Indonesia
Kalimantan
Kalau Beruntung, Ketemu Buaya! | Kalau Beruntung, Ketemu Buaya! |
|
|
|
|
"Siap-siap aja ya kalau nanti harus berenang…" Waduh, jantung saya sontak berdegup kencang. Mungkin wajah kami, saya dan Indah menjadi memucat. Mana tidak ada pelampung lagi. "Lupa bawa", kata Oleng ringan sambil senyum-senyum. Mas Uki, teman dari Jakarta juga, hanya ketawa-ketiwi. Walah, saat kaki ini menginjakkan langkah pertama di perahu saja, saya sudah deg-degan, Karena perahu langsung bergoyang-goyang mengikuti injakan kaki saya. Maklum, kehidupan saya memang jauh dari sungai atau pun laut. Apalagi gimana nanti kalau perahu terbalik terus harus berenang, terus ada buaya di bawah sana. Ssst..kata teman saya dari Jakarta, kalau berutung bisa ketemu buaya deh di sana. Ah, sudahlah…Whatever will be, will be…Pasrah aja deh. Lagian, I’m so excited!! Kami berangkat sekitar jam 09.30 WIB. Belum lagi tengah hari, tetapi terik matahari sudah begitu menyengat. Untung saya membawa topi dan kacamata hitam. Mulailah perahu klotok kami meninggalkan Buntok secara perlahan menuju Ekosistem Air Hitam. Kawasan yang terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah ini merupakan daerah rawa gambut yang berada di dua aliran sungai, DAS Barito dan Sungai Puning. Air Hitam ini memiliki karakteristik dan potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang kaya, baik jenis mau pun jumlahnya. Disebut air hitam , karena air di kawasan lahan gambut ini memang hitam warnanya. Oleh penduduk setempat air ini digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Mandi, masak atau pun minum. Bahkan tanpa direbus dahulu!! Makanya, saya jadi penasaran, membayangkan meminumnya dengan mentah-mentah, selain tergiur juga dengan keindahan alamnya yang masih perawan. Lalu lintas di sungai Barito pagi itu tidak ramai. Kami hanya bertemu dengan beberapa perahu klotok. Sesekali juga bertamu dengan kapal-kapal besar yang membuat ombak-ombak kecil dan menyebabkan perahu kami bergoyang lebih keras mengikuti irama gelombang. Lama-lama, saya jadi terbiasa menikmati ‘keolengan perahu’ dan pemandangan yang saya temui. Di sisi kanan kiri saya masih tampak alam hijau yang sesekali berganti dengan desa-desa yang kami lalui. Udara pun terasa segar, tidak seperti di Jakarta. Sementara langit biru dan lukisan-lukisan awannya terbentang luas di depan mata. Panas matahari pun tidak terasa lagi. Indahnya, lari sejenak dari kepenatan Jakarta. Baru setengah jam berlalu dari Buntok, tiba-tiba mata saya tertuju pada satu titik di sebuah desa. Di sana terlihat gelondongan-gelondongan kayu yang bertumpuk-tumpuk. Tidak jauh dari situ ada, beberapa lelaki sedang asyik ‘menggergaji’ balok-balok tersebut di ke dalam sebuah mesin. Dari kayu gelondongan menjadi puluhan papan-papan kayu yang siap untuk dijual. "Itu memang ilegal logging. Pemandangan yang sudah biasa di sini. Persoalannya perut sih. Mereka juga tidak punya banyak pilihan untuk mencari uang," kata Oleng sambil melambaikan tangan ke arah para pekerja ilegal logging itu. Rupanya, mereka memang saling kenal. Benar saja. Di sepanjang perjalanan saya menyusuri sungai Barito dan sungai Puning kerap terlihat pemandangan yang sama. Sejumlah lelaki muda yang kadang hanya menggunakan celana dalam saja (sungguh…!!) asyik menggiring kayu gelondongan atau memotong kayu-kayu itu menjadi papan. (Hmm..soal ilegal logging ini akan saya ceritakan khusus lain waktu). Tidak terasa, hari sudah menjelang siang. Kami pun sudah lapar. Akhirnya, kami singgah di desa Babai, yang merupakan sentra usaha rotan. Tetapi tidak ada warung nasi di sana, yang ada hanya toko kelontong di sebuah rumah apung milik Haji Hanafi. Well, kami akhirnya memesan Indomie sebagai pengganjal perut. Wah, berada di desa ini, saya seperti berada di lautan rotan. Dimana-mana yang terlihat hanyalah rotan dan rotan. Saya juga sempat ke hutan rotannya lho, kali pertama rotan diambil dari tempat tumbuhnya. (Mau tahu, ntar aja ya…) Setelah melepas lelah sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Saat itu, saya kepingin buang air kecil. Lalu, ditunjukkanlah sebuah bangunan kotak dari kayu. Hmm oke.., pikir saya. Tetapi, begitu membuka pintu, saya sempat shock juga. Tidak ada apa-apa di di dalamnya, selain lubang persegi dari kayu yang langsung bersentuhan dengan air sungai yang kecoklatan. Dan, punten, ada bulatan-bulatan kotoran bekas orang buang air besar mengapung-apung di sana. Duh!! Seketika perasaan saya jadi campur aduk. Bukan apa-apa, saya sudah terbiasa dengan ‘kenikmatan’ kota besar soal hal-hal kecil begini. Rasanya, berat ketika harus berjongkok dan memulai kegiatan buang air kecil. Tapi, yah, memang begitu adanya. Apalagi sudah tidak bisa ditahan. Kalau pun bisa menahannya, tetap saja saya akan menemui WC yang sama khan? Dengan sebotol Aqua dan tissue, akhirnya, selesai sudah kegiatan saya di ruang sempit itu. Hehehe…lega deh ! Teman-teman saya dari Jakarta, hanya tersenyum-senyum saja. Hmm…belum tahu mereka. Tunggu aja gilirannya. Kami pun melanjutkan perjalanan kami. Tambah jauh ke dalam Sungai Barito, pemandangannya semakin indah dan asri. Sumber : Kompas Peta Lokasi : Add as favourites (38) | Quote this article on your site | Views: 799 | Cetak | E-mail
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
|||||||||
| < Sebelumnya |
|---|







| Surga Buah Itu Berna... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:44 More... |
| By Sennioritta 214447 |
| Surga Buah Itu Berna... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:44 More... |
| By Sennioritta 214435 |
| Ketika Orang Kota Me... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214411 |
| Pesona Hening Pantai... |
|
Comment 22 2144 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214402 |
| Pesona Hening Pantai... |
|
Comment 22 2143 06c089e [URL=http://475.07gkjiw.az.... |
| 23/11/08 03:43 More... |
| By Sennioritta 214333 |