Balikpapan terkenal dengan kota minyak. Terus terang tidak pernah terpikirkan bagi saya untuk dapat berjalan-jalan seputar Balikpapan beberapa waktu yang lalu. Tugas dari kantor mengharuskan saya untuk berkunjung ke kota ini. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika pesawat mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan adalah panas. Panas dengan kelembapan yang tinggi mengakibatkan hawa terasa sesak.
Panas yang terasa membekap badan tidak terasa beberapa saat setelah meninggalkan bandara menuju arah kota Balikpapan. Beberapa saat kemudian pekerjaan selesai dan saya masih memiliki waktu untuk berjalan-jalan di sekitar kota yang sepintas terlihat sepi dan teratur ini. Terus terang rekan saya di Balikpapan kebingungan ketika saya minta untuk mengantarkan untuk berjalan-jalan di tempat wisata di sekitar kota ini.
Rekan saya menjelaskan bahwa butuh waktu yang tidak sedikit untuk mencapai tempat - tempat wisata yang biasnya terletak agak jauh ke pedalaman. Setelah sedikit paksaan ia menyetujui untuk mengunjungi penangkaran buaya di sebelah utara kota Balikpapan menuju ke daerah Taritip. Setelah lebih kurang dua puluh menit berkendara dari pusat kota, ke arah utara sampailah kami di penangkaran buaya CV. Surya Raya. Letaknya agak tersembunyi di kedalaman pepohonan Kalimantan yang lebat. Di pintu masuk terdapat patung buaya yang dibuat dari semen dan berbentuk lucu.
Memasuki lapangan parkir, barulah terlihat penangkaran tersebut. Ada dua tempat dimana kita bisa melihat buaya tersebut, dari sebuah pendopo di pintu depan dan memasuki kolam-kolam penangkaran yang ada di dalamnya dengan membeli karcis tanda masuk yang murah. Kami langsung masuk kedalam penagkaran tersebut dan melihat berbagai macam buaya yang ada. Saya hitung kurang lebih ada 14 jenis buaya yang ditangkarkan di sana.
Iseng-iseng saya membeli ayam hidup untuk diumpankan ke buaya-buaya tersebut dengan cara melemparkan ke arah buaya di kolam yang besar. Si buaya yang terlihat bermalas-malasan itu langsung bergerak dengan cepat meyambar mangsanya, sungguh atraksi yang hebat yang biasanya hanya bisa saya tonton di chanel animal planet.
Setelah puas berkeliling-keliling, kamipun pulang. Rekan saya dari Jakarta kebetulan menelpon dan minta dibawakan tangkur buaya yang dijual di tempat tersebut. Tidak terlalu mahal juga tangkur itu yang entah mau dipakai untuk apa. Seperti biasa, penangkaran ini tidak dikelola secara profesional jadi kesan jorok dan gelap menghiasi tempat wisata ini, padahal kami melihat banyak muda-mudi dan keluarga yang bercengkrama di sekitar pendopo tersebut. Mungkin pemerintah Balikpapan tidak terlalu peduli terhadap pariwisata mereka walaupun banyak hal yang dapat di gali di kota minyak ini.
1. Ditulis oleh
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
, pd 30-04-2008 08:35 saya juga sependapat dengan anda,pemerintah kota balikpapan tidak begitu perduli dengan objek2 wisata yang ada di daerah ini,padahal sngat banyak daerah2 yg memiliki potensi wisata yang indah di balikpapan.
2. Ditulis oleh yudha, pd 05-05-2008 11:46 beberapa waktu yang lalu saya ke balikpapan, ternyata banyak sekali dibangun hotel-hotel baru menjelang PON, semoga bisa mendongkrak pariwisata balikpapan
3. Ditulis oleh tio, pd 19-08-2008 12:11 sebenarnya sayang banget kota bpp belum maksimal untuk objek wisatanya kalau di lihat banyak sekali potensi kalimantan untuk bisa dikembangkan tp sayang penangananya sangt lambat sekali. gua jujur paling nyesel nih ama namanya kota balikpapan kalau ingin membangun sesuatu apa aja pokoknya selalau ngumbar janji,oh ya stu lg masak bpp nggak ada studio 21 capek deeeehh
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.