Indonesia
Java - Bali
Cinta Abadi Surya Kencana | Cinta Abadi Surya Kencana |
|
|
|
|
There are no translations available Aliran hangat membanjiri hati dengan memori. Setiap pohon dan setiap lambaian daun, setiap rekah bunga dan setiap suara satwa, bahkan hembusan angin dan vibrasi bumi saat telapak memijak, semua seolah menyapa rindu, "Dari mana aja? It's been a long time..."Dua puluh satu tahun lalu, this used to be my playground. Taman bermain yang selalu sukses melenyapkan resah gelisah, nyaris setiap akhir pekan. Usia saya baru 16 tahun dan Taman Nasional Gede-Pangrango, yang saat itu hanya dikenal sebagai Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl), jadi tempat menumpahkan energi menyebalkan setelah seminggu bergumul dengan kimia, fisika dan pelajaran lainnya. Kala teman-teman sebaya menghentakkan kaki di lantai dansa atau jalan jalan sore di Jl. Melawai Raya, saya lebih suka menyatu dengan elemen-elemen alam di kawasan Cibodas ini. Dan menjadi salah satu elemennya. 21 tahun sudah. Jemu merayakan hari kasih sayang dalam gemerlap kota, kini saya kembali ke Gunung Gede bersama suami. Berusaha membagi cerita bahagia masa remaja dengan dia yang tak pernah menginjakkan kaki di gunung manapun juga. Berusaha menyatukannya dengan alam yang telah mengajarkan saya tentang cinta dengan cuma-cuma. Mengajarkan kemuliaan Tuhan tanpa perlu buka buku agama. Merasakan sentuhan kasih abadi-Nya tanpa berpandu Kitab Suci. Inilah Valentine yang sesungguhnya. Pos TNGP - Air Terjun Cibeureum + 2,6 Km21 tahun silam, pos TNGP hanya sebidang bangunan jelek yang dijaga satu orang, kadang dua. Namun kini, gubuk jelek itu ternyata telah dibangun menjadi sebuah pondok kecil yang nyaman, bersebelahan dengan dinding bertegel hitam dan bertulisan "Taman Nasional Gede-Pangrango". Beberapa langkah dari situ, terdapat sebuah taman kecil dengan beberapa pondok tertata rapi. Inilah pusat informasi bagi para pendaki. Dari sini, pendakian dimulai santai, melalui jalan setapak beralaskan batu-batu sungai yang sengaja dibuat landai. Tak sadar saya tersenyum, sampai disikut suami, "Ngapain sih senyum-senyum sendiri? Kesambet?" Saya tambah tersenyum. "Anggap perjalanan ini sarana meditasi," jawab saya padanya. Dan saya bercerita... 21 tahun yang lain, saya menangis beberapa ratus meter menjelang puncak. Nyaris menyerah. Dan seorang senior pendaki mengajarkan saya untuk meresapi tiap langkah. Mendengarkan suara angin di pepohonan, nyanyian burung, aliran air, gemerisik dedaunan, termasuk mengamati setiap daun kering yang jatuh ke bumi. Menyerap energi dari semua makhluk hidup yang ada di sini. Dari situlah kekuatan datang. Tak perlu jalan cepat-cepat. Jadikan setiap balutan kain di kulit menjadi bagian dari kulit itu sendiri. Jadikan tas ransel di bahu menjadi bagian dari berat badan sendiri. Jadikan jasad ini bagian dari alam. Saya pun mencapai puncak. Keampuhan nasehat itu sudah saya buktikan dalam tiap perjalanan, berat maupun ringan. Nasehat ini saya bagi dengan suami, sebelum dia kepikiram untuk menyerah. 21 tahun memori kami tapaki dalam 1 jam, hingga gemuruh Air Terjun Cibeureum berdentam di hadapan mata. Tumpahan megah dari ketinggian sekitar 50 m menghantam bebatuan, tak henti, tak kenal lelah. Dan dia pun ikut tersenyum sendiri, persis orang kesambet... Air Terjun Cibeureum - Sungai Air Panas + 1,3 Km 21 tahun kenangan terurai. Tanjakan yang harus dilalui mulai menampakkan sudut-sudut terjal, walau masih tetap cukup landai dengan batu-batu besar berserakan di sana sini. Saya teringat kata-kata sahabat saya saat itu, "Batu besar enggak boleh disia-siakan." Maksudnya, saat badan belum 'panas', kita jadi cepat lelah. Batu-batu besar itulah tempat istirahat yang paling ideal. Perjalanan pun jadi sering terhenti untuk menenangkan senggal napas di batu-batu. Namun saat nasehat meditasi tadi mulai 'bekerja', justru kami jadi malas berhenti. Istirahat terlalu lama malah mengacaukan ritme. Tak terasa, 2 jam kemudian, kami tiba di sungai kecil yang airnya mengalir tenang. Cepat-cepat kami membuka alas kaki, lain merendam tungkai letih itu dalam airnya. Aaah... hangat merayap, memijat-mijat, lenyapkan lelah. Saya bersandar di bahu suami. "Sungai Air Panas ini is my private spa," tutur saya padanya sembari memejamkan mata. Sungai Air Panas - Kandang Badak + 1,3 Km21 tahun mengendap dalam dada. Berdegup jantung dibuatnya. Perjalanan masih manageable, tak terlalu ringan, tapi juga tak terlalu berat. Namun, saya tahu persis apa yang menghadang. Kandang Badak adalah 'batas' perjalanan yang santai ini. Setelah itu, tanjakan-tanjakan terjal dengan sudut 45 hingga 60 derajat harus dilalui sampai ke puncak. Karenanya, di sini kami istirahat agak panjang membuka bekal makan siang, lalu tidur-tiduran dan menghimpun tenaga. Kandang Badak - Puncak Gunung Gede + 3 Km 21 tahun ternyata lama ya? Walau sering gengsi untuk diakui, bila bagaimana kami tidak lagi berusia 16 tahun... Dan kenyataan ini amat terasa saat kami berusaha memanjat tiap tanjakan, bertumpu pada akar-akar pepohonan untuk mengangkat badan. Perlahan menghadapi tantangan dalam diam, menyimpan keluhan dalam hati saja. Biar cuma Tuhan yang mendengarnya. Kawasan ini dulu punya gelar di antara anggota klab pencinta alam saya. "Tangga Uyo", begitu namanya. Karena Uyo adalah teman saya yang tinggi jangkung, dan rasanya hanya dia yang bisa melalui tanjakan gila ini dengan melangkah biasa seperti naik tangga, tanpa harus bergelayutan seperti kera. Di sinilah saya dulu menangis kelelahan. Dan kenangan ini kembali membuat saya tersenyum sendiri, memberi kekuatan ekstra. Saya semangati suami sambil meraih akar pohon berikutnya, tetap berupaya mencapai puncak. Setelah 2 jam lamanya, barulah puncak gunung menyeruak, memamerkan kebesaran Tuhan berupa panorama tiada tara. Puji Tuhan... Puncak Gunung Gede - Alun-Alun Surya Kencana + 1 Km21 tahun bukan angka belaka. Perjalanan ke Alun-Alun Surya Kencana, dengkul ini mulai protes. Pegal dan kaku, seolah menolak untuk melangkah lebih jauh lagi, padahal jalannya menurun dan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun taburan bunga-bunga edelweiss yang menghiasi keseluruhan lembah yang amat luas ini segera membuat kami memarahi dengkul dan memaksanya untuk menurut. Surya Kencana yang cantik adalah tempat kami berkemah malam ini, di antara bunga abadi lambang cinta. Di sini, kecupan lembut suami, dekapan dan rengkuhan mesra mendadak punya makna yang suci, bukan sekedar nafsu duniawi. Di Surya Kencana, janji sehidup semati jadi punya arti. Happy Valentine, my love... Segala yang telah disatukan Tuhan, pantang dipisahkan oleh manusia... Balai Taman Nasional Gede-Pangrango Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan JI. Raya Cibodas, Cipanas Cianjur, Jawa Barat Sumber: Majalah Tamasya Peta Lokasi : Add as favourites (24) | Quote this article on your site | Views: 684 | Print | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
|||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







| Danau Toba, Bidadari... |
| :cry ,,aq jga sbagai orang btak cdi... |
| 23/11/08 12:01 More... |
| By devi |
| Gunung Bromo |
| Kalo punya info ke bromo berangkat ... |
| 23/11/08 10:09 More... |
| By yana |
| Menunggu Paket Wisat... |
| pengen banget maen ke situs majapah... |
| 22/11/08 22:19 More... |
| By sasongko w |
| Kompleks Candi Dieng |
| gw dan kel punya rencna ke dieng...... |
| 22/11/08 22:18 More... |
| By tutibono |
| Upacara Kematian di ... |
| kadanG kt tRllu meMaksakAn acaRa ra... |
| 22/11/08 18:52 More... |
| By ne' nober |