Memasuki Toko Oen di Jalan Basuki Rahmat, Malang, Jawa Timur, suasana tempo dulu langsung menyapa. Ada radio kuno di satu sudut. Ada pramusaji dengan busana ala zaman kolonial, juga kursi kayu kuno yang terawat. Saya tamu pertama pada Sabtu (11/11) pagi itu. Jarum jam menunjuk pukul 11.00, memang bukan jam makan. Saya memilih tempat duduk di kursi rotan dengan meja kayu bulat di tengah ruangan. Beberapa pramusaji berbusana ala zaman kolonial dengan jas tutup putih dilengkapi sarung pendek dan peci hitam tersenyum menyapa.
Ruangan yang luas menjadi tampak penuh, salah satunya karena banyaknya foto–foto yang dipajang di dinding, foto hitam–putih mengenai suasana kota Malang tempo dulu. Ada foto Hotel Tugu, beberapa penanda Kota Malang, gereja tua, juga tentunya eksterior Toko Oen kala itu. Karena belum jam makan, saya bingung juga mau memesan apa. Pramusaji menawarkan es krim yang katanya enak–enak. Ada sebelas jenis es krim yang ditawarkan, mulai Tutti Frutti Cassata, Tropicana Cream, Peach Melba, Corn Ice Cream, Sparkling Delight, hingga es krim soda. Tampaknya semua menggiurkan. Saya bilang hendak bersantai sejenak, menikmati suasana ruangan yang nyaman. Beberapa saat kemudian, datang penyanyi yang juga pemain organ, siap menghibur tamu.
Es krim dan "steak"
Ada dua menu andalan toko ini, yakni es krim dan steak. Saya lantas memesan tiga es krim sekaligus, Oen`s Special, Banana Split, dan Chocolate Parfait. Sekilas, es krim ini tidak berbeda dengan es krim yang biasa dijual di swalayan. Akan tetapi, semakin lama di lidah, makin terasa rasa susu dan telurnya. Manisnya terasa pas pula.
Pemilik Toko Oen, Danny M, menjelaskan, resep es krim yang ia punyai masih sama dengan resep Mr Oen. "Raw material–nya asli dan yang jelas tidak ada bahan kimia sama sekali. Mengapa bisa asli, karena koki–koki kami diwarisi resep dari koki sebelumnya," ujarnya. Bahan utama es krim, lanjut Danny, adalah susu sapi asli dan telur ayam kampung. "Pembuatannya tetap tradisional, tetapi mesinnya sudah kami kreasikan dengan teknologi baru," ujar Danny tanpa memerinci lebih lanjut. Yang menjadi andalan es krim di Toko Oen tentu saja Oen`s Special, berupa dua sendok bulat es rasa vanila dan cokelat ditambah buah ceri dan beberapa wafer. Mmm.... Puas makan es krim, saya lantas memesan steak lidah sapi, atau bahasa Belanda–nya rundtong steak. Agak lama saya menunggu giliran karena kebetulan, Sabtu (11/11) siang itu, banyak pengunjung datang memesan steak. Pikir saya, untung juga agak lama, sambil menunggu es krim diproses dulu di lambung. Beberapa menit berlalu, akhirnya pesanan datang juga. Ini dia andalan toko ini. Menurut seorang pramusaji, steak lidah sapi memang paling banyak dipesan tamu. "Enak ya, Pak?" tanya saya. Pertanyaan bloon. "Enak. Silakan dicoba," jawab pramusaji. Saya mulai memotong–motong steak dan sekalian saya lumuri dengan bumbu saus supaya bisa langsung disantap. Mmmm ... lidah sapi dengan rasa yang pas di lidah saya. Tak terasa, habis satu porsi steak. Namun, saya masih ingin merasakan steak yang lain, dan saya memilih bistik daging panir. Wah, ternyata cukup besar porsinya. Saya tunggu perut agak lowong sebelum menyantapnya. Juru masak kepala, Balego Sulistyo, menuturkan, cara membuat steak tidak berbeda dengan lain, begitu pula bahan–bahannya. Hanya, bumbu untuk melumuri steak memang khas Toko Oen. "Dan ini asli, belum berubah sejak zaman Mr Oen," ujar Danny. Cara membuat bumbu, menurut Balego, mudah saja. Tanpa ingin berahasia, ia menuturkan, "Tepung terigu digoreng sampai coklat, lalu diberi air. Setelah ditambah bumbu–bumbu, seperti bawang merah, bawang bombai, bawang putih, tulang sapi, tulang ayam, merica, cengkeh, dan pala, lalu direbus selama dua hari. Setelah itu baru proses saring". Sambung Balego, "Ada lagi yang khas, yakni tambahan saus raja rasa." Danny buru–buru meminta saya mencicipi bumbu steak andalannya beberapa sendok dan perut terasa makin penuh.
Turun–temurun
Danny selalu menekankan soal resep asli Toko Oen yang turun–temurun diwariskan. Koki yang sudah pensiun mewariskan resep kepada koki baru, begitu seterusnya. Banyak koki yang telah belasan tahun bekerja terus bertahan sampai sekarang. Koki es krim, misalnya, ada yang telah bekerja selama 26 tahun. Balego bahkan telah 32 tahun bekerja di sana. Pada awalnya, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di dapur. Pelan–pelan ia belajar memasak dari koki–koki senior hingga mahir sampai akhirnya diangkat menjadi kepala koki. "Saya mempertahankan Pak Balego karena ia mempunyai bakat luar biasa sebagai koki. Ia bisa membuat makanan dengan rasa hampir sama persis dengan masakan yang baru dimakannya di sebuah restoran," ujar Danny. Karena resep yang diturunkan itu, maka para tamu bisa merasakan hidangan "masa lalu", tentu dengan modifikasi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. KOMPAS, Susi Ivvaty Add as favourites (32) | Quote this article on your site | Views: 1575 | Cetak | E-mail
1. Ditulis oleh Yudha, pd 12-05-2007 08:55 Toko Oen ini salah satu tempat favoritku kalo sedang pulang ke malang, saladnya juga ok banget. |
|
- Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
- Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
- Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
|
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |