Internasional
Amerika
Dua Havana | Dua Havana |
|
|
|
Ini cerita perjalanan kedua sebuah rombongan wartawan Indonesia ke Havana, Kuba. Yang pertama berlangsung pada musim semi, April 2000 selama empat hari. Yang kedua selama tiga hari pada musim panas, September 2006.
Bandar udara internasional Havana, Jose Marti, seperti kotak panjang berwarna biru tua. Jose Marti adalah pahlawan nasional Kuba. Ia politisi, wartawan, dan penulis puisi. Lahir di Havana tahun 1853 dan meninggal dalam pertempuran dengan tentara Spanyol tahun 1895, ucapannya yang terkenal, "Perjuangan kemerdekaan bukanlah dengan fisik, tetapi pembangunan budaya yang cerdas." Dalam perjalanan kedua, September 2006, yang panas, pintu kedatangan di Bandara Jose Marti dijaga lima perempuan muda berseragam biru–biru. Ada yang berkulit hitam legam, merah, putih, dan kuning. Mereka adalah bagian dari warna–warni 11,3 juta orang penduduk Kuba. Mereka menggunakan bahasa Spanyol. Ramah dan tidak terlalu ketat memeriksa pendatang. Masalah ras di Kuba tidak menonjol. Di tepi–tepi jalan raya bisa disaksikan orang kulit hitam berpelukan dan berciuman dengan kulit putih. Ini pemandangan sangat langka di Amerika Serikat atau Eropa Barat. Dalam perjalanan dari bandara ke pusat Kota Havana, sesekali ada orang yang berdiri di tepi jalan melambaikan tangan untuk menumpang. Setiap kendaraan di sini adalah kendaraan umum, siapa saja boleh naik. Ini bagian dari hal biasa di negeri ini sejak Fidel Castro mengumandangkan komunisme pada 1961. Hanya artis dan olahragawan saja yang diperkenankan pemerintah memiliki kendaraan pribadi. Maka, banyak orang Kuba yang berusaha menjadi penyanyi, penari, atau pekerja seni lainnya. Dua Havana
Di Havana Tua, tampak deretan rumah susun penduduk dan bersisian dengan gedung–gedung tua yang dibangun pada masa penjajahan Spanyol. Hampir semua kantor pejabat pemerintah ada di kawasan ini. Setiap hari di kawasan ini berseliweran wisatawan asing dari seluruh dunia. Jumlah turis yang masuk ke Kuba tahun 2005 sekitar 2,3 juta orang (hampir sama dengan penduduk Havana). Tahun 2001 wisatawan asing yang datang sekitar 1,77 juta orang. Bisnis wisatawan asing ini menyumbang sekitar 41 persen pendapatan negara. Pemasukan ke negara di bidang wisata ini telah mengesampingkan pendapatan dari ekspor gula, tembakau, dan cerutu. Di Havana Baru dan Havana Tua ada yang tetap sama. Puluhan taman dan hutan kota dengan pepohonan yang rimbun (banyak yang sudah hidup puluhan tahun) tidak diganggu pemerintah. Seorang teman yang sedang menikmati pemandangan taman–taman dan hutan–hutan dari jendela kamar hotelnya tiba–tiba berteriak, "Hai–hai–hai, lihat di sana banyak pasangan muda–muda yang sedang bercinta." Jalan–jalan raya di Havana baru dan lama jarang terjadi kemacaetan lalu lintas. Tidak pula pernah terdengar suara sirine mobil pengawal para pejabat negara. Bahkan, Castro pun jarang sekali keluar dari tempat tinggal atau istananya dengan pengawalan seperti itu. Di Havana jarang diketemukan gambar Fidel Castro di tempat umum. Katanya, ia tidak mau dikultusindividukan seperti pemimpin di Pyongyang, Korea Utara. Di salah satu bagian dari pantai di Havana menempel jalan raya dan tembok beton. Tembok beton itu bisa untuk jalan kaki atau berlari–lari. Dari pantai itu bisa dilihat benteng kuno dari masa penjajahan Spanyol, Castillo Del Morro de La Habana. Dekat benteng itu ada rumah makan sederhana. Di situ ada kelompok musik dan penyanyi Havana Soul. Mereka menyanyi dan menari tanpa pengeras suara. Kelompok musik seperti itu sangat banyak di Kuba. Mereka bukan hanya mengamen, tetapi juga jual VCD atau kaset hasil rekaman mereka. Ketika beberapa wartawan Indonesia olahraga lari pagi, meledaklah tawa mereka. Di tepi jalan pantai itu berserakan kondom–kodom bekas yang tampak belum lama dipakai. Tidak jauh dari tempat itu ada panggung yang menghadap ke pantai Florida di Amerika Serikat. Pada saat–saat tertentu, di tempat itu orang–orang pemerintah berpidato mencaci maki pemimpin Amerika Serikat. Ini juga acara rutin nasional. Pabrik cerutu Di antara deretan gedung–gedung kuno bersejarah di Havana Tua, selain ada puluhan kafetaria yang aromanya pesing sekali, juga ada gedung pabrik cerutu berwarna merah tua, Patagas Real Fabrica. Di seluruh Kuba ada sekitar 40 pabrik cerutu. Cerutu kini bukan sekadar ikon Kuba, tetapi sebagai salah satu daya tarik wisatawan. Patagas Real Fabrica, berdiri tahun 1845, atau 161 tahun lalu. Pabrik ini sekarang punya 700 pekerja yang setiap hari bekerja dari pagi hingga petang. Ketika wartawan Indonesia masuk ke salah satu lantai gedung cerutu itu, tiba–tiba sebagian besar pekerja itu tertawa terpingkal–pingkal. Ternyata mereka bekerja sambil mendengarkan pembacaan buku Da Vinci Code karangan Dan Brown. Mereka tertawa karena ada adegan lucu dari buku itu.
Siang hari mereka dibacakan novel, pagi hari dibacakan koran terbitan hari itu, dan setelah jam istirahat atau menjelang pulang pada sore hari diperdengarkan musik (segala macam jenis musik). Ketika itu yang bertugas membaca seorang pegawai yang telah 17 tahun punya tugas membaca untuk para karyawan di situ. "Ini mengagumkan. Ini realisasi ucapan Jose Marti tentang membangun manusia Kuba. Kuba bisa menang menghadapi Amerika bukan karena perang fisik, tetapi karena budaya cerdas yang yang terbangun," ujar Nenden Novianti Fathiastuti, wartawati Indonesia asal Bandung. Selain ke pabrik cerutu, rombongan wartawan juga masuk ke kafetaria di pusat penjualan suvenir. Di kafetaria di Havana Tua itu, Santi, penyiar radio di Jakarta, didekati pemuda keturunan Afrika. Ia memandang lama Santi yang mengenakan jilbab. Pemuda itu langsung berkata dengan suara yang tertangkap telinga Indonesia seperti ini, "You are Java? Very good. American bomed your country in Hiroshima and Nagasaki, ha? F... American...You are Osama bin Laden, ha? Very, very, good,..." Kata java itu ternyata maksudnya Japan atau Jepang. Nenden dan Santi bingung menyaksikan Havana. "Di pabrik cerutu saya merasakan ada perjuangan hidup. Di luar itu adalah pesta, menari, menyanyi," ujar Nenden. Santi berkata lain lagi, "Kalau bicara politik orang muda Kuba lantang mengutuk Amerika, tetapi kalau berbusana berkiblat ke Amerika." Di setiap sudut jalan Havana baru dan lama, orang menyanyi dan menari. Hidup di sana seperti dalam pesta. Pengarang novel dan pemenang Nobel kesusasteraan asal AS, Ernest Hemingway, yang pernah tinggal di Havana 22 tahun (1939–1961), pernah mengatakan, Havana adalah tempat tinggalnya yang sejati. "Havana adalah salah satu kota terindah di dunia, lebih indah dari Venesia atau Paris," ujarnya yang dimuat dalam buku wisata La Cultura Cubana.
Add as favourites (36) | Quote this article on your site | Views: 656 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||||
| < Sebelumnya |
|---|







| Pantai Ujung Genteng |
| waah mantap sekali ini tempat. keb... |
| 21/11/08 09:54 More... |
| By miaz |
| Dreamland Pantai Imp... |
| Hampir tenggelam gue di pantai ini,... |
| 20/11/08 09:07 More... |
| By Abi |
| Candi Songgoriti |
| Sayang ya, candi secantik ini tidak... |
| 20/11/08 08:25 More... |
| By robin |
| Dari Serayu ke Owabo... |
| bbrp kali rafting di serayu..ga aka... |
| 19/11/08 19:25 More... |
| By Evi |
| Pantai Iboih, Surga ... |
| emang benar kalo pantai iboih tu pa... |
| 19/11/08 17:17 More... |
| By Nazaruddin |