur, Jawa Barat pada 10 Agustus 1744".

Padahal daerah tersebut sejak tahun 1400 sudah ada saat Pakuan masih berdiri...sejak kejatuhannya oleh pasukan Banten yg notabene masih segaris dan satu turunan dari Prabu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih sering kita sebut Prabu Siliwangi...
Tiurma   |2010-01-29 14:38:37
Yth. Bapak/Ibu
Berhubung dengan Karyawisata siswa/i SD Kristen SoliDEO pada tanggal 29 Maret 2010. Kami akan mengadakan kunjungan ke Istana Bogor. namun kami tidak menemukan nomor yang dapat kami informasikan mengenai kedatangan kami. Untuk itu kami sanagt mengharapkan informasi dari Bapak/Ibu.

SD Kristen SoliDEO
021 5382312
liburan.Info   |2010-02-01 13:52:24
avatar Kalau ke istana bogor sih langsung saja kesana, tanpa pemberitahuan juga nggak papa kok.
Serra   |2010-02-15 10:32:29
Terimakasih atas tulisannya, sangat membantu sekali, kebetulan saya banyak berhubungan dengan orang asing yang ingin lebih mengenal sejarah indonesia, Istana Bogor mungkin akan menjadi tujuan saya untuk memperkenalkan Indonesia.Dan informasi untuk mendatangi langsung ke lokasi bisa langsung datang adalah info yg sangat jelas. Thanks.
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

liburan ke turki murah

liburan pulau macan pulau seribu

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 2 tamu online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village

Alexa Traffic Stats