| Memaknai Pesan Alam Tangkahan |
|
|
|
|
There are no translations available Senja turun dengan gemulai, sangkut di pucuk pepohonan. Kami baru saja selesai menikmati mie instant, dalam pondok terbuka di tengah hutan. Gerrr... perjalanan selama 5 jam ternyata cukup menguras tenaga dan membuat lapar. Untunglah pesona alam Tangkahan dan penghuninya membayar semua itu.
Tangkahan, sebuah kawasan hutan yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sebentuk ekosistem yang merupakan warisan dunia (world heritage) yang tentu saja bukan hanya milik Indonesia.Saat tiba di sana, angin bertiup lalu singgah ke pohon sekadar menceritakan perjalanannya pada dedaun. Dedaun membisikkannya ke telinga kami. Dan kami terbuai. Mata mulai mengatup. Embun meruap dari tenggorokan. Kami seperti dibuai oleh bisikan Sang Dewi. Seakan berkata; "Tidurlah, kalian teramat lelah." Begitulah pesona alam yang kami tangkap di Tangkahan. Bagai tersihir kami mengikut saja. Tangkahan memang luar biasa. Tak sampai sejam di sana kami seperti memasuki peradaban masa lalu, seperti kisah kota yang hilang dalam film The Mummy. Padahal kami baru menjajal pinggiran hutannya. Konon lagi kami memasuki denyut nadinya. Memasuki Tangkahan kami seperti diingatkan akan pesan-pesan Sang Pemilik Alam. Si Bontot Olive "Praak.." bunyi renyah reranting yang terinjak. Kami terkesiap. Sukma gagap. Siapa gerangan yang buat ulah di tengah hutan begini. Dan astaga... sejulur belalai menyembul dari semak belukar. Mulanya satu, lama-kelamaan bertambah sampai tujuh. Huh.. ternyata gerombolan gajah melintas menderu. Spontan kami bangkit sembari tetap wanti-wanti. Jangan-jangan sekawanan gajah liar menyerbu. "Wah nekad juga nih gajah," ujar temanku. Nyatanya mereka kian tak perduli. Dengan pasti mereka mendekati kami. Memang kami tahu, salah satu andalan Tangkahan adalah wisata menunggang gajah. Tapi kalau datangnya mendadak begini siapa yang tak terkejut. Hop.. hop.. hop... sesuara terdengar. Kami mencari tahu sumbernya.Rupanya seseorang di belakang. "Nah ini mungkin sang pawang," gumamku. Dari dialah kami tahu bahwa gajah-gajah "binaan" nya itu bukan sekadar melintas. Apalagi mengganggu. Tetapi hendak mandi sore di Sungai Bulu yang terbentang di tengah hutan. Mengetahui itu, kami langsung bergegas. Kamera dikeluarkan. Tele dipasangkan. Langsung mengikut gerombolan itu dari belakang. Namanya Olive berumur kurang lebih 4 tahun. Dialah yang paling bontot di antara keluarganya. Kalau berjalan lucunya bukan main. Kalau boleh diiramakan, bunyi kira- kira seperti ini; "Twing.. twing.. swing..." derap langkah kaki. Di sungai beberapa pawang lain telah menunggu. Tanpa basa-basi Olive dan gerombolannya pun langsung terjun ke sungai. Dengan cekatan Sang Pawang menggosok badan gajah dengan tangan mereka. Bersama Sang Pawang, gajah-gajah itu kelihatan manja. Masing-masing berekspresi dengan sikap minta disayang. Lihatlah sebagian terlentang, sebagian lagi duduk. Tetapi ada pula yang diam-diam saja menikmati belaian tangan Sang Pawang. Sementara Olive sedari tadi sibuk menyembur-nyemburkan air ke punggungnya. Wah.. Olive senang banget ya nampaknya. Semua gajah bernama, selain Olive ada Yuni, Theo, Agustin, Ardana, dan Sari Sepertinya mereka pun sudah hafal namanya masing-masing. Buktinya ketika Sang Pawang memanggil, mereka datang dan menurut saja. Dari segi klasifikasinya gajah-gajah tersebut masuk dalam golongan Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus). Konon persebaran gajah ini sebagain besar terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan jumlah yang sangat memprihatinkan. Usai mandi Olive dan gerombolannya tidak kembali ke tempat semula. Mereka menyeberangi sungai. Sang Pawang naik ke punggung dan memandunya dengan sebilah gancu (alat pemandu bentuknya seperti arit). Lalu memasuki rimbunan hutan di depannya. Kemudian lenyap begitu saja. Entah kemana mereka pergi. Entah dimana pula mereka nikmati malam yang mulai membayang. Dan kami seperti tak ikhlas ditinggal begitu saja. Pelajaran Pertama dari GajahMalam mulai lunglai. Warnanya yang hitam kian mencium bumi. Ini berarti kami mesti cepat-cepat dirikan tenda. Salah satu lokasi terbaik untuk itu adalah di seberang sungai. "Wah.. sungai sederas ini mesti kita seberangi?" celutuk kawanku. "Tak apa, bukankah kegilaan seperti ini yang kita cari," aku mencoba menenangkan suasana. Langkah pertama, kami cari tahu kedalaman sungai. Dengan cara menaksir seberapa tinggi sungai menelan tubuh mereka. Kemudian menguatkannya dengan melemparkan batu serta mengkaji bunyi berdasar kedalamannya. Ketiga tentu saja langsung mencoba. Dan hup...hup...kami langsung jebur satu persatu. Menyeberang dengan saling bergenggaman tangan. Awalnya kami berjalan sangat berhati- hati sampai terkesan tertatih-tatih. Tiba-tiba kami teringat metode menyeberang ala gajah. Caranya berjalan secara zig-zag. Mungkin maksudnya supaya arus sungai menyerpih sehingga tidak terlalu kuat menghantam kaki. Kami pun mencoba itu strategi. Hasilnya kami merasa berpijak lebih kuat lagi. Alhasil tidak sampai setengah jam kami sudah sampai ke seberang. Meski kaki pegal dan ngilu kami merasa senang bisa sampai ke seberang. Kami selesai mendirikan tenda sebelum jam melewati angka delapan. Tenda kami tepat di bawah dua pohon di pinggir sungai. Angin hutan pun mulai singgah dan menampar-nampar jendela tenda. Sembari menunggu bintang berkeliaran kami mempersiapkan panganan. Malam kian larut. Dingin mulai menggigit persendian. Beberapa kawan langsung masuk tenda. Berbincang di dalam. Aku dan Bono berjaga-jaga di luar. Siapa tahu ada binatang yang berkeliaran. Pasalnya menurut informasi yang kami peroleh dari pawang gajah tempat itu merupakan wilayah favorit para monyet. Masuk akal memang soalnya kedua pohon yang kami jadikan penyanggah tenda merupakan tempat mereka bergantungan. Sebab buahnya termasuk menu yang mereka sukai. Malam kian jauh. Kabut mulai merendah. Aku mencoba memejamkan mata walau tahu pasti akan sia-sia. Aku memutuskan keluar tenda. Kalau mungkin tidur dekat perapian. Saat itulah secara tak sengaja kusaksikan betapa meriahnya langit. Bintang-bintang berkeliaran seperti berkejaran dengan sesamanya. Kucari bulan. Kudapati ia tersangkut di ranting pohon. Bulatnya penuh sedikit kemerahan. Warnanya menambah semarak alam. Benarlah kiranya semesta tidak pernah beranjak kemana-mana. Bintang-bintang kian bertambah. Langit makin bercahaya. Sinarnya menempel di atap tenda. Mereka berkejar-kejaran mengingatkan masa kanak-kanak dulu. Barangkali setiap orang yang menyaksikan itu akan merasakan indahnya pesan perdamaian dari Sang Alam. Sampai tak sadar hari sudah pagi. Sehabis packing kami bergegas menyusur hutan. Kami memutuskan menjelajah tanpa pemandu seperti disarankan petugas penjaga. Tapi begitulah, kadang-kadang petualangan lebih mengena manakala kita tak perlu tunduk dengan aturan. Bukankah alam punya peraturannya sendiri, begitu kata Darwin? Maka mulailah kami masuk ke mulut rimba. Jalanan langsung menanjak, berlumpur dan licin. Akar pohon dan dedaunan pakis hutan yang menjulur kami jadikan pegangan. Dengan rute seperti itu tidak sedikit di antara kami yang jatuh terjerembab. Kalau begitu kami cukup menertawakannya saja. Kami memang tidak mengenal rute hutan itu, karena tidak seorangpun di antara kami yang pernah kesana sebelumnya. Kami hanya mengikuti jejak kaki gajah yang membekas di tanah. Sampai pada akhirnya kami kehilangan jejak- jejak itu. Dan menyadari kami tengah tersesat di tengah belantara. Aku mengambil inisiatif. Menyusur lebih dulu. Memasuki semak belukar lalu memanjat pohon. Tapi hasilnya nihil. Jangankan jalan setapak, tanda-tanda pernah dilalui pun tak kelihatan sama sekali.Menyadari itu kami putuskan mengikuti aliran sungai. Tapi sayang baru tengah perjalanan kami mesti kembali. Soalnya semakin ke atas jalanan semakin tak jelas. Apalagi beberapa kawan mulai meragukan. Tambah lagi langit yang mulai mendung membuat kami mesti berpikir dua kali. Maka dengan segala pertimbangan kami pun mengubur emosi masing-masing. Kami putuskan untuk kembali. Asyiknya kami pulang tidak hanya membawa rasa penasaran. Tetapi juga puluhan lintah yang numpang nempel di sekujur badan. Sumber: Majalah Travel Club Peta Lokasi : Add as favourites (29) | Quote this article on your site | Views: 788 | Print | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







| Ujung Genteng Beach |
| waah mantap sekali ini tempat. keb... |
| 21/11/08 09:54 More... |
| By miaz |
| Dreamland Pantai Imp... |
| Hampir tenggelam gue di pantai ini,... |
| 20/11/08 09:07 More... |
| By Abi |
| Candi Songgoriti |
| Sayang ya, candi secantik ini tidak... |
| 20/11/08 08:25 More... |
| By robin |
| Dari Serayu ke Owabo... |
| bbrp kali rafting di serayu..ga aka... |
| 19/11/08 19:25 More... |
| By Evi |
| Pantai Iboih, Surga ... |
| emang benar kalo pantai iboih tu pa... |
| 19/11/08 17:17 More... |
| By Nazaruddin |