International
Europe
La Rambla, Surga Pejalan Kaki di Barcelona | La Rambla, Surga Pejalan Kaki di Barcelona |
|
|
|
|
There are no translations available Sepenggal sore di Plaça Catalunya. Pertengahan Februari lalu udara Barcelona terasa dingin dibalut suhu 8 derajat Celcius. Untunglah, sinar matahari yang menyelusup di sela–sela awan kelabu seperti menyalurkan energi baru.Kala itu semua bangku panjang di Plaça Catalunya (Plaza Catalonia) terisi penuh. Padahal, sudah setengah hari lebih saya menyusuri jalan–jalan di Barcelona. Kaki terasa capai, tetapi saya hanya bisa mematung sambil memandangi La Rambla, bulevar yang amat tersohor di kota yang bertepi di Laut Tengah itu.Menyusuri La Rambla adalah keasyikan tersendiri meski udara dingin menusuk–nusuk kulit. Duduk di sudut La Rambla, terlihat barisan pepohonan meranggas. Hanya batang, cabang, dan tangkainya yang tampak di pelupuk mata. Daun–daunnya berguguran seakan menunggu datangnya musim semi. Di sepanjang jalan, bangunan–bangunan paduan arsitektur gotik dan modern seperti menorehkan untaian sejarah yang tak terputus. Kota tua Wajah La Rambla (Las Ramblas) adalah Barcelona yang orisinal. Sampai akhir abad ke–19, Barcelona baru terpusat di kota tua, Ciutat Vella, yang meliputi La Rambla, Barri Gotic, La Ribera, dan El Raval. Arsitektur bangunan di Ciutat Vella umumnya berasal dari abad ke–13 hingga ke–15. Ratusan tahun berlalu. Kini La Rambla menjadi urat nadi Barcelona. Catalan adalah penduduk Barcelona. Mereka lebih bangga menyebut diri sebagai orang Catalan ketimbang bangsa Spanyol. Ini gara–gara pengamalan pahit di bawah diktator Franco asal Madrid (Castellano). Di sepotong jalan itulah, terutama menjelang sore hingga malam, orang–orang dari berbagai etnis di seluruh dunia bisa dijumpai. Tempat itu bukan saja dipadati orang–orang Catalan, tetapi juga warga dari berbagai belahan bumi di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika. La Rambla ibarat lorong pertemuan warga dunia. Ada pasangan muda–mudi yang lagi kasmaran hingga kakek–nenek yang tetap mesra pada usia senja. Anak–anak berlarian di kawasan pedestrian yang bersih itu tanpa takut ditabrak kendaraan.Tak mengherankan bila La Rambla ibarat magnet yang mengundang jutaan pengunjung menyusuri jalan yang namanya berasal dari kata Arab ”ramla” (berarti sungai kering) itu. Nyatanya, sekitar kawasan itu merupakan tempat tinggal kaum imigran dari Asia dan Afrika. Kawasan El Raval, misalnya, menjadi kampung imigran Afrika Utara dan Pakistan. Orang–orang India juga mendominasi toko–toko cenderamata di sepanjang La Rambla. ”La Rambla selalu ramai dikunjungi turis. Kalau berkunjung ke Barcelona, sempatkan ke La Rambla, jangan sampai terlupakan,” kata Miguel, penduduk setempat. Dia memang benar. Rata–rata turis ingin melihat La Rambla pada kesempatan pertama. ”Saya sudah mendengar La Rambla sebelum mendarat di Bandara El Prat. Begitu tiba, pada hari pertama saya langsung ke La Rambla,” kata pemuda asal Jepang usia 25 tahun yang asyik merekam sisi–sisi kawasan itu dengan handycam–nya. Sudah takdir bila La Rambla menjadi surga pejalan kaki di kota berpenduduk 1,6 juta jiwa itu. Jalan yang membentang dari Plaça Catalunya hingga Patung Columbus itu terbagi dalam lima seksi, yaitu Rambla Canaletes, Rambla del Estudis, Rambla Sant Josep, Rambla Caputxins, dan Rambla Sant Monica. Titik awalPlasa Catalunya adalah titik awal La Rambla, ruang publik bertemunya banyak orang, sekadar nongkrong, duduk–duduk, atau memberi makan ribuan merpati. Tamannya dipenuhi bunga aneka warna. Plasa seluas 50.000 meter persegi itu dibangun tahun 1927 oleh arsitek Francesc Nebot. Lebar areal pedestrian La Rambla kira–kira 20 meter. Di kiri kanan areal pedestrian terdapat jalur kendaraan yang hanya satu lajur. Di bagian sisi jalan terdapat toko, restoran, kafe, hotel, museum, dan pasar. Di areal pedestrian juga ada kios cenderamata, koran dan majalah, tokoh satwa peliharaan, pelukis jalanan, pesulap, dan tukang ramal. Meski panjangnya cuma dua kilometer, menyusuri La Rambla pasti takkan habis dalam dua jam. Ada sejumlah tempat menarik yang tak mungkin dilewatkan begitu saja. Ada air mancur Canaletes yang sering dijadikan tempat berpesta suporter FC Barcelona. Percaya atau tidak, bila minum air itu katanya bisa membawa pengunjung kembali ke kota itu. Menyusur terus ke arah laut akan dijumpai pasar tradisional Boqueria yang bersih, lukisan mural Joan Miro, sejumlah museum antara lain Museum Erotika atau Museum Maritim. Tak jauh, masih ada Katedral Barri Gotic yang sedang direnovasi. Beberapa ratus meter dari pasar Boqueria, jangan lewatkan Gedung Opera Liceu yang berarsitektur neoklasik sejak tahun 1848. Gedung berkapasitas 2.292 kursi ini menyimpan kisah tragis. Dua kali terbakar, yaitu tahun 1861 dan 1994. Tahun 1893 dibom kelompok Santiago Salvador yang mengakibatkan 20 orang tewas. Baru tahun 1999 dibuka lagi dengan penampilan karya Giacomo Puccini. Di ujung jalan, Patung Columbus (Mirador de Colom) menjulang tinggi. Saya berdiri memandangi patung lelaki yang menunjuk ke arah laut lepas itu. Itulah patung orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Benua Amerika pada penghujung abad ke–15. Mengapa patung orang Genoa itu ada di ujung La Rambla? Ada legenda bahwa sepulang dari Amerika di sekitar kawasan itulah Columbus bertemu Raja Spanyol Ferdinand yang mensponsori perjalanannya itu setelah ditolak Raja Portugal John II. Tetapi itu hanya legenda, para sejarawan meragukannya. Hati–hatiBeberapa warga Barcelona mewanti–wanti agar berhati–hati bila pergi ke La Rambla. Bahkan di buku petunjuk wisata juga disebutkan daerah itu cukup rawan. Sebagaimana kawasan turis di negara mana pun, demikian tertera di buku, La Rambla kerap menjadi incaran tindak kejahatan. Boleh jadi dalam kerumunan banyak orang, kawanan pencopet bisa beraksi dengan leluasa. ”Jangan bawa uang berlebihan, jangan bawa dokumen seperti paspor,” kata Anna Fischbach, karyawan sebuah hotel, mewanti–wanti. Seberapa gawatkah keamanan kawasan pedestrian yang tersohor itu? Justru karena itulah saya penasaran. Ternyata, dibanding menyusuri daerah–daerah rawan di Jakarta, La Rambla jauh dari kesan angker. Yang terasa justru kesan romantis. Lelah berjalan kaki, perut pun mulai keroncongan. Tak usah bingung karena di La Rambla bertabur restoran. Pilihlah daerah yang masuk ke lorong–lorong karena makanan di kawasan jalan utama itu harganya cukup tinggi. Sebaiknya cek dulu harga–harga. Buat orang Indonesia, tak jauh dari La Rambla ada restoran berpapan nama ”Betawi” di Jalan Montsio, sekitar 300 meter dari Plaça Catalunya. Ada nasi goreng, martabak, lumpia, kerupuk, dan juga sambal. Selepas La Rambla, tanpa terasa bus wisata bertarif 18 ruro sehari mengantar ke Katedral Sagrada Familia, Park Guell, La Pedrera, Museum Picasso, perbukitan Montjuic dengan Museum Nasional Catalunya dan arena olimpiade. Tak lupa saya menyusuri pantai Placa Sant Sebastia hingga Placa de la Nova Mar Bella. Beberapa kapal pesiar terlihat berlayar menuju Laut Mediterania. Adieu, selamat tinggal Barcelona! Penulis : Subhan SD Sumber : Kompas Fotografer : Istimewa Peta Lokasi : Add as favourites (28) | Quote this article on your site | Views: 812 | Print | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







| Ujung Genteng Beach |
| waah mantap sekali ini tempat. keb... |
| 21/11/08 09:54 More... |
| By miaz |
| Dreamland Pantai Imp... |
| Hampir tenggelam gue di pantai ini,... |
| 20/11/08 09:07 More... |
| By Abi |
| Candi Songgoriti |
| Sayang ya, candi secantik ini tidak... |
| 20/11/08 08:25 More... |
| By robin |
| Dari Serayu ke Owabo... |
| bbrp kali rafting di serayu..ga aka... |
| 19/11/08 19:25 More... |
| By Evi |
| Pantai Iboih, Surga ... |
| emang benar kalo pantai iboih tu pa... |
| 19/11/08 17:17 More... |
| By Nazaruddin |