Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Indonesia arrow Kalimantan arrow Kalau Beruntung, Ketemu Buaya!
Kalau Beruntung, Ketemu Buaya! PDF Cetak E-mail
(1 vote)

Mentari baru saja menampakkan dirinya menggantikan kelam di Buntok, Kalimantan Tengah, seiring deringan alarm dari handphone saya. Teman satu kamar, Indah juga sudah terjaga.

Kami memang harus bersiap-siap. Sebentar lagi perjalanan panjang akan kami lalui menuju Ekosistem Air Hitam, yang terletak di kawasan Sungai Puning, Kabupaten Barito Selatan. Dua jam kemudian atau jam 08.00 WIB, kami sudah berada di perahu klotok, yang akan membawa kami berpetualang sepanjang DAS Barito hingga memasuki kawasan Ekosistem Air Hitam. Kami sengaja menyewa perahu tradisional tersebut dan tidak speed boat, karena ingin menikmati detik-detik yang kami lalui.


"Bisa berenang, khan?," itu pertanyaan dari Oneng, sang pemandu kami.
"Siap-siap aja ya kalau nanti harus berenang…" Waduh, jantung saya sontak berdegup kencang. Mungkin wajah kami, saya dan Indah menjadi memucat. Mana tidak ada pelampung lagi. "Lupa bawa", kata Oleng ringan sambil senyum-senyum. Mas Uki, teman dari Jakarta juga, hanya ketawa-ketiwi.

Walah, saat kaki ini menginjakkan langkah pertama di perahu saja, saya sudah deg-degan, Karena perahu langsung bergoyang-goyang mengikuti injakan kaki saya. Maklum, kehidupan saya memang jauh dari sungai atau pun laut. Apalagi gimana nanti kalau perahu terbalik terus harus berenang, terus ada buaya di bawah sana.

Ssst..kata teman saya dari Jakarta, kalau berutung bisa ketemu buaya deh di sana. Ah, sudahlah…Whatever will be, will be…Pasrah aja deh. Lagian, I’m so excited!!

Kami berangkat sekitar jam 09.30 WIB. Belum lagi tengah hari, tetapi terik matahari sudah begitu menyengat. Untung saya membawa topi dan kacamata hitam. Mulailah perahu klotok kami meninggalkan Buntok secara perlahan menuju Ekosistem Air Hitam.

Kawasan yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah ini merupakan daerah rawa gambut yang berada di dua aliran sungai, DAS Barito dan Sungai Puning. Air Hitam ini memiliki karakteristik dan potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang kaya, baik jenis mau pun jumlahnya.

Disebut air hitam , karena air di kawasan lahan gambut ini memang hitam warnanya. Oleh penduduk setempat air ini digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Mandi, masak atau pun minum. Bahkan tanpa direbus dahulu!! Makanya, saya jadi penasaran, membayangkan meminumnya dengan mentah-mentah, selain tergiur juga dengan keindahan alamnya yang masih perawan.

Lalu lintas di sungai Barito pagi itu tidak ramai. Kami hanya bertemu dengan beberapa perahu klotok. Sesekali juga bertamu dengan kapal-kapal besar yang membuat ombak-ombak kecil dan menyebabkan perahu kami bergoyang lebih keras mengikuti irama gelombang.

Lama-lama, saya jadi terbiasa menikmati ‘keolengan perahu’ dan pemandangan yang saya temui. Di sisi kanan kiri saya masih tampak alam hijau yang sesekali berganti dengan desa-desa yang kami lalui. Udara pun terasa segar, tidak seperti di Jakarta.

Sementara langit biru dan lukisan-lukisan awannya terbentang luas di depan mata. Panas matahari pun tidak terasa lagi. Indahnya, lari sejenak dari kepenatan Jakarta.

Baru setengah jam berlalu dari Buntok, tiba-tiba mata saya tertuju pada satu titik di sebuah desa. Di sana terlihat gelondongan-gelondongan kayu yang bertumpuk-tumpuk. Tidak jauh dari situ ada, beberapa lelaki sedang asyik ‘menggergaji’ balok-balok tersebut di ke dalam sebuah mesin. Dari kayu gelondongan menjadi puluhan papan-papan kayu yang siap untuk dijual.

"Itu memang ilegal logging. Pemandangan yang sudah biasa di sini. Persoalannya perut sih. Mereka juga tidak punya banyak pilihan untuk mencari uang," kata Oleng sambil melambaikan tangan ke arah para pekerja ilegal logging itu. Rupanya, mereka memang saling kenal.

Benar saja. Di sepanjang perjalanan saya menyusuri sungai Barito dan sungai Puning kerap terlihat pemandangan yang sama. Sejumlah lelaki muda yang kadang hanya menggunakan celana dalam saja (sungguh…!!) asyik menggiring kayu gelondongan atau memotong kayu-kayu itu menjadi papan. (Hmm..soal ilegal logging ini akan saya ceritakan khusus lain waktu).

Tidak terasa, hari sudah menjelang siang. Kami pun sudah lapar. Akhirnya, kami singgah di desa Babai, yang merupakan sentra usaha rotan. Tetapi tidak ada warung nasi di sana, yang ada hanya toko kelontong di sebuah rumah apung milik Haji Hanafi. Well, kami akhirnya memesan Indomie sebagai pengganjal perut.

Wah, berada di desa ini, saya seperti berada di lautan rotan. Dimana-mana yang terlihat hanyalah rotan dan rotan. Saya juga sempat ke hutan rotannya lho, kali pertama rotan diambil dari tempat tumbuhnya. (Mau tahu, ntar aja ya…)

Setelah melepas lelah sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Saat itu, saya kepingin buang air kecil. Lalu, ditunjukkanlah sebuah bangunan kotak dari kayu. Hmm oke.., pikir saya. Tetapi, begitu membuka pintu, saya sempat shock juga.

Tidak ada apa-apa di di dalamnya, selain lubang persegi dari kayu yang langsung bersentuhan dengan air sungai yang kecoklatan. Dan, punten, ada bulatan-bulatan kotoran bekas orang buang air besar mengapung-apung di sana. Duh!!

Seketika perasaan saya jadi campur aduk. Bukan apa-apa, saya sudah terbiasa dengan ‘kenikmatan’ kota besar soal hal-hal kecil begini. Rasanya, berat ketika harus berjongkok dan memulai kegiatan buang air kecil. Tapi, yah, memang begitu adanya.

Apalagi sudah tidak bisa ditahan. Kalau pun bisa menahannya, tetap saja saya akan menemui WC yang sama khan? Dengan sebotol Aqua dan tissue, akhirnya, selesai sudah kegiatan saya di ruang sempit itu.

Hehehe…lega deh ! Teman-teman saya dari Jakarta, hanya tersenyum-senyum saja. Hmm…belum tahu mereka. Tunggu aja gilirannya.

Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Tambah jauh ke dalam Sungai Barito, pemandangannya semakin indah dan asri.

"Satu jam lagi deh, kita sampai ke Ekosistem Air Hitam," kata Oleng. Wah, senangnya!!

Namun, belum jauh kami meninggalkan Babay, langit tiba-tiba berubah menjadi hitam. Tidak tampak lagi keindahan langit biru dengan lukisan awan putihnya. Yang ada, awan hitam seakan memayungi kami.

Dan, tiba-tiba kami diguyur hujan lebat. Dalam sekejap membasahi wajah dan tubuh kami semua. Pak Eka, pengemudi klotok yang juga penduduk Air Hitam, lupa pula menyiapkan terpal sebagai pelindung tubuh dari hujan. Tetapi, untungnya, saya membawa jas hujan. Teman-teman saya, tidak ada yang mau bergabung. Mereka memilih menitipkan ransel-ranselnya ke balik jas hujan saya.

Untung, hujan tidak berlangsung lama. Hanya sekitar 15 menit. Tetapi cukup membuat badan menggigil, kecuali saya (hehehe). Akhirnya, sampailah kami ke daerah air hitam.

Rupanya ada ritual khusus, bagi pendatang baru. Yakni, harus mengambil air hitam untuk membasuh muka.

"Ini kepercayaan aja. Semacam permisi, kepada penunggu yang ada di sini. Kalau tidak, bisa sakit," terang Oleng. Percaya tidak percaya, kami ikuti saja ritual itu. Tidak susah dan tidak ada ruginya juga kok.

Semakin ke dalam memasuki kawasan ini, air terlihat semakin hitam dan pekat. Di awal pergantian dari sungai Barito ke Ekosistem ini, air memang tidak begitu hitam. Karena masih bercampur dengan ‘air putih’ dari sungai Barito.

Sekitar jam 16.00 WIB, sampailah kami di desa Batampang, salah satu desa di daerah air hitan ini. Kami akan menginap semalam, di rumah Pak Eka untuk beristirahat, sebelum melanjutkan petualangan kami menguak keperawanan Ekosistem Air Hitam ini.

Di sinilah saatnya, saya meminum air hitam langsung dari sungai, mentah-mentah Rasanya? Hmmm

Penulis: Angelina Maria Donna
Sumber : Kompas

Peta Lokasi :

Add as favourites (38) | Quote this article on your site | Views: 798 | Cetak | E-mail

  Komentar (1)
RSS comments
1. Ditulis oleh Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya , pd 24-10-2008 09:25
:p Ah MsA ScH ??? iT CmA m!ToS X CoZ

Beri Komentar
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya

Guide Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Pesan Hotel Real Time di Seluruh Dunia

Pesan Disini !!!

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Komentar Terahir

Surga Buah Itu Berna...
Comment 22 2144
06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az....
23/11/08 03:44 More...
By Sennioritta 214447

Surga Buah Itu Berna...
Comment 22 2144
06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az....
23/11/08 03:44 More...
By Sennioritta 214435

Ketika Orang Kota Me...
Comment 22 2144
06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az....
23/11/08 03:43 More...
By Sennioritta 214411

Pesona Hening Pantai...
Comment 22 2144
06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az....
23/11/08 03:43 More...
By Sennioritta 214402

Pesona Hening Pantai...
Comment 22 2143
06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az....
23/11/08 03:43 More...
By Sennioritta 214333

Rekan Liburan.Info

Tukar Link dan Promosi Website, Webkios Direktori gratis untuk promosi dan tukar link website indonesia dengan berbagai macam kategori. Tambahkan website anda sekarang.

Alexa Traffic Stats