03 Days Singapore Free & Easy
![]() Rp.2.477.750 Add to Cart |
10 Days Eastern Europe TourBy China Airlines
![]() Rp.20.738.300 Add to Cart |
06 Days Shenzhen - Hongkong - Macau Tours By Viva Macau
![]() Rp.5.871.800 Add to Cart |
| Mendalami Wayang Potehi |
|
|
|
Wayang kulit purwa, golek, dan wayang orang mungkin sebagian besar orang sudah mengenalnya sebagai kesenian tradisional khas Indonesia, khususnya masyarakat Jawa dan Sunda, Tapi kalau wayang potehi, mungkin belum semua orang mengenalnya. Kenapa bisa begitu dan seperti apa wayang satu ini?Di sudut lantai dasar Mal Ciputra, Jakarta, sejumlah orang tua- muda berkumpul di depan panggung berwarna merah. Panggungnya berbentuk rumah dengan dinding berwarna merah berhias dua naga. Di tengah dinding ada ruang semacam jendela berwarna merah dengan list berwarna hitam bertuliskan huruf Cina. Di dalam ruang itu ada dua buah pilar yang masing-masing dililit naga. Di bagian bawah jendela tersebut juga terdapat ukiran kayu bermotif dua naga. Siang itu, sejumlah pengunjung mall di Jakarta Barat ini perhatiannya tersedot oleh bentuk panggung yang didominasi warna merah marun tersebut. Kendati di atas panggung tersebut sudah tertulis jelas pertunjukan wayang potehi, namun hampir sebagian besar pengunjung yang datang saat itu, tidak mengenal baik wayang yang dimaksud. Sewaktu TC meliput pertunjukan tersebut, beberapa pengunjung saling bertanya mengenai keberadaan wayang tersebut. "Wayang apa yah ini, sepertinya dari Cina," kata Weni, mahasiswi salah satu perguruan swasta di Jakarta. Tina, rekan Weni cuma menggelengkan kepala, tanda dia pun tidak mengetahui wayang yang akan mereka tonton.Begitupun dengan Liana, ibu dua anak keturunan Tionghoa yang mengaku baru kali ini melihat wayang potehi. "Jujur, saya tidak tahu kalau wayang ini masih kesenian masyarakat keturunan Cina di Indonesia. Makanya saya mau lihat karena penasaran," jelasnya kepada TC sebelum pertunjukkan wayang tersebut dimulai. Tak lama kemudian, dari ruang berbentuk jendela di panggung itu muncul boneka-boneka yang tentu saja berkarakter dan berpakaian khas Cina. Liana, Leni, Weni dan sejumlah pengunjung pun larut dalam suguhan wayang potehi siang itu. Ketidaktahuan ketiga perempuan di atas, dan beberapa pengunjung lain tentang keberadaan wayang potehi bisa jadi akibat dari peraturan masa lalu yang melarang kesenian wayang ini ditampilkan di muka umum. Kini wayang potehi tidak cuma ditanggap di klenteng-klenteng tapi juga mulai merambah ke mall-mall. Berdasarkan catatan sejarah, wayang potehi merupakan kesenian yang berasal dari daerah Hokkian, Tiongkok sejak jaman dinasti Tsang Tian itu. Wayang potehi diambil dari kata Poo (kain), Tay (kantong), dan Hie (wayang), oleh karenanya wayang ini juga dikenal dengan sebutan wayang kantong. Wayang Potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Asal muasal wayang ini konon berasal dari ciptaan 5 orang narapidana yang telah di vonis mati. Satu dari kelima narapidana itu menyemangati keempat temannya dan mengajak mereka bersenang-senang sambil menciptakan pertunjukan boneka dengan alat musik dari perabotan yang ada di sel seperti panci dan piring dan mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang mereka. Tetabuhan yang mereka mainkan diminati penghuni sel lain hingga terdengar oleh kaisar. Mereka pun diajak bermain di istana. Dengan pertunjukan mereka, sang raja menjadi terhibur dan mereka dibebaskan dari hukuman mati. Cara memainkannya juga sederhana, wayang atau yang lebih tepat disebut sebagai boneka, bagian badannya adalah kantong tempat tangan dan jari-jari dalang menyusup ke dalam sekaligus memainkannya. Dalam setiap pertunjukan seorang dalang dibantu oleh asisten dalang yang masing-masing memainkan 2 buah wayang. Wayang potehi masuk ke Indonesia (dulu Nusantara) melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia di sekitar abad 16 sampai 19. Bagi warga keturunan tempo doeloe, wayang potehi bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan memiliki fungsi sosial dan ritual. Nilai filosofinya tidak berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia.Kemudian wayang ini berkembang dari pertunjukan-pertunjukan klenteng dan vihara terutama di Pulau Jawa. Pada masa masuknya pertama kali di Indonesia, wayang potehi dimainkan dalam bahasa Hokkian. Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu para penduduk pribumi pun bisa menikmati cerita yang dimainkan. Saat VOC berkuasa di Indonesia, sempat ada pelarangan pertunjukan kegiatan hiburan seperti tari-tarian dan wayang yang ditujukan kepada orang-orang Cina dalam sebuah imigrasi tertentu pada waktu itu. Setelah VOC tak lagi berkuasa, pelarangan itu lambat laun kendur dan wayang potehi kembali hidup hingga tahun 1967. Namun semenjak ada Intruksi Presiden No. 14/1967 era pemerintahan Soeharto yang melarang berbagai bentuk ekspresi kesenian warga keturunan Cina membuat sejumlah kesenian ikut mati suri termasuk wayang potehi. Akibatnya, generasi muda yang lahir tahun 70 s/d 90-an tidak mengenal dengan baik kesenian ini. Untungklah setelah Abdurrahman Wahid atau Gusdur menjabat presiden larangan itu dicabut dan sejumlah kesenian keturunan Cina termasuk wayang potehi diperbolehkan tampil di ruang-ruang publik hingga semakin memasyarakat. Kini banyak dalang wayang potehi yang bukan dari peranakan Tionghoa tetapi dari suku lain seperti Jawa. Salah satunya Sugio Waluyo (46 tahun), dalang wayang potehi yang mengadakan pertunjukan di Mal Ciputra siang itu. Pria bertubuh agak tambun ini mengaku sudah bergaul dengan wayang potehi sejak dia masih bocah di Kota Surabaya. "Kebetulan rumah saya dekat dengan Klenteng Tri Dharma Hong Tiek Han. Waktu kecil saya sering menyaksikan pertunjukan wayang potehi hingga tertarik mendalaminya," jelas Sugio yang akrab disapa Subur. Sejak itu, pria asli Jawa ini belajar mendalang dan mempelajari alat-alat musiknya. Setelah berhasil menguasai wayang tersebut, mulai tahun 1994, ayah dari 4 putra dan putri mulai mendalang. Hingga kini, Subur menghidupi keluarganya sebagai dalang wayang potehi. Dia biasa menggelar pertunjukan di sekitar Jawa dan Bali. "Sekali tanggap bayaran sekitar Rp 500.000 sampai Rp 700.000 selama 4 jam," katanya. Seperti siang itu, Subur tengah menunjukkan kebolehannya memainkan wayang potehi. Sejumlah pengunjung Mal Ciputra pun terlihat terhibur dengan aksinya itu. Keahlihan Subur sebagai dalang wayang potehi, membuktikan bahwa akulturasi budaya warga keturunan dan pribumi yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu ternyata masih hidup dan terus berlanjut hingga kian mewarnai kehidupan itu sendiri. Kalau dulu, wayang potehi cuma memainkan lakon-lakon klasik daratan Cina seputar kisah dinasti-dinasti yang hidup di Cina secara terbatas di dalam kelenteng. Beberapa lakon yang biasa dibawakan dalam wayang potehi adalah Sie Jin Kwie, Hong Kiam Cun Ciu, Cun Hun Cauw Kok, dan Poei Sie Giok. Setiap wayang bisa dimainkan untuk pelbagai karakter, kecuali Bankong, Udi King, Sia Kao Kim, yang warna mukanya tidak bisa berubah. Musik pengiringnya pun masih tetap sama antara lain gembreng besar dan kecil, rebab, suling, gendang, dan slompret, gwik gim (gitar), dan bek to.Kini cerita wayang ini kian berkembang mengukuti tren misalnya menceritakan legenda Kera Sakti yang tersohor itu. Lakon-lakon yang kerap dimainkan dalam wayang ini pun sudah diadaptasi menjadi tokoh-tokoh di dalam ketoprak. Seperti misalnya tokoh Sie Jin Kwie yang diadopsi menjadi tokoh Joko Sudiro. Kalau Anda penggemar berat ketoprak, pasti tidak asing dengan tokoh Prabu Lisan Puro yang ternyata diambil dari tokoh Lie Sie Bien. Dengan kekayaan cerita dan lakon, membuat wayang potehi mudah diserap dan diterima masyarakat. Penulis : Ferry & AK Sumber : Majalah Travel Club Peta Lokasi : Add as favourites (24) | Quote this article on your site | Views: 578 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



Lampu-lampu Kota Kupang terlihat kerlap kerlip dari jendela pesawat. Tak berapa lama, pesawat mendarat mulus di Bandara El Tari. "Selamat Datang di Negeri Flobamora", begitu tulisan di salah dinding ruang bagasi. Flobamora itu singkatan dari empat gugusan pulau besar di NTT yaitu Flores, Sumba, Timor, dan Alor.
10 Days Eastern Europe TourBy China Airlines
![]() Rp.20.738.300 Add to Cart |
Legian Paradiso (3 Stars)
![]() Rp.450.000 Add to Cart |






| Mendaki Tembok Raksa... |
| great wall is a great construction ... |
| 23/07/08 19:33 More... |
| By rian |
| Danau Gunung Tujuh, ... |
| akhirnya di umur 21 th aku bru bs m... |
| 23/07/08 17:18 More... |
| By occy |
| Wisata Alam Situ Gun... |
| saya awal juli kmrn kesana untuk st... |
| 23/07/08 16:46 More... |
| By tea |
| Bandar Kuching |
| kereen..... |
| 23/07/08 15:33 More... |
| By Nona |
| Kesejukan Danau Mani... |
| Suasananya masih pedesaan, tenang, ... |
| 23/07/08 14:15 More... |
| By jacky |