Culinary
Culinary Tour
Huize Trivelli | Huize Trivelli |
|
|
|
|
There are no translations available Bagi sebagian orang, makan bukan hanya perkara mengganjal perut lapar tetapi juga soal citarasa, suasana, bahkan sejarah peradaban sebuah kaum. Kalau itu juga yang Anda cari, sempatkanlah diri ke Huize Trivelli Heritage Resto & Patissier di Jalan Tanah Abang II, Nomor 108, Jakarta Pusat. Restoran yang buka sejak November 2006 itu menempati sebuah rumah tua, rumah asli dari perumahan warga Eropa-Belanda, yang dibangun tahun 1939. Di situ Anda bisa merasakan citarasa masakan para priayi jaman dulu dengan sentuhan tatakrama Eropa, romantika masa kolonial, serta memperoleh infomarsi tentang sejarah kuliner, bahkan secuil sejarah Jakarta, dan tentu saja perut kenyang.Si pemilik, Wahyuni Baliningtiyas, menyediakan menu masakan warisan leluhurnya dari Jawa Timur, serta leluhur suaminya, Jalaludin Soe’oed dari Batavia (Betawi). Wahyuni menyiapkan sendiri makanan, demi kualitas terbaik, dan menjamin bahan-bahan yang digunakan bebas zat pengawet. Masakan di Trivelli Huize (Rumah di Jalan Trivelli) masuk kategori indische. Manajer Operasional Huize Trivelli, Bambang Pangayoman, mengartikan masakan indische sebagai masakan tradisional Indonesia yang telah disesuaikan dengan cita rasa dan disajikan secara Barat (Belanda). "Jadi ada menu pembuka, menu utama dan menu penutup. Setting meja makan juga seperti cara orang-orang Barat tapi menunya sendiri ya masakan Indonesia," kata Bambang yang adalah adik Wahyuni. Tempat itu menyediakan aneka menu. Beberapa merupakan menu tetap namun ada yang berubah setiap hari, yaitu yang masuk dalam kategori Mini Rijsttafel in Harmonie. Dalam kategori mini-rijsttafel pilihannya antara lain Rawon Simpangweg Soerabia, Soto Ajam Prijaji Herenstraat, Smoor Daging Bellevue, Ajam Tjotjok Bromoweg, Laksa Njonja Molenvliet, dan Soto Betawi Gang Thomas.Saya memesan mini-rijsttafel dengan menu utama Laksa Njonja Molenvliet yang tersedia pada hari itu. Namanya yang aneh membuat saya penasaran. Rasanya saya tidak sabar menunggu makanan yang akan saya santap. Mini-rijsttafel Laksa Njonja Molenvliet itu sesungguhnya sebuah paket berisi insulinde pastei ajam, nasi poetih, laksa njonja Molendiet, kroepoek oedang, sambel kemiri, sate mentool polonia, dan bir pletok a la crema. Semuanya Rp 45.000, belum termasuk pajak.Nasi putih, kerupuk udang dan sambal kemiri tidak perlulah dijelaskan. Tapi trivelli insulinde pastei ajam? Itu merupakan menu pembuka yang lezat dan panas karena baru dikeluarkan dari oven. Isinya sayur-sayuran, jamur kuping, ayam, susu, keju serta so’un yang ditutup dengan kentang giling. Benar-benar nikmat! Lalu, bir pletok a la creme. Saya membayangkan akan menenggak minuman yang sedikit beralkohol di sore itu. Bayangan saya meleset. Bir yang ini tidak ada alkoholnya sama sekali. Rasanya manis. Isinya hanya air, perasan daun pandan, lalu diramu dengan kayu manis, cengkeh, serta jahe. Kandungan jahe yang dominan membuat minuman itu terasa hangat di tenggorokan.Laksa Njonja Molenvliet merupakan menu utama. Ini merupakan kari beraroma rempah, berbasis santan kental, dan berwarna kuning karena kunyit. Isinya bihun, udang segar yang masih kenyal, telur rebus, toge, serta ayam suwir. Satu lagi, sate mentool. Bentuknya mirip sate lilit di Bali. Sate mentool ini terbuat dari daging ayam dan kelapa. Sebagai tusukan sate adalah batang daun sereh. Aroma sereh sangat terasa ketika menyantapnya. Oh ya rijsttafel, itu kata bahasa Belanda yang secara literer diterjemahkan sebagai rice table dalam bahasa Inggris (The Jakarta Post, Juni 2007). Rijsttafel salah satu kreatifitas kuliner masa kolonial. Sesungguhnya rijsttafel berupa satu paket nasi yang disajikan lengkap dengan serangkaian lauk-pauk. Aneka lauk pauk itu disajikan dalam porsi kecil di atas sebuah meja. Konon, dulu, kalangan atas di Hindia Belanda yang terdiri dari pegawai pemerintahan dan pemilik perkebunan ketika makan meja makan mereka penuh dengan aneka menu masakan tetapi dalam porsi kecil. Kata Bambang, meski diciptakan orang-orang Belanda, rijsttafel memiliki akar dalam tradisi kuliner Indonesia. "Masyarakat kita kan dari dulu sudah menyajikan nasi dalam bakul besar lalu ada beragam lauk-pauk yang di sekitarnya. Orang-orang Belanda meniru hal itu," kata Bambang.Jika ingin menikmati menu mini-rijsttafel di Huize Trivelli, sebaiknya telepon terlebih dahulu karena menu berganti-ganti setiap hari. Anda juga bisa memesan tetapi minimal untuk enam porsi. Selain makanan, Huize Trivelli menghadirkan suasana yang berbeda. Atmosfir tempat itu lebih mirip rumah daripada restoran. Interiornya merupakan hasil perpaduan harmonis dari gaya eropa, cina, dan jawa yang oleh si pemilik dalam situsnya, www.huize-trivelli.com, disebut sebagai interior bergaya klasik eklektik. Sejumlah barang antik dan benda-benda seni memenuhi ruangan restoran. Menurut Bambang, furniture yang digunakan umumnya warisan dan koleksi keluarga dan rata-rata berusia tua. Di antara koleksi yang ada terdapat antara lain vas bunga dari zaman dinasti Ching. Pada dinding ruangan ada foto-foto tua milik keluarga. Anda di bawa ke masa lalu, sekitar awal abad ke-20, saat memperhatikan gaya berpakaian orang-orang dalam foto-foto tersebut. Huize Trivelli juga menyuguhkan sepenggal sejarah Jakarta. Lokasi restoran itu dulunya bernama Laan Trivelli, sebuah kawasan elit orang-orang Eropa. Bangunan restoran itu dulunya rumah milik keluarga Belanda. Keluarga Jalaludin Soe’oed baru memiliki rumah itu tahun 1953. Pada masa pendudukan Jepang(1942-1945) kawasan pemukiman Laan Trivelli digunakan sebagai kamp tahanan untuk wanita dan anak-anak warga Eropa-Belanda. Karena Laan Trivelli melintasi Kali Cideng maka dunia mengenal kamp tahanan ini sebagai Kamp Tjideng.Dua jam di tempat ini rasanya tidak cukup. Atmosfir yang homey, makanan rumahan yang lezat, harga yang reasonabel, plus koleksi benda-benda seni serta iringan musik jaman dulu membuat betah dan enggan beranjak. Huize Trivelli Resto & Patissier Jl Tanah Abang 2 No. 108, Jakarta Pusat Telepon dan fax : 3865803 Buka: Senin -Jumat 11.00 - 19.00 Sabtu 10.00 - 21.00, Minggu libur. Penulis: Egidius Patnistik Add as favourites (39) | Quote this article on your site | Views: 1024 | Print | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
|||||||||
| < Prev | Next > |
|---|







| Surga Buah Itu Berna... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:44 More... |
| By Sennioritta 214447 |
| Surga Buah Itu Berna... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:44 More... |
| By Sennioritta 214435 |
| Ketika Orang Kota Me... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214411 |
| Pesona Hening Pantai... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214402 |
| Pesona Hening Pantai... |
|
Comment 22 2143 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214333 |