Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here: Home arrow Internasional arrow Afrika arrow Mangga Soekarno dan Piramid
Mangga Soekarno dan Piramid PDF Cetak E-mail
(1 vote)
Mangga Sukarno ditanam di Padang Gurun? Oleh Orang Mesir? Dijual ke Eropa dalam window market yang hanya 40 hari? Off season? Kenyataan tersebut membuatku terkejut, terhenyak, masygul, jengkel tetapi juga takjub dan salut. Betapa tidak. Mangga manalagi yang dulu dibawa oleh Sukarno sebagai buah tangan untuk Presiden Gamal Abdul Naser, sekarang malah menjadi komoditas ekspor bagi negeri yang pernah diperintah oleh Perdana Menteri Yoseph bin Jehuda. Sayangnya, saat mengunjungi kebun mangga tersebut aku terpisah dari teman yang bawa kamera. Jadi aku tak punya fotonya.

Ketika kami sampai, subuh baru saja lewat. Mentari masih belum muncul, meski terang sudah menyapa di sebelah timur. Lampu-lampu bandara masih bersinar. Taxi yang membawa kami pun masih menyalakan lampu. Perjalanan dari bandara ke hotel kira-kira sejauh Cengkareng ke Pancoran. Tiga puluh lima menit saja. Sepi. Itulah kesan pertama saya tentang Kairo. Namun kesan itu ternyata kemudian keliru. Sebab Kairo tak beda dengan Jakarta, Bangkok, Manila dan kota-kota metropolitan lainnya. Sibuk, macet dan penuh dengan polusi.

Kami segera saja check in di hotel. Helnan Shepheard Hotel terletak di tikungan jalan, tepat menghadap Sungai Nil. Kamar saya menghadap pusat Kota Kairo. Dari jendela saya bisa menyaksikan Sungai Nil dengan beberapa jembatan yang menyeberanginya dan Menara Kairo yang menjulang berwarna abu-abu. Menara Kairo terlihat gagah menjulang. Segera saja saya ingat Monas di Jakarta sana.

Karena workshop baru akan dimulai esok harinya, kami pakai hari ini untuk berkunjung ke Piramid. Kami menyewa taksi bertiga, saya, Pak Udin (Kepala Balai Penelitian Sayur-sayuran) dan Suzuki San (Kepala Cabang AVRDC Thailand). Kami harus tawar-menawar dengan sopir taxi, sampai akhirnya kami setuju dengan harganya. Kami masing-masing harus merogoh kantong sebesar $23 untuk bisa melihat Piramid dan keliling Kairo.

Papirus

Kami dibawa dari Hotel ke pasar tradisional. Pasar ini tidak berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia –sibuk dan aktif. Sopir kami turun dan kembali dengan membawa tiga gelas jus berwarna hijau muda. ‘Minum ini. Ini hanya ada di Mesir.’ Kami segera meneguk habis jus dari gelas. Segar. Rasanya seperti jus tebu. ‘Enak?’ Kami serentak mengangguk. ‘Ini jus papirus’ katanya.

Setelah berjalan kira-kira 10 menit, kami singgah di Musium Papirus. Sebenarnya tempat ini bukanlah musium dalam arti sebenarnya. Ini adalah toko souvenir yang -supaya menarik, diberi nama Papyrus Musium. Layaknya sebuah musium, kami mendapat tour guide yang menjelaskan sejarah papirus.

Mula-mula dijelaskannya betapa pentingnya tanaman papirus bagi orang Mesir Kuno. Batangnya yang segitiga menggambarkan hubungan matahari, manusia dan Sungai Nil. Orang Mesir Kuno percaya bahwa ketiga hal tersebut tak bisa dipisahkan. Bunganya yang bulat dengan daun-daun yang menjulai menunjukkan matahari (Ra adalah nama dewa orang Mesir Kuno). Kalau matahari adalah dewa agung, Sungai Nil adalah Anak Allah yang memberi hidup.

Mungkin inilah gagasan tentang Anak Allah pertama kali muncul, sebelum dipakai oleh Orang Kristen untuk memaknai Yesus Kristus. Batang papirus yang manis juga menjadi sumber karbohidrat bagi penduduk di sekitar sungai pada saat itu.

Setelah selesai menjelaskan tanaman yang tumbuh di tepi Sungai Nil, guide kami segera mempraktekkan cara membuat papirus. Dipotongnya sebatang papirus, dibuang kulit luarnya yang berwarna hijau, dimintanya kami untuk mematahkan. Kres... patah dengan mudah. Kemudian diambilnya batang yang lain, dikupas, dipukul-pukul dengan palu kayu. Dimintanya kami untuk memutuskannya.

Kami tidak berhasil. Dia tersenyum dan berkata ’ajaib kan?’ Batang papirus yang telah pipih ditata menjadi lembaran kertas dan diletakkan diantara dua buah kain lalu dipres dengan batu. Sambil bercanda, ia menjelaskan bahwa dulu, salah satu tugas dari istri adalah menduduki batu tersebut.

Untuk mendapatkan kualitas papirus yang baik, diperlukan pengepresan yang lama dan dalam kondisi kelembaban yang tepat. Yang artinya sang istri harus duduk berjam-jam setiap harinya selama berminggu-minggu diatas batu tersebut.

’Dahulu, kertas papirus hanya dipakai untuk menulis (dalam hieroglyphs) hal-hal yang sakral saja. Misalnya kisah penciptaan. Atau kisah tentang apa yang terjadi setelah manusia mati. Dia kemudian membawa beberapa lembar kertas papirus yang sudah ada gambarnya dan menjelaskannya satu per satu kepada kami.

Dan, ’anda bisa memiliki yang ini dengan membayar $200’. Wow... Itulah akhir dari tour kami di Musium Papirus. Dalam perjalanan selanjutnya, kami mampir ke tempat penenun karpet dari bulu unta. Karpetnya halus, namun diluar budget kami untuk membawanya sebagai oleh-oleh. Bahkan ukuran yang paling kecil sekalipun. Segera saja kami meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke Piramid.

Piramid Giza

Komplek piramid Giza terdiri dari tiga piramid besar, yaitu Kufru, Khafre dan Menkaure. Masing-masing piramid ini tersusun lebih dari dua juta batu dengan masing-masing batu seberat kira-kira 2 ton. Dari ketiganya, pyramid Khafre adalah yang masih memakai topi. Piramid Kufru adalah yang terbesar. Di dalam pyramid ini terdapat ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai kuburan para firaun.

Sphinx

Salah satu obyek yang menakjubkan di area Piramid Giza adalah Sphinx. Si Singa berkepala manusia itu anggun mendekam di depan piramid Khafre. Konon Sphinx adalah gambaran dari sang Raja Khafre. Jika kita lihat dengan teliti, Patung Sphinx kehilangan jenggot dan ujung hidungnya. Kedua bagian yang gripis itu disebabkan keganasan orang Eropa yang memenggalnya. Jenggotnya sekarang ini tersimpan di British Musium, di London, Ingrris. Sedangkan ujung hidungnya konon rusak akibat ditembak oleh tentaranya Napoleon. Kapan ya jenggotnya dikembalikan, sehingga Sang Sphinx akan kelihatan lebih anggun?

Musium Kairo: Mumi dan Kumbang Skarabid

Ternyata tak perlu waktu lama untuk menjelajahi Piramid Giza. Tengah hari kami sudah kembali ke Hotel. Masih ada waktu luang untuk dimanfaatkan. Kebetulan ada teman dari New Zailand yang berminat untuk ke Musium Kairo.

Meski kaki telah penat, namun kesempatan penting ini harus diambil. Kami jalan kaki saja dari hotel, karena hanya kira-kira 10 menit saja. Setelah membayar tiket masuk sebesar $25 (mahal juga), kami masuk ke dalam musium. Musium Kairo sungguh besar. Terdiri dari dua sayap yang masing-masing empat lantai. Mula-mula saya menuju ke sayap kiri yang memuat sejarah mesir kuno. Berbagai patung dan dinding bergambar heliograf tertata rapi dengan penjelasan dalam Bahasa Inggris dan Arab. Pada umumnya adalah patung para Firaun dari bahan batu granit. Namun menjelang akhir lorong, ada juga patung-patung dari jaman Romawi. Pokoknya kita disuguhi perjalanan sejarah Mesir sepanjang 3000 tahun.

Selanjutnya saya ke lantai atas, dimana para mumi pada tidur. Kebanyakan mumi masih tersimpan rapi di dalam peti kayu dengan topeng wajah asli dari beliau yang dimumikan. Beberapa mumi sudah terbuka dan kita bisa menyaksikan kulitnya yang sudah keriput diantara gulungan kain kafannya.Saya baru tahu bahwa bukan hanya raja-raja atau keluarganya saja yang dimumikan. Namun hewan-hewan peliharaan mereka juga dimumikan. Ada buaya, kucing, anjing, kuda dan berbagai binatang lain yang terbungkus rapi dengan kain. Mumi binatang-binatang tersebut juga ada yang dibuatkan peti dari kayu, sesuai dengan bentuk aslinya.

Menurut penjelasan, orang Mesir Kuno memumikan para pemimpinnya karena mereka akan hidup dalam dunia berikutnya. Mereka membutuhkan raganya untuk hidup di dunia berikutnya. Demikian juga dengan barang-barang yang dimilikinya. Namun, mereka tidak membutuhkan otak dan jantung. Sehingga dua bagian ini dikeluarkan dari tubuhnya sebelum dimumikan dan dibuang. Sedangkan isi perut, yang konon masih dibutuhkan, dikeluarkan dari tubuh dan disimpan dalam tempayan yang diletakkan dekat dengan muminya.

Pagi ke Giza dan siang menjelajahi 3000 tahun perjalanan Bangsa Mesir membuat kaki saya kesemutan. Saya memutuskan kembali ke hotel karena sudah kecapaian. Waktu untuk berkunjung juga sudah habis. Musium segera tutup. Wah sayang, karena sayap kanan, yang memuat makam Raja Tutankhamen belum lagi tersentuh. Untunglah saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Musium Kairo sekali lagi.

Segera saja saya ke sayap kanan dan langsung menuju ke makam Raja Tutankhamen. Makam Raja Tut menempati dua lantai dari sayap kanan. Konon makam ini diangkut dari dalam piramid dan dipindahkan seluruhnya. Mula-mula saya disuguhi peti kayu berukuran kira-kira 10 X 20 m. Peti ini dihias dengan warna dominan biru. Di beberapa bagian dilapis dengan emas lempengan. Di dalam peti ini saya melihat bebagai barang milik Raja Tut. Hampir semuanya dari emas atau dari batu permata. Ada juga mumi anjing.

Berikutnya saya menyaksikan peti yang ukurannya lebih kecil. Menurut cerita, peti ini berada di dalam peti yang pertama. Peti ini juga terbuat dari kayu dengan dominasi warna biru dan lapisan emas. Di dalamnyapun kita bisa dapatkan barang-barang milik Raja Tut yang lainnya. Selanjutnya adalah peti ketiga yang ukurannya lebih kecil dari peti kedua. Bentuk, warna dan ornamennya mirip dengan peti yang pertama dan kedua. Di dalamnya juga diletakkan barang-barang yang merupakan milik Raja Tut. Sampai akhirnya saya temukan mumi Raja Tut yang masih terbaring tenang di dalam peti kayu berwarna biru dengan wajah yang menyunging senyum.

Saya baru sadar bahwa ada satu binatang yang menurut saya tidak penting, tetapi mendominasi diantara mumi-mumi, termasuk mumi Raja Tut. Yaitu kumbang Skarabid. Si kumbang pendorong kotoran. Patung-patung kecil kumbang Skarabid tersebar dimanamana. Ada yang terbuat dari emas, ada juga yang terbuat dari batu permata berwarna biru atau hijau. Bahkan kapal yang membawa saya berlayar di Sungai Nil untuk makan malam juga bernama ’Scarabee’.

Teman saya yang lebih paham tentang Mesir menjelaskan Kumbang Skarabid sangat penting karena dianggap binatang yang bisa menggerakkan matahari. Lho... Binatang ini mendorong kotoran yang dibentuknya menjadi bulatan seperti matahari. Dialah satu-satunya binatang yang mendorong bulatan (matahari). Oooo...sekarang saya menjadi jelas. Saktinya kumbang Skarabid. Dialah yang menggerakkan Sang Dewa Ra.

Kebun buah di Padang Gurun


Karena yang saya hadiri adalah workshop tentang hortikultura, tentang tanaman sayuran, buah-buahan dan tanaman obat, maka ada juga acara untuk menyaksikan pertanian di padang gurun. Kami naik bus menuju ke Alexandria. Kira-kira 120 km dari Kairo, arah ke Alexandria, kami mulai menyaksikan kebun-kebun hijau diantara padang pasir. Kami membelok dan masuk ke salah satu kebun.

Di kebun pertama kami menyaksikan tanaman anggur yang mulai berbuah. Pemiliknya adalah orang Mesir, sedangkan ahlinya berasal dari Chilie. Ketika saya tanyakan berapa ton/ha kebunnya bisa menghasilkan, si empunya kebun tersenyum dan menjelaskan: ”Kami tidak menghitung ton per ha. Sebab kami tak punya soal dengan lausnya lahan. Ini padang gurun. Siapa saja boleh menanam disini. Kami menghitung berapa kg produk per liter air yang kami gunakan. Sebab kendala utamanya adalah air. Sangat sulit untuk mendapatkan air tawar di gurun ini. Sering yang kami dapat adalah air dengan pH yang sangat tinggi. Jadi kami menghitung produksi berdasarkan air yang kami pakai” jelasnya. Benar juga ya.

Selain masalah air, masalah menentukan masa panen adalah masalah yang harus sangat diperhatikan. Sebab mereka hanya mempunyai waktu memasarkan anggur ke Eropa 35 hari saja. Yaitu saat sebelum anggur dari Eropa dan Amerika Latin membanjiri Eropa. Jika terlambat, maka mereka tidak bisa bersaing harga. Bayangkan, mereka harus membuat tanaman anggur berbuah dalam waktu yang ditentukan. Tidak boleh meleset seharipun.

Selain memproduksi anggur, kebun yang kami kunjungi ini juga memproduksi sayuran. Bawang bombai dan buncis adalah dua jenis sayuran utama yang mereka hasilkan. Penanaman sayuran ini adalah untuk supaya mereka bisa terus berproduksi sepanjang tahun. Maklum untuk memproduksi anggur hanya diberi waktu 35 hari saja oleh orang Eropa.

Setelah puas berbincang, kami pindah ke kebun lainnya. Di kebun ini ditanam jeruk dan mangga Sukarno. Mangga Sukarno? Ya mangga Sukarno. Disebut mangga Sukarno karena bibitnya dikembangkan dari mangga manalagi yang dihadiahkan oleh Sukarno kepada Presiden Gamal Abdul Naser. Juga dijual ke Eropa? Ya. Dalam waktu yang hanya 40 hari saja dalam setahun. Mangga yang tinginya hanya satu setengah meter itu dipenuhi oleh calon buah yang siap dijual ke Eropa pada Bulan Januari. Wah ini keterlaluan.

Masak dengan keterbatasan alam dan pasar mereka bisa memproduksi, sementara kita yang dimanja alam tak bisa? Ibaratnya biji mangga yang dilempar ke tepi jalan saja bisa tumbuh dan berbuah. Koes Plus mengatakan ’tongkat kayu dan batu jadi tanaman’. Seandainya Indonesia bisa...

Makan Malam Di Sungai Nil


Pada malam terakhir, kami diajak untuk menikmati makan malam di Sungai Nil. Kami masuk ke restoran yang berupa kapal. Setelah soft drink dihidangkan, kami disuguhi nyanyian berbahasa Arab oleh seorang biduan yang gemuk namun cantik. Mula-mula lagu datar yang dinyanyikan. Setelah kapal melaju di tengah sungai, lagu yang didendangkan pun semakin riang. Sang biduan tidak hanya menyanyi tapi juga meliukliukkan badannya memperagakan tari perut yang dinamis.

Setelah beberapa lagu kami diberi kesempatan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan. Selanjutnya, pada perjalanan pulang, kami disuguhi tarian putar. Kali ini peraganya adalah seorang pria. Dia menari dengan menggunakan kain yang berbentuk lingkaran yang dililitkan di badan atau diangkatnya di atas kepalanya sambil terus berputar supaya kain tersebut terus mengembang dan tidak melorot.

Bulan mengantung diatas Sungai Nil. Bersaing dengan pijar lampu-lampu Kota Kairo. Malam telah larut ketika kami turun dari Kapal ’Scarabee’ yang menyuguhkan nyanyian, tarian dan makanan. Selamat malam Sungai Nil, selamat malam Nabi Musa. Insyaallah kita bertemu lagi.

Sukron. (foto dibuat secara bergantian oleh Pak Udin, Suzuki San dan saya, dengan menggunakan kamera Suzuki San).

Penulis : Handoko Widagdo - Solo
Sumber: Kompas Community
Foto : Handoko Widagdo

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...

Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:

Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

atau login di liburan.info dan klik menu submit news.

Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Guide Anda di Liburan.Info

Mencari Sesuatu ?

Iklan di Liburan


Indonesia Joomla Topsites

Indonesia Joomla Topsites

Page Rank Check

 

Ads @ Liburan

liburan ke turki murah

liburan pulau macan pulau seribu

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 1 tamu online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village

Alexa Traffic Stats