Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Internasional arrow Australia arrow Memanjat Jembatan Lengkung Sydney
Memanjat Jembatan Lengkung Sydney PDF Cetak E-mail
(6 votes)
Sydney di hari pertama. Hujan deras turun sejak pagi dan tak juga menyurut ketika langkah kaki memasuki Gedung Sydney Harbour Bridge Climb. ”Giliran Anda pukul 10.25. Silakan menunggu. Anda akan dipanggil untuk mengikuti tes pernapasan,” kata penjaga tiket sambil tersenyum.
Dari balik jendela kaca, jembatan Sydney tertutup kabut putih. Saya membaca ulang kalimat yang tertera di selebaran, ”pemanjatan akan tetap berlangsung dalam segala cuaca, kecuali bila ada badai guntur”. Di ruangan tunggu, sebuah teve plasma menayangkan berulang–ulang rekaman film mengenai cara–cara pemanjatan.

Panggilan itu datang. Satu per satu dari kami menjalani tes pernapasan untuk mengetahui kadar alkohol. Bila kadar alkohol mencapai angka 0,05 atau lebih, peserta langsung dieliminasi. Kelompok kami terdiri dari 11 orang, termasuk sembilan warga Australia dan satu warga Malaysia. Dalam lingkaran, satu per satu dari kami saling memperkenalkan diri.

Kami kemudian memasuki ruang pelatihan. Semua instruksi diberikan dengan sistematis. Termasuk dalam mengenakan pakaian seragam. Karena cuaca buruk, seragam yang diberikan berlapis, mulai dari baju panjat, baju hangat yang dikaitkan di pinggang, jas hujan, sarung tangan, topi, tali untuk kacamata, sampai bagaimana mengoperasikan radio komunikasi untuk mendengarkan instruksi pemimpin pendakian. Dan, yang terpenting, bagaimana mengoperasikan alat pengaman (safety harness).

Dari ruang pelatihan, kami bergerak ke ruang simulator, yang terdiri dari tangga–tangga tegak lurus, tanjakan, dan turunan. Ini adalah tempat untuk melatih penguasaan alat pengaman.

Derai hujan semakin deras ketika kami melintasi jalan raya dan tiba di kaki jembatan. ”Kamu rajin olahraga? Saya jarang berolahraga,” kata Veera, rekan dari Malaysia, sambil memandangi ketinggian jembatan. ”Wah, tinggi sekali, ya,” ujarnya perlahan. Tinggi jembatan Sydney sekitar 134 meter dari permukaan laut, dan panjang lengkungannya mencapai 1.149 meter.

Angin keras dan basuhan hujan menerpa wajah. Di awal pemanjatan, pergerakan masih tersendat karena kelompok di depan masih kikuk mengoperasikan tali pengaman. Namun, ketika jarak sudah terjaga dan masing–masing dari kami bergulat sendiri untuk mengatur langkah, perjalanan mulai terasa indah.

Di kiri–kanan terbentang hamparan laut, sementara kota Sydney terpapar dari ketinggian. Gedung opera Sydney bak deretan keong putih yang menyeruak di antara pencakar langit. Sayang, kami tak diperkenankan membawa apa pun ke atas, termasuk tustel. Namun, Adrian—pemimpin pendakian—membuat foto kelompok yang bisa kami beli setelah pemanjatan selesai.

Dari celah pijakan kaki yang renggang, terpapar laut yang bergelombang. Bagi yang tak terbiasa dengan ketinggian, gerakan laut seakan menggoyang keseimbangan. Setelah melewati rute landai, sampailah kami di ”etape” yang lebih menantang, tangga–tangga yang tegak lurus menjulang.

Etape akhir pemanjatan adalah menyusuri lengkungan jembatan yang akan mengantar kami ke bendera di puncak. Ini adalah rute yang paling menyita tenaga. Kami tiba di puncak bersamaan dengan munculnya kilatan petir yang menyambar–nyambar di awan. Pemanjatan terpaksa dihentikan dan kami turun berlindung di shelter.

Adrian kemudian bertanya apakah kami akan berhenti atau menyelesaikan rute ini setelah badai reda. ”Hanya saja, kalau memang mau melanjutkan, berarti kita harus mengulang kembali pemanjatan dari bawah,” kata Adrian. Herannya, sambil menggigil semua peserta serempak menjawab, ”Lanjut!”.

Begitulah, kami kembali menapaki tangga–tangga basah dari bawah, sampai seluruh proses pemanjatan tuntas. Seluruhnya berlangsung selama 3 jam 45 menit. Tidak buruk, karena umumnya waktu standar 3,5 jam. ”Kita berhasil,” kata Adrian, dan semua serentak bertepuk tangan.

Cita rasa Sydney

Ada yang mengatakan, mengunjungi Sydney adalah awal paling pas untuk mengenal Australia. Modern, kosmopolit, dan multikultur, itulah Sydney yang menawarkan begitu banyak ”tontonan wajib”. Mulai dari museum–museumnya yang menawan, sampai deretan restorannya yang menyajikan citarasa global. Menonton di gedung opera Sydney, termasuk salah satu acara ”wajib”.

Malam itu, The Australian Ballet menampilkan tribute bagi Jiri Kylian, salah satu koreografer ternama, melalui empat mahakaryanya Forgotten Land, Stepping Stones, Petite Mort dan Sechs Tanze. Liukan tubuh para penari yang diselingi gerakan–gerakan akrobatis, menyatu dengan iringan musik yang sarat dengan ritmis tabuhan, membawa suasana hati penonton pada nuansa purba. Kylian memperoleh inspirasi untuk Stepping Stones ketika ia menghadiri upacara ritual suku Aborigin Australia pada tahun 1980.

Namun, aliran keindahan seakan tak terbendung dalam Forgotten Land, yang sejak awal konstan menghantar imajinasi tentang pergolakan jiwa manusia. Di situ ada ketakutan, kesedihan, kegelisahan, yang dibungkus dalam alur–alur gerakan yang kadang kompak dan masif, namun lain kali terasa rentan dan ringan. Koreografi ini diakui Kylian terinspirasi oleh karya–karya ekspresionis Edvard Munch.

Penjelajahan kultural di Sydney tampaknya harus berhenti di Galeri Seni New South Wales yang Desember lalu memamerkan koleksi Camille Pissarro (1830–1903) selama tiga bulan. Ini kesempatan langka untuk menyaksikan karya Pissarro secara menyeluruh, termasuk sketsa–sketsa hitam putihnya yang jarang dipamerkan.

Banyak pelukis yang memengaruhi karya–karya Pissarro, mulai dari Camille Corot sampai Gustave Courbet. Namun, periode kala ia terinspirasi George Seurat dengan aliran pointilismenya, bagi saya tetap merupakan karya yang paling menonjol. Lihatlah karyanya, Apple picking at Eragny–sur–Epte (1888). Warna–warna cerah, oranye, hijau, merah, kuning, biru, memancarkan semangat yang bergolak, begitu kontras dengan lukisan Pissarro pada umumnya yang cenderung introver, penuh nuansa alam hijau dan kesunyian.

Semangat ini pula yang memacu kreativitas Pissarro ketika penglihatannya mulai melemah. Paris yang dinamis, Paris yang bergerak, adalah tema–tema lukisannya menjelang akhir hayatnya.

Inilah ujung persinggahan di Sydney. Sebuah perkenalan awal yang mengesankan.

Penulis : Myrna Ratna
Sumber : KOMPAS

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...


Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:


Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya


Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

liburan ke turki murah

liburan pulau macan pulau seribu

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 2 tamu online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village

Alexa Traffic Stats