| Pontianak, Dulu & Kini |
|
|
|
Page 1 of 2 There are no translations available Jalan-jalan ke Kota Pontianak, bukan hanya menyusuri Sungai Kapuas. Masih banyak hal menarik yang bisa kita lakukan, seperti menapak tilas bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari wajah lama kota ini. Wajah lama kota yang dibangun 23 Oktober 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrachman Alkadrie ini berada di kawasan Kampung Dalam Bugis (kini Tanjung Pura), Kecamatan Pontianak Timur.
Lokasinya sekitar 100 Meter dari Sungai Kapuas Kecil. Disana terdapat bangunan tua bernilai sejarah yakni Keraton Kadriah atau juga dikenal Istanah Kadriah. Jaraknya sekitar 1 Km dari pusat kota dapat dijangkau dengan mobil atau menyeberangi Sungai Kapuas dengan sampan maupun perahu bermotor. Keraton Kadriah pertama kali dibangun oleh Sultan Pontianak keenam, Sultan Syarif Mohamad Alkadrie pada 1923. Beliau memerintah 1895-1944. Keraton ini berdiri di atas tanah seluas 9.800 meter persegi. Bangunannya terdiri atas pendopo, balai, dan 8 ruang utama. Meski sudah uzur, bangunan keraton ini masih kokoh dan berarsitektur unik. Bahan utama bangunannya dari kayu belian atau ulin. Atapnya dari sirap bercat warna kuning dan krem. Di atap depannya bertuliskan "Istana Kadriah" dalam bahasa Arab. Di dalam keraton ini tersimpan beberapa benda bersejarah peninggalan sang sultan antara lain pakaian kesultanan dari sultan-sultan yang berbeda, tahta kesultanan, tongkat penobatan, meriam, dan ranjang tidur antik. Yang paling menarik singgasana sultan yang berwana kuning keemasan dan cermin seribu wajah berukuran besar. Pengunjung yang datang tak dilarang memotret di depan singgasana sang sultan.Di depan Keraton ada dua meriam kuno berusia ratusan tahun. Sedangkan di halaman keraton terdapat sebuah tiang bendera yang terbuat dari ulin dilengkapi pengerek. Beberapa tahun lalu, di dekat tiang, bertengger Perahu Lancang Kuning, perahu asli khas Kalimantan Barat yang tak berfungsi lagi. Perahu tersebut dulunya pernah digunakan sultan berlayar. Sebelum mernasuki keraton terdapat gapura sebagai pintu masuk. Bentuknya melengkung seperti masuk benteng-benteng gaya Eropa. Kusen pintunya dari kayu ulin. Di atasnya terdapat sebuah ruangan yang dulunya sebagai tempat prajurit keraton bertugas mengamankan keraton. Atap gapura berbentuk limas dari bahan sirap. Di depannya terdapat sepasang meriam. Para Sultan Kadriah dan keluarganya dimakamkan di Pekuburan Batu Layang. Kompleks pemakaman ini dinamakan Makam Kesultanan Pontianak, lokasinya 5 Km dari pusat kota yang dapat dicapai lewat darat ataupun Sungai. Sekitar 200 Meter dari keraton terdapat Masjid Keraton yang kemudian disebut Masjid Jami Pontianak. Masjid ini berdiri dipinggir Sungai Kapuas Kecil. Keunikannya, seluruh bangunannya terbuat dari kayu dengan dikelilingi pagar besi bercat kuning dan hijau. Masjid antik ini menjadi objek wisata bersejarah yang saling berkaitan dengan Keraton Kadriah. Dua peninggalan kesultanan yang pernah berkuasa di Pontianak ini menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pontianak. Paras Kota Pontianak kini jelas berubah, seiring pertambahan populasi penduduknya. Pemukiman padat terlihat di sekitar tepian Sungai Kapuas dan pusat kota. Beragam bangunan modern seperti mall dan hotel, kantor pemerintahan dan perusahaan swasta terus berkembang di dalam kota. Sementara industri pengolahannya di Kabupaten Pontianak.Kalau ingin menikmati beragam koleksi bersejarah lainnya, kita bisa mengunjungi Museum Negeri Propinsi Kalbar di Jalan Jendral Ahmad Yani, Pontianak. Museum ini terbagi atas tiga ruang pamer. Ruang pengenalan memamerkan koleksi geologi, pertambangan, foto-foto situs dan artifak di Kalbar. Selain itu bermacam koleksi arkeologi, historika berupa pakaian raja, bangsawan dan lainnya. Di ruang Etnografi terdapat koleksi etnografi Suku Dayak dan Melayu antara lain peralatan rumah tangga dan kesenian. Sedangkan di ruang keramik bermacam keramik dari China, Thailand, dan keramik lokal. Jantung Ekonomi Berkunjung ke Kota Pontianak kurang lengkap kalau belum menyusuri Sungai Kapuas. Kita bisa menggunakan biro perjalanan yang menjual paket menyusuri sungai ini atau menyewa perahu bermotor. kalau dengan agen perjalanan menggunakan kapal wisata, berangkat dari dermaga Kampung Beting tak jauh dari Masjid Jami. Kapal wisata ini berkapasitas 50 orang, menyusuri Sungai Kapuas selama 2 jam. Melewati kawasan perdagangan Kapuas Besar yang merupakan pusat perekonomian tertua di Pontianak dan tepian Alun Kapuas sebagai pusat perdagangan modern. Dari atas kapal kita bisa melihat aktivitas masyarakat yang tinggal di perkampungan air, ada yang mandi, mencuci, dan hilir mudik sampan serta perahu lain.Sungai Kapuas dengan dua anak sungainya yakni Sungai Kapuas Kecil dan Landak merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 Km dan lebarnya 400-700 Meter. Aliran yang dapat dilayari sepanjang 800 Km atau hingga ke Kabupaten Kapuas Hulu. Sungai Kapuas dengan dua anak sungainya membelah Kota Pontianak menjadi 3 bagian, yakni Pontianak Barat dan Selatan, Pontianak Timur, dan Pontianak Utara. Keberadaan Sungai ini sangat penting bagi Pontianak khususnya dan Kalbar umumnya sebagai pusat jalur perdagangan dan transportasi kota bahkan provinsi. Boleh dibilang menjadi jantung perekonomian bagi Pontianak. Ada dua jembatan yang membentang di atas Sungai Kapuas dan Landak. Jembatan Kapuas sepanjang 410 Meter dibangun tahun 1983, menghubungkan Pontianak Selatan dengan Timur. Sedangkan Jembatan Landak sepanjang 319 Meter menyambungkan Pontianak Timur dengan Utara. Mobilitas kendaraan darat dan manusia yang lalu-lalang dikedua jembatan ini cukup padat, terutama pada pagi dan sore hari. Pejalan kaki dan pengendara sepeda berjalan di jalur khusus yang terletak di kiri-kanan jembatan. Tips PerjalananLepas dari Bandara Supadio, kita langsung menuju pusat Kota Pontianak yang berjarak sekitar 17 Km untuk mencari penginapan. Tak sulit mencari penginapan di kota BERSINAR alias Bersih, Sehat, Indah, Aman, dan Ramah ini. Ada hotel mewah hingga penginapan kelas melati. Udara di Kota Pontianak, terlebih pada siang hari cukup menyengat. Mungkin konsekuensi akibat dilalui garis khatulistiwa. Suhu dan temperaturnya lebih panas dibanding Jakarta meski curah hujannya cukup tinggi, rata-rata pertahun antara 2000-3000 mm terutama pada Oktober dan November. Waktu kunjungan yang tepat ke Kota Pontianak, saat penyelenggaraan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK). Biasanya berpusat di jalan raya depan Alun Kapuas. Dalam FBBK ditampilkan berbagai atraksi seni budaya beragam etnis yang menetap di Pontianak dan beberapa kabupaten yang ada di Kalbar. Sumber: Majalah Travel Club Peta Lokasi : Add as favourites (35) | Quote this article on your site | Views: 1121 | Print | E-mail
|
||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







| Tips dan Trick ke Si... |
| WAH TIPS NYA KEREN YA W PERNAH KE S... |
| 01/12/08 16:50 More... |
| By RIZKI |
| Gendang Beleq Lombok |
| :) :grin 8) :p ;) :zzz :sigh ... |
| 01/12/08 15:49 More... |
| By ZZZZZZZZZZZZZZZ.......... |
| Gendang Beleq Lombok |
| :( :zzz |
| 01/12/08 15:48 More... |
| By ZZZZZZZZZZZZZZZ.......... |
| Baturaden |
| semoga aja baturaden jadi obek wisa... |
| 01/12/08 13:31 More... |
| By nalita |
| Makam Sunan Gunung J... |
| Tolongin dong !!! gimana caranya bi... |
| 01/12/08 12:54 More... |
| By win's |