Skip to content
Site Tools
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color blue color green color
You are here:
Prasasti Jambu di Leuwiliang PDF Cetak E-mail
(9 votes)
Berawal dari perjalanan iseng menuju lokasi tambang emas di daerah Pongkor, sepulang dari objek wisata Gua Gedawang, penulis tanpa sengaja membaca papan penunjuk objek wisata Prasasti Batutulis Jambu. Dari literatur yang pernah penulis baca, memang ada petunjuk bahwa terdapat prasasti lain peninggalan kerajaan Tarumanegara yang berkaitan erat dengan Prasasti Ciaruteun.

Hanya saja lokasi dimana objek prasasti itu sebenarnya berada masih dalam tanda tanya besar karena minimnya informasi. Untunglah dalam perjalanan kali ini berhasil menemukan petunjuk akan keberadaan lokasi prasasti tersebut, terlebih jarak yang tercantum menyatakan angka 700 meter, suatu jarak yang tidaklah jauh.

Sempat bingung untuk memarkirkan mobil mengingat tidak adanya areal parkir, dan jalan yang akan dilalui langsung berupa gang kecil diantara pemukiman penduduk. Akhirnya diputuskan untuk memarkirkan mobil ditepi jalan utama, dan aktivitas perjalanan menuju lokasipun segera dimulai.

Awal perjalanan dimulai dari gang kecil diantara rumah penduduk, kemudian beralih ke areal perkebunan dan sawah. Sering bertanya kepada penduduk setempat akan letak prasasti perlu dilakukan, karena praktis tidak ada lagi penunjuk arah. Untungnya meskipun terkadang berjalan di antara pepohonan, signal GPS masih cukup kuat sehingga bisa dilakukan track record terhadap jalan yang telah dilalui.

Sempat terkejut pula setelah bertanya dimana lokasi prasasti tersebut, seorang ibu petani menunjukkan suatu bangunan yang cukup jauh letaknya dipuncak bukit. Kepalang basah, perjalanan sudah dilakukan maka tidak ada istilah kembali, kecuali setelah sampai ditempat tujuan. Perjalananpun dilanjutkan dan kontur jalan mulai berubah menanjak setiba dikaki bukit. Meskipun sempat tersesat di kebun rumput gajah penduduk, namun akhirnya berhasil juga mencapai tujuan dengan sedikit terengah-engah.

Prasasti Jambu terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Hal yang menggembirakan adalah adanya proses renovasi yang hampir selesai dilokasi tersebut sehingga areal sekitar prasasti terlihat rapi dan tidak ada sampah seperti yang acapkali kita lihat di objek-objek wisata lainnya. Panorama perbukitan dengan hembusan angin dan udara yang sejuk, cukup menjadikan objek wisata ini terasa nyaman dikunjungi.

Sentral objek wisata ini berupa sepasang tapak kaki yang tercetak pada sebuah batu dengan dua baris huruf Palawa, mirip sekali dengan Prasasti Ciaruteun. Bedanya, batu yang digunakan pada Prassasti Ciaruteun adalah batu kali/sungai berwarna hitam sedangkan Prasasti Jambu menggunakan jenis batu yang mirip batuan andesit namun berwarna putih kecoklat-coklatan. Hali lain, asal mula Prasasti Jambu memang terletak di puncak bukit, sedangkan Prasasti Ciaruteun berada di pinggir sungai yang kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi.

Adapun dua baris prasasti yang tercetak di batu tersebut berbunyi:

"shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam".

Dengan terjemahan menurut Vogel :

"Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya".

Jelas sekali bahwa prasasti itu berisi pemujaan terhadap kehebatan dan kesaktian Raja Purnawarman dalam peperangan-peperangan yang berlangsung pada masa itu.

Kurang lebih dari Prasasti Jambu juga terdapat batu besar yang menurut pemandu setemapt merupakan batu tempat mengasah peralatan perang/pedang dari Raja Purnawarman. Terlihat jelas pada sisi bagian atas dari batu terebut, bekas gesekan dengan benda lain, mirip seperti yang sering kita lihat pada permukaan batu untuk mengasah pisau dapur.

Sayangnya pada sisi-sisi batu ini, banyak sekali dijumpai coretan-coretan yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab akan kelestarian benda purbakala.

Penulis : Silhouette
Lokasi : Pasir Gintung, Leuwiliang, Bogor
Fotografer : Silhouette
Sumber : Navigasi.net

Peta Lokasi :


Salam hangat dari Liburan.Info...

Teman-teman pembaca Liburan.Info di Indonesia dan Seluruh dunia, silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan di sekitar anda dan perjalanan-perjalanan anda atau artikel-artikel yang terkait dengan pariwisata di Indonesia dan dunia bahkan tempat-tempat makan yang enak-enak dimanapun anda berada. Kirimkan artikel dan foto anda langsung melalui email:

Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya atau Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

atau login di liburan.info dan klik menu submit news.

Salam Liburan Indonesia...

Comments
Search RSS
ian   |2010-05-01 16:58:57
wah keren biar cm sedikit situs-t tp sangat berkesan tulisan-y...mantap

lain x mo donk diajak tuk wisata ketmpt purbakala,liburan + belajar....
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Pesan Disini !!!

Advertisement @ Liburan

paket liburan natal dan tahun baru 2011

Masuk Disini

Siapa yang Online ?

Saat ini ada 2 tamu dan 2 anggota online

Pegunjung Liburan

Pengunjung Liburan.Info

Orang

Rekan Liburan.Info

Indonesia Corporate Travel Agent
Indonesia Security Device Provider
The Green Village