Sekali waktu saya menyempatkan diri pulang ke kampung halaman saya di Malang, Jawa Timur, sekedar untuk bersilaturahmi ke Ibu dan sekalian "nyekar" ke makam almarhum Ayah yang telah tiada. Kami tidak sempat pulang ke kampung halaman liburan lalu karena Ibu saya yang tercinta menyempatkan diri datang ke Jakarta.
Kedatangan saya ke Malang kali ini memang sudah diniatkan untuk bersantai dan bernostalgia di sana. Kota yang menjafi kebanggaan saya sampai saat ini. Desember ini hujan terus mewarnai kota ini, hampir selalu seletah jam sebelas siang, mendung mulai menggantung dan hujan akan segera turun dengan lebatnya.
Salah satu teman Ibu saya menawarkan mobilnya untuk dipakai untuk saya berkeliling kota ini dan teman Ibu saya ini bertempat tinggal di Batu, kota kecil sekitar 17 kilometer dari kota Malang. Saya berangkat kesana berdua dengan istri saya untuk mengambil mobil yang ditawarkannya. Hari sudah cukup sore waktu itu dan istri saya mengajak untuk makan malam di sekitar Kota Batu.
Setelah berputar sejenak di Alun-alun kota itu kami mengarahkan mobil ke atas menuju puncak, di sebelah kanan jalan terlihat satu warung di pinggir jalan dengan satu rombong sate ayam di depannya. Sempat ragu-ragu untuk sesaat karena warungnya tidak begitu representatif tetapi menu yang ada membuat perut kami kembali keruyukan.
Menu utamanya adalah Pangsit Mie, salah satu varian masakan mie yang cukup kondang rasanya di Malang. Sebagai informasi, Pangsit mie yang biasa disebut di Malang seperti Mie ayam yang biasa ada di Jakarta dengan sedikit bumbu yang berbeda.Pada menu yang terpampang di dinding warung itu terdapat Pangsit Mi Biasa, Super dan Spesial, lho ? apa bedanya, setelah bertanya sedikit, ternyata pangsit Mi Super memakai ayam dan jamur dan special memakai Ati dan Ampela sebagai side dishnya.
Kami memesan Pangsit Mie Special dan Super, yang ternyata keduanya tinggal porsi terahir, hihihi... setalah beberapa saat menunggu, keluarlah pesanan kami, yang cukup mengejutkan adalah porsinya yang penuh hingga ke ujung atas mangkok dengan kuah kaldu ayam yang dipisah. Saya coba Ayam Jamurnya, heeeeeem.... begitu terasa paduan ayam berbumbu dan jamur yang terasa segar, sedangkan Ati dan Ampelanya dihidangkan masak dengan menggunakan gula jawa sehingga terasa manis dan menggelitik lidah, luaaaaaaarr biasa...
Mie-nya sendiri sepertinya buatan tangan dengan bentuk yang kurang beraturan tetapi lembut dan nikmat, dipadu dengan kuah kaldu ayam yang dibubuhi potongan daun bawang, sungguh nikmat di lingkungan yang bersuhu kurang lebih 17 derajat ini. Wuih...
Untuk minumannya kami memilih jeruk panas, ini juga luar biasa. Jeruk panas di kota ini tidak diperas dari jeruk biasa melainkan jeruk nipis hingga rasa asamnya mengalahkan semua rasa makanan tadi hingga mulut terasa bersih. Porsi yang besar itu hanya bisa dihabiskan oleh kaum pria rupanya, istri saya yang notabena juga doyan makan hanya berhasil menghabiskan setengah dari porsi mie tersebut.
Satu porsi mie ini tidak mahal hanya berkisar antara 6 sampai 9 ribu rupiah dengan porsi yang besar, murah lah... lokasinya terletak di Kota Batu, di jalan raya antara kota batu ke arah songgoriti di depan hotel mutiara.
Heem... bila anda sempat ke Malang, mampirlah sebentar di kota Batu untuk mencicipi Pangsit Mie Sumpit ini, dijamin, pasti bikin anda kangen untuk kembali lagi hihihi...
Penulis : Yudha Fotografer : Yudha Lokasi : Batu, Malang
6. Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 24-03-2008 16:55 ada kah saran tuk menyukseskan program desa wisata?? Mari kt majukan pariwisata demi kesejahteraan bersama dan peningkatan kualitas semua umat.
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.