| Nona Manis Bikin Sinyo Jadi Gile |
|
|
|
Berbalut sehelai kain etnik, seuntai kalung serasi dengan gelang di pergelangannya. Keduanya terbuat dari butiran-butiran putih mutiara laut. Jemarinya menggenggam erat botol kaca bening yang memamerkan miniatur kapal layar dari bunga cengkeh kering. Mungkin hadiah bagi seorang teman. Nona manis, bikin sinyo jadi gile...
Bukan rotan, bukan pula mangga muda yang wajib dibawa pulang sebagai buah tangan dari Maluku. The Spice Islands tak hanya mewarisi keanggunan alam tiada tara, namun juga beragam kerajinan yang tak terpisahkan dari adat budaya khas kepulauan ini. Unik dan amat delicate, tak hanya mencengangkan, tapi juga akan membuat setiap nona jadi tambah manis!Mengikat hati di Tanimbar Bagai tercecer di tengah lautan, literally in the middle of nowhere, dengan posisi lebih dekat ke benua Australia dibandingkan ke Ibukota Maluku, Ambon, nama Tanimbar nyaris tak pernah jadi bagian perbendaharaan kata sehari-hari. So here we go, introducing the mystical Tanimbar Islands, pusat kerajinan dan budaya di Maluku. Tangantangan lembut kaum hawa asal Tanimbar yang kebanyakan kini terpusat di Saumlaki, Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, sejak dulu telah mengikat hati dengan tenun ikatnya. Keterampilan turun temurun ini awalnya hanya digunakan untuk kepentingan sendiri. Baru beberapa puluh tahun belakangan, kriya tenun ikat khas Tanimbar mulai dikembangkan untuk keperluan keperluan komersil. Berbahan kapas hasil hutan Tanimbar, proses diawali dengan menggilingnya dengan bambu, untuk mengeluarkan biji-bijinya. Lalu, kapas dihaluskan dengan busur, dipintal jadi benang dan diwarnai. Pewarnanya pun alarm. Untuk warna merah misalnya, benang dicelupkan dalam ramuan dari Wit pohon tongke yang banyak ditemui di pinggir laut. Untuk warna hitam, sejumlah dedaunan direbus dalam panci sampai hitam. Sedangkan kunyit digunakan untuk warna kuning. Setelah benang dikuatkan dengan agar-agar supaya tak mudah putus, barulah diatur di pemidangan dan ditenun. Proses keseluruhan bisa mencapai 3 bulan! Kalau tak punya cukup waktu untuk berkunjung ke Tanimbar, jangan khawatir. Kunjungi saja UD. Tenun Ikat Burburak di kawasan Skip, Ambon, yang menjual kain tenun ikat Tanimbar, baik yang terbuat dari kapas hutan maupun yang berbahan sintetis. Jika beruntung, di sini Anda juga bisa melihat proses pembuatannya. UD.Tenun Ikat Burburak JI.SkipTengah Vlll No.2 - 1 Jembatan Hautuna,Ambon Harga Tenun Ikat Tanimbar Kain untuk setelan jas & celana panjang, ± Rp.3.500.000,- per set. Sarung, ± Rp.1.000.000, per helai. Selendang ± Rp.250.000,- per helai. Bersolek Cantik Dengan Mutiara Walau kini usaha budidaya kerang mutiara sudah bisa ditemui di berbagai sudut Maluku, misalnya di Pulau Seram dan Kepulauan Banda, sesungguhnya pusat kerang mutiara terletak jauh di tenggara Maluku. Kepulauan Kei dan Aru telah lebih lama jadi incaran pengusaha mutiara dari seluruh penjuru dunia. Bahkan sebuah perusahaan Jepang kini membuka tambak besar di Kota Tual, khusus untuk memanen butiran mutiara di perairan jernih Kabupaten Maluku Tenggara. Kilau indah yang berasal dari 'perut' kerang-kerang inilah yang kemudian dirangkai jadi kalung, gelang dan berbagai perhiasan lainnya. Sebuah kebanggaan atas hasil laut Indonesia yang sejak dulu kerap menjadi lambang keanggunan abadi seorang wanita.Toko Souvenir Mutiara & Mas"Mutia" JL Fidnang Armau No. 27 Tual, Maluku Tenggara Setelah mutiaranya dipanen, kulit kerangnya ternyata tak dibuang begitu saja. Bertempat di deretan workshop di kawasan Batu Merah, Ambon, para perajin hanya membuang dagingnya, membersihkan dan mengeringkannya. Setelah itu, kulit kerangnya dihaluskan dengan grinda, lalu digambar dan dibentuk. Hasilnya macam-macam. Dari bros-bros mungil hingga lukisan lukisan besar. Unik dan cantik sekali! Kerajinan Kerang Mutiara Raden Abdullah JLJend.Sudirman No.91 RT 003 RW 03, Kec. Sirimau Batu Merah,Ambon Souvenir "Andika" Industri Kerajinan Kerang Mutiara JLSultan Hasanuddin No. 10 Batu Merah,Ambon Bunga Cengkeh dan Sulur Aren Desa Suli Pernah melihat bunga cengkeh? Kecil-kecil, lebih kecil dari sekuntum melati, berwarna hijau dan menghamburkan aroma menyenangkan. Sebuah komoditi yang serba guna. Bisa sebagai penyedap masakan, bisa pula untuk wangi-wangian berbagai produk. Tapi ternyata tak hanya itu fungsinya. Bunga-bunga mungil ini juga mampu memukau Anda dalam beragam bentuk kerajinan tangan, tentunya di tangan terampil para perajin, seperti Bapak Gabe di Desa Suli, Ambon. Dengan teliti, bungabunga yang setelah dikeringkan akan berwarna coklat tua itu, dirangkai pada sebuah kawat halus, lalu direkatkan satu lama lain sehingga menjadi bentuk menawan. Bunga, becak, bahkan kapal layar besar dalam segala kemegahannya. Bukan cuma itu, Oom Gabe, begitu panggilan akrabnya di desa ini, juga mampu merangkai miniatur kapal layar dalam botol kaca! Kok bisa? "Itu rahasia keluarga," tuturnya sambil tertawa.Selain cengkeh, para perajin terampil asal Ambon ini juga membuat cinderamata dari sulur pohon mayang (pohon aren - red.), yang disambung-sambung menggunakan paku kecil. Hasilnya adalah beragam buah tangan unik dengan pilihan bentuk yang tak jauh beda dari kerajinan cengkeh. Tapi yang paling populer tentunya bentuk kapal layar. Kerajinan tanpa kawat dan tak bisa patah ini juga bisa didapatkan di Desa Suli. Berburu Festival BudayaBalai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, kini tengah menggalakkan gerakan budaya, melalui berbagai festival dan pameran di Maluku, yang melibatkan putra-putri dari tingkat SD hingga SMA. Dengan demikian generasi penerus bangsa ini tak hanya tahu teori, tapi langsung berkesempatan untuk mengenal dan memahami budaya daerah asalnya, terutama bentuk-bentuk kerajinan yang sudah jarang digunakan sehari-hari, seperti rangkaian daun kelapa yang dapat dijadikan tas atau kamboti, serta juga tumang atau tempat menyimpan sagu mentah. Tanyakan jadwal acara yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat pada hotel tempat Anda menginap atau di Kantor Dinas Pariwisata. Siapa tahu, tanpa harus berkeliling jauh, Anda bisa mendapatkan sehelai kain tenun, seuntai mutiara dan berbagai oleh-oleh unik khas Maluku, hanya dengan mengunjungi festival seperti ini. Harga Kerajinan Cengkeh & Sulur Aren Kerajinan cengkeh Rp.100.000 s/d Rp 250.000, Kerajinan cengkeh dalam botol Rp 50.000, Kerajinan sulur aren Rp. 10.000 s/d Rp. 250.000 Sumber: Majalah Tamasya Peta Lokasi : Add as favourites (83) | Quote this article on your site | Views: 1121 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
|||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



Sampai saat ini sepertinya Gunung Sibayak tidak akan habis-habisnya didaki oleh pencinta alam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Pada hari-hari tertentu lokasi wisata penuh petualangan ini seperti layaknya pasar malam. Lautan manusia tumpah bersama lampu, lilin yang memancarkan keindahan ketika malam hari. Deru angin yang dingin menambah pesona Gunung Sibayak bertambah menarik untuk dikunjungi.






| Pantai Ujung Genteng |
| waah mantap sekali ini tempat. keb... |
| 21/11/08 09:54 More... |
| By miaz |
| Dreamland Pantai Imp... |
| Hampir tenggelam gue di pantai ini,... |
| 20/11/08 09:07 More... |
| By Abi |
| Candi Songgoriti |
| Sayang ya, candi secantik ini tidak... |
| 20/11/08 08:25 More... |
| By robin |
| Dari Serayu ke Owabo... |
| bbrp kali rafting di serayu..ga aka... |
| 19/11/08 19:25 More... |
| By Evi |
| Pantai Iboih, Surga ... |
| emang benar kalo pantai iboih tu pa... |
| 19/11/08 17:17 More... |
| By Nazaruddin |